Kenali Gejala Penyakit Pneumonia

Penyakit Pneumonia

Pengertian Tentang Penyakit Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi yang menyerang satu atau kedua paru-paru. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan pada jaringan dan kantung udara di paru-paru, sehingga kantung udara dipenuhi oleh cairan atau nanah.

Gejala yang terjadi ketika infeksi tersebut menyerang adalah batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas.

Penyakit yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur ini bisa berdampak serius pada bayi dan anak kecil, orang yang berumur lebih dari 65 tahun, dan orang dengan masalah kesehatan atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Gejala

Gejala dari pneumonia bervariasi mulai dari yang ringan hingga parah, tergantung kepada kondisi awal dan umur penderita, serta tipe organisme yang menyebabkan penyakit.

Gejala ringan pneumonia kurang lebih sama seperti gejala pilek dan flu, tapi berlangsung lebih lama.

Berikut adalah gejala pneumonia:

• Dapat berupa batuk kering atau berdahak yang berwarna kekuningan, hijau atau coklat, kadang dengan bercak darah.
• Kesulitan bernapas. Napas penderita akan lebih cepat dan lebih pendek daripada normalnya. Penderita akan • merasa kesulitan bernapas, bahkan ketika tidur
• Detak jantung yang cepat
• Demam
• Merasa tidak enak badan
• Berkeringat dan menggigil
• Kehilangan nafsu makan
• Nyeri dada dan akan memburuk ketika batuk atau bernapas
• Mudah lelah
• Mual dan muntah

Penyebab

Banyak kuman yang dapat menyebabkan pneumonia. Tetapi yang paling umum menyebabkan pneumonia adalah bakteri dan virus yang tersebar di udara.

Salah satu virus yang menyebabkan pneumonia adalah virus corona, virus yang juga menyebabkan penyakit SARS dan MERS.

Pada umumnya tubuh akan melawan kuman yang menginfeksi paru-paru. Tetapi terkadang kuman tersebut lebih kuat daripada sistem kekebalan tubuh kita.

Inilah sebabnya anak kecil, lansia, serta mereka dengan kekebalan tubuh yang rendah memiliki risiko yang lebih tinggi terkena pneumonia.

Pneumonia dikategorikan berdasarkan jenis kuman dan dari mana Anda tertular infeksi tersebut.

Berikut adalah penyebab pneumonia berdasarkan jenis kuman:

• Pneumonia bakteri. Bakteri penyebab pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Legionella pneumophila.
• Pneumonia virus. Virus influenza atau virus flu serta Coronavirus dapat menyebabkan komplikasi menjadi pneumonia. Biasanya, pneumonia jenis ini lebih ringan dan penderita dapat sembuh dengan pengobatan di rumah dalam waktu satu hingga tiga minggu.
• Pneumonia jamur. Beberapa jenis jamur dapat menyebabkan pneumonia, terutama pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Contoh jamur penyebab pneumonia ini adalah Pneumocystis jirovecii, spesies Cryptococcus, dan spesies Histoplasmosis.

Selain daripada jenis kuman, berikut adalah pneumonia berdasarkan kategori penularannya:

1. Community-acquired pneumonia

Pneumonia yang didapat di lingkungan. Ini adalah jenis pneumonia yang paling umum. Pneumonia jenis ini bisa disebabkan oleh:

• Bakteri yang menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae. Tipe pneumonia ini terjadi dengan sendirinya atau setelah penderita mengalami pilek dan flu. Bakteri tersebut dapat memengaruhi salah satu bagian paru-paru.
• Organisme mirip bakteri. Mycoplasma pneumoniae juga dapat menyebabkan pneumonia. Memiliki gejala yang lebih ringan daripada jenis pneumonia lainnya.
• Jamur. Pneumonia tipe ini adalah yang paling sering diderita oleh orang yang memiliki masalah kesehatan atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan orang yang menghirup organisme dalam jumlah besar. Jamur yang menyebabkan pneumonia dapat ditemukan di tanah atau kotoran burung.
• Virus. Beberapa virus dapat menyebabkan pilek dan flu yang dapat menyebabkan pneumonia. Virus adalah penyebab utama pneumonia pada anak dibawah 5 tahun. Virus pneumonia biasanya ringan, tetapi dalam beberapa kasus bisa menjadi serius.

Selain daripada jenis kuman, berikut adalah pneumonia berdasarkan kategori penularannya:

1. Community-acquired pneumonia

Pneumonia yang didapat di lingkungan. Ini adalah jenis pneumonia yang paling umum. Pneumonia jenis ini bisa disebabkan oleh:

Bakteri yang menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae. Tipe pneumonia ini terjadi dengan sendirinya atau setelah penderita mengalami pilek dan flu. Bakteri tersebut dapat memengaruhi salah satu bagian paru-paru.
Organisme mirip bakteri. Mycoplasma pneumoniae juga dapat menyebabkan pneumonia. Memiliki gejala yang lebih ringan daripada jenis pneumonia lainnya.
Jamur. Pneumonia tipe ini adalah yang paling sering diderita oleh orang yang memiliki masalah kesehatan atau sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan orang yang menghirup organisme dalam jumlah besar. Jamur yang menyebabkan pneumonia dapat ditemukan di tanah atau kotoran burung.
Virus. Beberapa virus dapat menyebabkan pilek dan flu yang dapat menyebabkan pneumonia. Virus adalah penyebab utama pneumonia pada anak dibawah 5 tahun. Virus pneumonia biasanya ringan, tetapi dalam beberapa kasus bisa menjadi serius.
2. Hospital-acquired pneumonia

Pneumonia yang didapat di rumah sakit. Beberapa orang dapat terkena pneumonia selama dirawat di rumah sakit karena penyakit lain. Pneumonia jenis ini dapat menjadi serius karena bakteri yang menyebabkan penyakit ini lebih resisten terhadap antibiotik. Pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan, seperti ventilator yang digunakan di ICU, berisiko lebih tinggi terkena pneumonia jenis ini.

3. Health care-acquired pneumonia

Pneumonia yang didapat dari perawatan kesehatan. Infeksi bakteri yang terjadi pada individu yang tinggal di fasilitas perawatan kesehatan dalam jangka panjang atau yang menerima perawatan di klinik rawat jalan, termasuk pusat dialisis ginjal

4. Pneumonia aspirasi

Pneumonia aspirasi terjadi ketika Anda menghirup makanan, minuman, muntah, atau air liur ke paru-paru. Aspirasi dapat terjadi jika sesuatu yang mengganggu refleks muntah normal Anda, seperti adanya cedera otak, gangguan menelan, penggunaan alkohol maupun obat terlarang.

Faktor Risiko Pneumonia

Risko pneumonia perlu lebih diwaspadai pada sebagian orang, yaitu:

• Anak berusia 2 tahun atau lebih muda.
• Lansia berumur 65 tahun atau lebih.
• Pasien rawat inap di rumah sakit. Orang akan berisiko terkena pneumonia jika orang tersebut dirawat di rumah sakit, terutama jika orang tersebut menggunakan mesin yang membantu pernapasan.
• Penderita penyakit kronis. Risiko lebih tinggi pada pasien penderita asma, penyakit paru-paru kronis atau penyakit jantung.
• Perokok. Merokok merusak sistem kekebalan tubuh yang melawan bakteri dan virus yang menyebabkan pneumonia.
• Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun. Orang dengan HIV/AIDS, pernah melakukan transplantasi ginjal, menerima kemoterapi, atau mengikuti perawatan steroid jangka panjang berisiko terkena pneumonia.

Diagnosis

Dokter umum dapat melakukan diagnosis terhadap penyakit pneumonia dengan menanyakan gejala dan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan paru-paru. Beberapa tes lebih lanjut dibutuhkan dalam beberapa kasus.

Pneumonia bisa sulit didiagnosis karena memiliki gejala yang sama dengan kondisi lain seperti, pilek, bronkitis dan asma.

Berikut adalah pertanyaan yang mungkin ditanyakan:

• Apakah Anda merasakan sesak napas atau bernapas lebih cepat dari biasanya
• Berapa lama Anda batuk, dan apakah Anda mengalami batuk berdahak yang berwarna
• Apakah Anda merasa sakit pada daerah dada ketika menarik dan menghembuskan napas

Dokter umum juga mungkin akan memeriksa temperatur penderita dan mendengarkan dada depan dan belakang dengan stetoskop atau mengecek detak jantung.

Paru-paru yang terkena infeksi mengeluarkan suara yang berbeda dengan paru-paru yang sehat, sepeerti suara berderak dan gemuruh ketika Anda menarik napas.

Selain itu dokter akan menganjurkan berbagai pemeriksaan penunjang, seperti:

• Tes darah untuk memastikan infeksi dan mengidentifikasi kuman penyebab penyakit
• Rontgen dada untuk mencari lokasi dan luasnya peradangan di paru-paru Anda
• Oksimetri untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah Anda
• Tes dahak pada pemeriksaan sampel lendir (sputum) untuk membantu menentukan penyebab infeksi

Jika Anda dianggap sebagai pasien yang memiliki risiko tinggi karena usia dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, dokter mungkin akan melakukan beberapa tes tambahan, seperti:

• CT scan dada. Pemeriksaan untuk mendapatkan tampilan paru-paru yang lebih baik atau mencari komplikasi lainnya
• Analisa gas darah. Tes ini untuk mengukur jumlah oksigen dalam sampel darah yang diambil dari arteri. Tes ini lebih akurat dariada dengan menggunakan oksimetri
• Kultur cairan pleura. Tes ini dengan mengeluarkan sejumlah kecil cairan dari sekitar jaringan yang mengelilingi paru-paru untuk mengidentifikasi bakteri penyebab pneumonia
• Bronkoskopi. Prosedur pemeriksaan untuk melihat saluran udara paru-paru

Pengobatan

Pneumonia ringan dapat disembuhkan di rumah dengan:

• Mendapatkan banyak istirahat
• Minum antibiotik apabila penyebab pneumonia adalah bakteri
• Minum banyak cairan

Jika penderita tidak memiliki masalah kesehatan lain, penderita akan cepat pulih setelah mendapatkan perawatan meski batuk masih bertahan selama beberapa waktu.

Bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga kurang atau tidak dapat melawan infeksi, lebih baik menjaga jarak dari orang dengan pneumonia agar mengurangi risiko penularan.

Obat resep untuk pneumonia
Tergantung pada jenis kuman penyebab pneumonia, dokter dapat meresepkan obat yang sesuai.

Pada kasus pneumonia bakteri, dokter biasanya akan merekomendasikan pengobatan dengan antibiotik. Tentunya pengobatan ini harus dilakukan dengan arahan dokter, karena obat antibiotik perlu disesuaikan dosis dan cara pemakaiannya.

Antibiotik tidak dapat mengobati pneumonia yang disebabkan oleh virus. Apabila diperlukan, dokter mungkin bisa merekomendasikan obat antiviral. Namun, biasanya penderita dapat sembuh dengan pengobatan di rumah dan istirahat yang cukup.

Pencegahan

• Tutup mulut atau hidung dengan sapu tangan atau tisu saat bersin atau batuk
• Membuang tisu yang sudah digunakan. Kuman dapat hidup selama beberapa jam setelah dia meninggalkan mulut atau hidung
• Cuci tangan sesering mungkin untuk menghindari kuman berpindah ke orang lain atau benda lain
• Mendapatkan vaksinasi. Vaksin berfungsi untuk mencegah beberapa tipe pneumonia dan flu
• Pastikan daya tahan tubuh kuat dengan menjaga pola hidup sehat

Gaya hidup yang sehat juga dapat mencegah pneumonia. Contohnya, menghindari merokok karna dapat merusak paru-paru dan meningkatkan risiko terkena infeksi.

Kapan Harus Berkonsultasi Ke Dokter

Penderita harus menemui dokter apabila mengalami kesulitan bernapas, sakit pada dada, demam menetap pada suhu 390C atau lebih tinggi, batuk yang tidak kunjung sembuh.

Berikut adalah orang yang disarankan untuk menemui dokter:

• Orang dewasa yang berumur lebih dari 65 tahun
• Anak-anak dibawah 2 tahun dan mengalami gejala pneumonia
• Orang dengan kondisi kesehatan tertentu atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah
• Orang yang menerima kemoterapi atau mengonsumsi obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh

Apa yang perlu dipersiapkan sebelum berkonsultasi dengan dokter :

• Tanyakan apabila ada hal yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum bertemu dokter dan melakukan tes seperti misalnya harus berpuasa sebelum melakukan tes darah
• Tuliskan gejala yang dialami, meskipun dianggap gejala yang tidak berhubungan dengan alasan mengunjungi dokter
• Tuliskan informasi pribadi
• Tuliskan obat, vitamin dan suplemen yang dikonsumsi
• Tuliskan pertanyaan yang akan diajukan

Apa yang akan dilakukan dotker pada saat konsultasi :

• Kapan Anda mulai mengalami gejala pertama?
• Apakah Anda pernah mengalami pneumonia sebelumnya? Jika iya, paru-paru bagian mana?
• Apakah gejala berlanjut atau hanya pada saat tertentu? Seberapa parah gejalanya?
• Apakah ada yang memperbaiki atau memperburuk gejala?
• Apakah Anda merokok atau pernah merokok sebelumnya?
• Apakah Anda pernah mengalami flu atau menerima vaksin pneumonia?

Gejala Penyakit Virus Corona

Penyakit Corona

Corona virus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Gejala Virus Corona

Infeksi virus Corona bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti hidung berair dan meler, sakit kepala, batuk, nyeri tenggorokan, dan demam, atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada.

Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

-Demam
-Batuk
-Sesak napas

Menurut penelitian, gejala infeksi virus Corona muncul dalam 2 hari sampai 2 minggu setelah paparan virus Corona.

Kapan harus ke dokter?

Segera ke dokter bila Anda mengalami atau menemukan gejala virus Corona pada orang lain seperti yang disebutkan di atas, terutama jika gejala muncul 2 minggu setelah kembali dari Cina atau negara lain yang positif terinfeksi. Orang yang dicurigai terinfeksi virus Corona harus segera dirujuk ke IGD rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan yang tepat.

Penyebab Virus Corona

Infeksi virus Corona disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti MERS, SARS, dan pneumonia.

Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, kemudian diketahui bahwa coronavirus juga menular dari manusia ke manusia.

Seseorang dapat terinfeksi coronavirus melalui berbagai cara, yaitu:

Tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita virus Corona.
Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh benda yang terkena air liur penderita.

Kontak jarak dekat dengan penderita, seperti bersentuhan atau berjabat tangan.
Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi lebih berisiko menyerang orang tua, serta orang yang sedang sakit atau memiliki kekebalan tubuh lemah.

Diagnosis Virus Corona

Untuk menentukan apakah pasien terinfeksi virus Corona, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan bertanya apakah pasien bepergian ke wilayah endemik virus Corona sebelum gejala muncul.

Guna memastikan diagnosis virus Corona, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berikut:

– Uji sampel darah.
– Tes usap tenggorokan untuk meneliti sampel dahak.
– Rontgen dada untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru.

Pengobatan Virus Corona

Infeksi virus Corona belum bisa diobati, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan gejalanya, yaitu:

– Memberikan obat pereda demam dan nyeri. Namun, dokter tidak akan memberikan aspirin pada penderita infeksi virus Corona yang masih anak-anak.
– Menganjurkan penderita untuk mandi air hangat dan menggunakan humidifier (pelembab udara), untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan.
– Menganjurkan penderita untuk istirahat yang cukup dan jangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran virus.
Menganjurkan dan mengharuskan penderita untuk minum banyak air putih guna menjaga kadar cairan tubuh.

Komplikasi Virus Corona

Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi serius berikut ini:

– Pneumonia
– Infeksi sekunder pada organ lain
– Gagal ginjal
– Acute cardiac injury
– Acute respiratory distress syndrome
– Kematian

Pencegahan Virus Corona

Sampai saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah virus Corona. Oleh sebab itu, cara pencegahan virus corona yang terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini, yaitu:

– Hindari bepergian ke Cina atau ke negara lain yang telah ditemukan adanya penularan virus Corona.
Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bila Anda beraktivitas di tempat umum.
– Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol setelah beraktivitas di luar ruangan.
– Hindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar. Bila terjadi kontak dengan hewan, cuci tangan setelahnya.
– Pastikan Anda memasak daging sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
– Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
– Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
– Hindari berdekatan dengan seseorang yang sedang sakit.
– Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan.

Untuk seseorang yang diduga terinfeksi virus Corona, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar virus tidak menular ke orang lain, yaitu:

– Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan.
– Usahakan untuk tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
– Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh.
– Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sedang sakit.
– Hindari berbagi alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.
– Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.
– Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu buang tisu ke tempat sampah.

Penyakit Periodontitis

Penyakit-Periodontitis-660x355

Periodontitis adalah infeksi gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Kondisi ini perlu segera diobati karena dapat menyebabkan gigi tanggal. Periodontitis banyak diderita pada usia remaja.

Saat terjadi periodontitis, bakteri menumpuk sebagai plak pada pangkal gigi, sehingga merusak jaringan di sekitar gigi dan menimbulkan abses gigi, serta berisiko menyebabkan kerusakan tulang.

Gejala Periodontitis

Ada beberapa jenis periodontitis, namun yang paling umum adalah periodontitis akut yang mana sebagian penderitanya adalah orang dewasa. Seseorang yang terkena periodontitis akan merasakan gejala-gejala, seperti:

– Nyeri saat mengunyah.
– Gusi berdarah dan terasa lunak jika disentuh.
– Gusi bengkak dan berwarna merah atau keunguan.
– Gusi terasa lunak jika disentuh.
– Penumpukan plak dan karang gigi pada gigi.
– Mulut terasa tidak enak dan napas menjadi bau.
– Penyusutan gusi, sehingga ukuran gigi terlihat lebih tinggi dari biasanya.
– Keluarnya nanah pada bagian yang membatasi gigi dan gusi.
– Jarak antara satu gigi dan gigi lainnya terasa renggang.
– Gigi tanggal.
– Penyebab Periodontitis

Periodontitis disebabkan oleh radang gusi yang tidak terobati. Peradangan ini dipicu oleh penumpukan plak sehingga lambat laun membentuk karang gigi sebagai media berkembangbiaknya bakteri.

Bakteri yang awalnya hanya mengiritasi bagian gusi di sekitar gigi (gingiva), lambat laun menyebabkan terbentuknya celah atau kantong pada gusi yang memisahkan antara jaringan gusi dengan gigi sehingga menyebabkan gigi mudah tanggal. Bakteri tersebut akan menginfeksi lebih dalam lagi hingga merusak jaringan dan tulang di dalam gusi.

Selain radang gusi yang tidak terobati, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena periodontitis. Di antaranya adalah merokok, obesitas, kurang gizi, konsumsi obat-obatan yang mengurangi produksi air liur, perubahan hormon seperti saat menstruasi dan kehamilan, atau penyakit-penyakit tertentu, seperti diabetes dan leukemia.

Diagnosis Periodontitis

Diagnosis periodontitis dapat ditetapkan setelah melalui pemeriksaan gigi, termasuk memeriksa adanya perdarahan akibat plak, serta mengukur kedalaman celah antara gusi dengan gigi yang melebihi 4 mm. Sedangkan untuk mengetahui tingkat kerusakan tulang akibat periodontitis, dokter akan menggunakan pemeriksaan foto Rontgen panoramik.

Pengobatan Periodontitis

Bola Deposit Pulsa Memberitahukan pengobatan periodontitis untuk mengurangi peradangan, menghilangkan celah antara gusi dan gigi, serta mengatasi penyebab peradangan gusi tersebut. Jika periodontitis belum parah, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik minum atau topikal (berupa gel atau obat kumur) untuk menghilangkan bakteri penyebab infeksi. Selain itu, scaling atau pembersihan karang gigi juga diperlukan guna menghilangkan karang gigi dan bakteri dari permukaan gigi atau bagian bawah gusi.

Jika bakteri dan plak bertumpuk di akar gigi, maka metode root planing diperlukan untuk membersihkan dan mencegah penumpukan bakteri dan karang gigi lebih lanjut, serta menghaluskan permukaan akar.

Untuk kasus periodontitis yang berat, biasanya dokter akan menerapkan prosedur operasi. Tindakan operasi yang dilakukan dapat berupa operasi untuk mengurangi kantong atau celah gusi, operasi untuk mencangkok jaringan lunak yang rusak akibat periodontitis, operasi cangkok tulang untuk memperbaiki tulang-tulang di sekitar akar gigi yang telah hancur, serta mencabut gigi yang terkena agar tidak semakin parah dan menyerang daerah lain,.

Pencegahan Periodontitis

Periodontitis bisa dicegah dengan cara menjaga kebersihan gigi agar terbebas dari bakteri yang menyebabkannya. Gosoklah gigi tiap selesai makan atau paling tidak 2 kali sehari, yaitu di waktu pagi hari dan malam hari menjelang tidur. Gunakan sikat gigi yang lembut, dan ganti sikat gigi setelah dipakai selama 3-4 bulan. Jangan lupa untuk membersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi. Selain rajin menyikat gigi, rutinlah memeriksakan gigi ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali.

Penyakit Beri-beri

Penyakit Beri-beri

Saat belajar di sekolah, Anda mungkin sering mendengar bahwa kita harus mendapatkan cukup asupan vitamin B supaya terhindar dari penyakit beri-beri. Saking umumnya di masyarakat, penyakit ini bahkan dicap sebagai penyakit rakyat karena bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kali ini Agen judi bola deposit 50 ribu akan menjelaskan tentang penyakit beri – beri.

Apa itu penyakit beri-beri?

Beri-beri adalah penyakit yang umumnya disebabkan oleh kekurangan vitamin B1 atau tiamin. Vitamin B1 ini berfungsi sebagai koenzim pembentukan glukosa untuk menghasilkan energi dan menjaga fungsi tubuh. Sederhananya, vitamin ini berperan penting dalam proses produksi energi. Jika asupan vitamin B1 dalam tubuh tidak memadai, maka tubuh akan mudah lelah dan berisiko mengembangkan beri-beri.

Penyakit ini terdiri dari dua jenis, yaitu beri-beri basah dan beri-beri kering. Beri-beri basah memengaruhi jantung dan sistem sirkulasi tubuh, sedangkan beri-beri kering yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kelumpuhan otot.

Setiap jenis penyakit beri-beri punya tanda dan gejala khasnya masing-masing. Jika dilihat satu persatu, gejala beri-beri basah meliputi:

– Napas pendek saat beraktivitas
– Terbangun di tengah malam dengan napas ngos-ngosan
– Denyut jantung meningkat
– Kaki bengkak

Sedangkan berbagai gejala beri-beri kering yaitu:

– Penurunan fungsi otot, terutama di kaki bagian bawah
– Kaki dan tangan kesemutan, sehingga sulit berjalan
– Nyeri di sekujur tubuh
– Muntah
– Sulit berbicara
– Linglung
– Gerakan mata cepat dan tidak normal (nistagmus)
– Kelumpuhan pada kaki

Selain karena kurangnya asupan makanan sumber vitamin B1, gejala penyakit beri-beri kering maupun basah sering ditemukan pada orang yang kecanduan alkohol. Pasalnya, minum alkohol terlalu banyak dapat membuat tubuh lebih sulit menyerap dan menyimpan vitamin B1.

Perlu dicatat bahwa penyakit beri-beri bisa berakibat fatal jika tidak cepat-cepat ditangani. Ini karena gejala beri-beri berkembang cepat dan lama-lama bisa menyebabkan gagal jantung, psikosis, koma, hingga kematian.

Kapan harus ke dokter?

Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala penyakit beri-beri di atas, sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter terdekat. Terlebih jika Anda mengalami:

– Hipertiroid
– Penyakit AIDS
– Mual dan muntah parah saat hamil (hiperemesis gravidarum)
– Operasi bariatrik
– Diare tak kunjung sembuh
– Minum obat diuretik
– Menjalani cuci darah karena gagal ginjal

Maka Anda berisiko tinggi mengalami defisiensi vitamin B1. Ya, Anda mungkin saja terkena penyakit beri-beri jika tidak cepat-cepat menangani gejalanya.

Tujuan utama perawatan beri-beri adalah untuk memenuhi kebutuhan vitamin B1 yang kurang dalam tubuh. Oleh karena itu, dokter akan meresepkan suplemen tiamin, baik dalam bentuk pil atau suntikan, untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin B1 harian Anda.

Selain itu, Anda sebetulnya juga dapat memenuhi asupan vitamin B1 harian lewat makanan yang sehat dan bergizi, seperti:

– Kacang polong
– Sayur bayam
– Biji-bijian
– Daging dan ikan
– Gandum utuh
– Produk susu
– Sereal sarapan yang diperkaya dengan tiamin

Semakin cepat gejala penyakit beri-beri dideteksi dan ditangani, maka semakin besar peluang kesembuhannya. Ya, ini termasuk juga kerusakan saraf dan jantung akibat beri-beri sangat bisa dipulihkan jika dideteksi lebih awal.

5 Cara Mengobati Keputihan Berlebihan

5 Cara Mengobati Keputihan Berlebihan

Jakarta Keputihan adalah salah satu hal yang biasa terjadi di Miss V. Malahan keputihan merupakan mekanisme alami Miss V untuk menjaga kebersihannya. Namun jika keputihan terjadi terus-menerus dan disertai rasa gatal atau bau, tentu akan membuat Anda jadi tidak nyaman. Berikut adalah beberapa tanda keputihan abnormal yang wajib Anda waspadai.

Tanda-tanda keputihan tidak normal

Berbau

Umumnya keputihan yang normal tidaklah bau. Ketika keputihan Anda berbau bahkan menyengat dan hampir dikatakan seperti bau busuk, maka bisa jadi ada kuman yang bersarang dan berkembang biak di miss V Anda.

Berwarna

Ketika normal, warna keputihan adalah bening dan transparan. Namun jika sudah hijau pekat, kuning, atau bahkan disertai dengan darah, ini masuk dalam kategori keputihan yang tidak normal.

Menimbulkan gatal

Area V Anda gatal dan ketika mengalami keputihan? Ini juga merupakan salah satu ciri miss V dalam masalah.

Nyeri ketika kencing

Nyeri ketika kencing merupakan tanda bahaya ketika Anda sedang mengalami keputihan. Ini tanda bahwa kuman sudah sampai di kandung kemih Anda.

Jika Anda mengalami keputihan yang abnormal seperti contoh di atas, maka Anda wajib mewaspadainya. Serta obati sesegera mungkin entah itu dengan cara alami atau berkonsultasi ke dokter. Sebelum Anda mengunjungi ginekolog, ada baiknya Anda mengobati keputihan dengan bahan alami berikut ini seperti yang sudah dirangkum pillsonline.men

Cara mengobati keputihan yang berlebihan secara cepat, alami, dan tradisional

1. Kunyit

Cara mengobati keputihan yang gatal tanpa efek samping yang pertama adalah dengan menggunakan kunyit. Kandungan zat anti-bakteri pada kunyit dapat membantu mengobati keputihan membandel pada miss V. Anda hanya perlu meminum air perasan kunyit yang telah diparut setiap hari. Minumlah 2 kali dalam sehari untuk mendapatkan proses penyembuhan yang maksimal.

2. Biji fenugreek

Biji fenugreek mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Biji fenugreek berasal dari tanaman dengan nama yang sama yaitu fenugreek atau bisa juga disebut dengan klabet. Biji fenugreek dapat membantu meningkatan jumlah pH pada miss V Anda. Caranya adalah dengan merendam 1 sdm biji fenugreek dalam air hangat selama semalaman. Lalu saring airnya kemudian minum sebelum sarapan.

3. Bawang putih

Bawang putih merupakan resep herbal turun-temurun dikarenakan mengandung sifat antibakteri dan antijamur. Itulah sebabnya mengonsumsi bawang putih efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri merugikan penyebab keputihan.

4. Daun sirih

Cara mengobati keputihan dengan daun sirih juga terkenal untuk dilakukan. Buktinya adalah dengan banyaknya produk pembersih miss V yang menggunakan ekstrak sirih. Sebabnya zat dalam daun sirih bersifat antibakteri dan antijamur. Cara untuk mengobati keputihan dengan daun sirih adalah dengan secara rutin meminum air rebusan sirih atau membasuh Miss V dengan air rendaman sirih.

5. Daun sambiloto

Daun sambiloto juga bisa Anda manfaatkan sebagai cara mengobati keputihan secara alami. Caranya sama dengan daun sirih yaitu dengan merebus daun sambiloto dan meminum air rebusannya.

Keputihan yang berlebihan jangan dibiarkan. Sebagai langkah pertama, obati dengan bahan alami di atas.

Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui

Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui

Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini diharapkan suatu penyakit atau gangguan kesehatan bisa dideteksi sejak dini. Tes ini sekaligus berguna untuk merencanakan metode penanganan dan pengobatan yang tepat sebelum penyakit berkembang.

Saat medical check up, pasien akan menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan menyeluruh, berupa konsultasi mengenai keluhan yang sedang dirasakan, pencatatan dan pemeriksaan berkaitan dengan riwayat kesehatan, pemeriksaan tanda vital tubuh dan kondisi fisik secara umum.

Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter

Indikasi Medical Check Up

Walau tidak diwajibkan, medical check up telah menjadi pemeriksaan kesehatan rutin. Pasien dapat berkonsultasi kepada dokter kapan saja dan tidak perlu menunggu sampai timbulnya penyakit atau menurunnya kondisi kesehatan. Medical check up secara rutin dapat meningkatkan peluang untuk tetap sehat dan memiliki usia yang lebih panjang.

Berikut ini adalah tujuan medical check up secara rutin ke dokter:

  • Mengetahui kondisi kesehatan terkini guna mempersiapkan bentuk penanganan secara dini jika ditemukan adanya penyakit atau gangguan kesehatan.
  • Mengetahui risiko-risiko penyakit yang mungkin bisa muncul di kemudian hari.
  • Mendorong pasien untuk beralih ke gaya hidup sehat.

Peringatan:

Berikut ini adalah sejumlah hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan medical check up. Di antaranya adalah:

  • Informasikan kepada dokter apabila sedang menjalani pola makan atau diet tertentu.
  • Informasikan kepada dokter mengenai obat-obatan, termasuk suplemen dan produk herba, yang sedang dikonsumsi.
  • Informasikan kepada dokter mengenai perubahan yang terjadi pada tubuh, misalnya munculnya benjolan.
  • Beri tahu dokter apabila sedang mengalami pusing, kelelahan, gangguan buang air kecil atau besar, perubahan siklus menstruasi, depresi, atau kecemasan.

Sebelum Medical Check Up

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum medical check up. Pasien disarankan untuk membawa data medis penting, seperti foto Rontgen atau hasil dari pemeriksaan kesehatan yang sebelumnya pernah dilakukan. Tanyakan juga kepada dokter atau paramedis mengenai perlunya puasa sebelum melakukan pemeriksaan.

Sebelum rangkaian pemeriksaan dilakukan, akan diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada kondisi kesehatan saat ini dan yang terdahulu. Berikan daftar obat, suplemen, atau herba yang sedang dikonsumsi. Tiap melakukan medical check up, usahakan untuk selalu didampingi oleh keluarga atau kerabat dekat.

Prosedur Medical Check Up

Bentuk-bentuk tes dalam medical check up sangat bervariasi. Tes akan disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien. Pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan

Pada tahap awal medical check up, pasien akan ditanyakan mengenai sejumlah keluhan kesehatan yang dialami. Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gaya hidup, seperti pola makan, intensitas olahraga, kebiasaan merokok, atau konsumsi minuman beralkohol.

  • Pemeriksaan tanda vital

Tanda-tanda vital yang diperiksa, di antaranya meliputi:

– Frekuensi denyut jantung. Denyut jantung normal adalah 60-100 kali per menit.

– Frekuensi pernapasan. Pernapasan normal berkisar antara 12-20 kali per menit.

– Suhu tubuh.  Suhu badan normal rata-rata berkisar antara 36-37 derajat Celcius.

– Tekanan darah. Tekanan darah yang dikatakan normal adalah 90/60 mmHg sampai di bawah 120/80 mmHg.

Sebelum pemeriksaan fisik, dokter akan meminta untuk melepaskan pakaian dan aksesoris yang menempel pada tubuh, termasuk rias wajah yang digunakan. Beri tahu dokter bila merasa tidak nyaman untuk melepas pakaian. Pemeriksaan fisik akan dimulai dari mengukur berat badan dan tinggi badan, untuk mengetahui bila terdapat kekurangan atau kelebihan berat badan.

Selanjutnya dokter akan memeriksa secara teliti seluruh bagian tubuh mulai dari kepala sampai dengan kaki. Orang yang diperiksa dapat diminta berdiri, duduk, atau tidur terlentang sesuai area yang akan diperiksa. Mulai dari melihat apakah ada kelainan pada kulit, menekan dan mengetuk bagian tubuh tertentu. Bila terdapat rasa nyeri saat penekanan atau pengetukan, informasikan kepada dokter. Pada wanita, pemeriksaan payudara akan dilakukan dengan melihat dan menekan area payudara, dengan sebelumnya meminta ijin. Dokter juga akan memeriksa daerah lipatan seperti ketiak atau lipat paha untuk mendeteksi kemungkinan benjolan yang timbul di daerah tersebut.

Dokter akan menggunakan alat bantu seperti otoskop untuk memeriksa keadaan telinga dan stetoskop untuk mendengar bunyi jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan kekuatan otot, memerlukan kerja sama orang yang diperiksa untuk melakukan gerakan sesuai dengan yang diperintahkan dokter. Jangan ragu untuk bertanya kepada dokter mengenai instruksi yang diperintahkan, bila kurang mengerti.

Pada pemeriksaan fisik, termasuk juga pemeriksaan kelamin. Pada laki-laki akan diperiksa penis dan testis, untuk melihat adanya infeksi, peradangan, perubahan ukuran, dan benjolan yang mungkin timbul. Untuk memeriksa prostat, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur untuk meraba ada tidaknya pembesaran ukuran dari kelenjar prostat. Sedangkan pada wanita, akan diperiksa area vagina, vulva, dan serviks.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan sampel darah, urin, dan tinja untuk melihat jumlah sel darah, zat kimia yang menjadi penanda fungsi organ, kolesterol, gula darah, serta kelainan pada urine dan tinja, baik secara penampilan fisik, kimia yang terkandung, maupun secara mikroskopik menggunakan bantuan mikroskop.  Tergantung dari tujuan medical check up, terkadang juga dilakukan pemeriksaan terhadap penanda tumor dalam tubuh.

Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan seperti USG dan foto Rontgen digunakan untuk melihat kondisi organ seperti paru-paru, hati, pankreas, ginjal, limpa, dan kandung kemih, serta prostat pada pria dan rahim pada wanita. Pada wanita, pemeriksaan foto Rontgen payudara (mammografi) atau USG mammae (payudara) akan dilakukan untuk mendeteksi adanya tumor payudara.

Pemeriksaan rekam jantung

Pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG) merupakan tes untuk merekam aktivitas listrik jantung dengan menggunakan elektroda-elektroda kecil yang ditempelkan di kulit dada, lengan, dan tungkai. Pemeriksaan EKG dapat dilakukan dalam posisi tiduran atau saat melakukan aktivitas, seperti berlari di atas mesin treadmill.

Paps smear

Paps smear disarankan untuk wanita yang memasuki usia 21 tahun dan sudah pernah berhubungan seksual, setiap 3 tahun sekali guna mendeteksi kanker serviks. Setelah usia 30 tahun, wanita dianjurkan untuk melakukan paps smear setiap 5 tahun sekali, sedangkan setelah usia 65 tahun, tidak perlu melakukan pemeriksaan paps smear, bila tidak timbul keluhan.

Setelah Medical Check Up

Bila ditemukan kelainan pada hasil medical check up, akan dianjurkan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kelainan tersebut. Dokter juga akan menyarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, baik ditemukan kelainan atau tidak, seperti:

  • Mengonsumsi makanan sehat. Perbanyak porsi sayuran dan buah-buahan, serta batasi konsumsi makanan berlemak.
  • Rutin berolahraga. Sediakan waktu untuk berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, misalnya dengan berjalan kaki, untuk menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
  • Berhenti merokok.

Seiring bertambahnya usia seseorang, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin guna mencegah potensi berbagai penyakit atau gangguan kesehatan. Medical check up disarankan bagi orang dewasa (di atas 18 tahun) dengan frekuensi 5 tahun sekali sampai usia 40 tahun. Bagi yang berusia di atas 40 tahun, disarankan untuk melakukan medical check up dengan frekuensi setiap 1-3 tahun sekali.

Risiko Medical Check Up

Tiap pemeriksaan dalam medical check up memiliki kegunaan dan manfaat, sekaligus efek samping. Salah satunya adalah pemeriksaan foto Rontgen yang dapat membuat tubuh terpapar radiasi, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Oleh karena itu, dokter akan menilai keuntungan dan kerugian dari tiap bentuk pemeriksaan medical check up yang akan dilakukan.

Halo dunia!

Selamat datang di WordPress. Ini adalah pos pertama Anda. Edit atau hapus pos ini, lalu mulailah menulis!