Penyakit Usus Buntu

Penyakit Usus Buntu

 

Penyakit usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Usus buntu merupakan organ berbentuk kantong kecil dan tipis, berukuran sepanjang 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar. Saat menderita radang usus buntu, penderita dapat merasa nyeri di perut kanan bagian bawah. Jika dibiarkan, infeksi dapat menjadi serius dan menyebabkan usus buntuh pecah, sehingga menimbukan keluhan rasa nyeri hebat hingga membahayakan nyawa penderitanya.

Radang usus buntu dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering pada usia 10 sampai 30 tahun. Selain pada orang dewasa, usus buntu pada anak juga bisa terjadi. Penyakit usus buntu bisa disebabkan sumbatan pada usus buntu, baik sebagian atau total. Hambatan usus buntu yang menyeluruh merupakan kondisi darurat dan perlu segera ditangani dengan tindakan operasi.

Gejala Penyakit Usus Buntu

Gejala utama pada penyakit usus buntu adalah nyeri pada perut. Nyeri ini disebut kolik abdomen. Rasa nyeri tersebut dapat berawal dari pusar, lalu bergerak ke bagian kanan bawah perut. Namun, posisi nyeri dapat berbeda-beda, tergantung usia dan posisi dari usus buntu itu sendiri. Dalam waktu beberapa jam, rasa nyeri dapat bertambah parah, terutama saat kita bergerak, menarik napas dalam, batuk, atau bersin. Selain itu, rasa nyeri ini juga bisa muncul secara mendadak, bahkan saat penderita sedang tidur. Bila radang usus buntu terjadi saat hamil, rasa nyeri bisa muncul pada perut bagian atas, karena posisi usus buntu menjadi lebih tinggi saat hamil.

Gejala nyeri perut tersebut dapat disertai gejala lain, di antaranya:

• Kehilangan nafsu makan
• Perut kembung
• Tidak bisa buang gas (kentut)
• Mual
• Konstipasi atau diare
• Demam

Konsultasikan kepada dokter apabila mengalami nyeri perut yang perlahan-lahan makin parah dan meluas ke seluruh daerah perut. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda usus buntu telah pecah, dan mengakibatkan infeksi rongga perut atau peritonitis .

Penyebab Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu terjadi karena rongga usus buntu mengalami infeksi. Dalam kondisi ini, bakteri berkembang biak dengan cepat sehingga membuat usus buntu meradang, bengkak, hingga bernanah. Banyak faktor yang diduga membuat seseorang mengalami radang usus buntu, di antaranya:

• Hambatan pada pintu rongga usus buntu
• Penebalan atau pembengkakan jaringan dinding usus buntu karena infeksi di saluran pencernaan atau di • bagian tubuh lainnya
• Tinja atau pertumbuhan parasit yang menyumbat rongga usus buntu
• Cedera pada perut.
• Kondisi medis, seperti tumor pada perut atau inflammatory bowel disease.

Kendati demikian, penyebab penyakit usus buntu tetap belum dapat dipastikan.

Diagnosis Penyakit Usus Buntu

Diagnosis penyakit usus buntu dimulai setelah dokter menanyakan gejala yang dialami pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menilai rasa nyeri, dan dilakukan dengan menekan area yang terasa nyeri. Radang usus buntu ditandai oleh rasa nyeri yang semakin parah setelah tekanan tersebut dilepas dengan cepat.

Guna memastikan diagnosis, dokter perlu melakukan sejumlah tes. Tes yang dilakukan berupa:

• Tes darah, guna memeriksa jumlah sel darah putih yang menandakan adanya infeksi.
• Tes urine, untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit lain, misalnya infeksi saluran kemih atau batu ginjal.
• CT scan atau USG, untuk memastikan rasa nyeri pada perut disebabkan penyakit usus buntu.
• Pemeriksaan panggul, untuk memastikan rasa nyeri bukan disebabkan masalah reproduksi atau infeksi panggul lainnya.
• Tes kehamilan, guna memastikan rasa nyeri tersebut bukan disebabkan kehamilan ektopik.
• Foto Rontgen dada, untuk memastikan rasa nyeri bukan disebabkan pneumonia sebelah kanan, yang gejalanya mirip radang usus buntu.

Pengobatan Penyakit Usus Buntu

Langkah pengobatan utama untuk penyakit usus buntu adalah melalui prosedur operasi pengangkatan usus buntu, atau yang dikenal dengan istilah apendektomi. Namun sebelum dilakukan operasi, penderita biasanya diberi obat antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi, terutama pada usus buntu yang belum pecah namun sudah terbentuk abses. Sedangkan pada usus buntu yang ringan, pemberian antibiotik sebelum operasi dapat memulihkan kondisi sebagian pasien, sehingga operasi tidak perlu dilakukan.

Terdapat dua cara dalam melakukan apendektomi, yaitu secara laparoskopi atau operasi lubang kunci, dan bedah terbuka atau laparotomi. Kedua teknik bedah tersebut diawali dengan melakukan bius total pada pasien. Operasi usus buntu dengan laparoskopi dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil sebesar lubang kunci pada perut, untuk memasukkan alat bedah khusus yang dilengkapi kamera untuk mengangkat usus buntu. Operasi ini lebih disukai karena proses pemulihannya lebih singkat. Operasi jenis ini juga dianjurkan pada penderita lansia atau obesitas.

Sementara operasi dengan bedah terbuka dilakukan dengan membedah perut bagian kanan bawah sepanjang 5-10 sentimeter, dan mengangkat usus buntu. Bedah terbuka ini sangat dianjurkan untuk kasus usus buntu di mana infeksi telah menyebar ke luar usus buntu, atau jika usus buntu sudah bernanah (abses).

Sementara untuk kasus usus buntu yang telah pecah dan terjadi abses, perlu dilakukan pengeluaran nanah terlebih dahulu dari abses menggunakan selang yang dimasukkan melalui sayatan pada kulit. Pelaksanaan apendektomi baru bisa dilakukan beberapa minggu kemudian setelah infeksi terkendali.

Proses pemulihan pasca apendektomi pada bedah laparoskopi lebih singkat dibanding bedah terbuka. Pasien dapat pulang dari rumah sakit beberapa hari pasca operasi. Namun jika terjadi komplikasi saat operasi, maka perawatan di rumah sakit dapat berlangsung lebih lama. Selama masa pemulihan, pasien tidak diperbolehkan mengangkat beban yang berat, dan dianjurkan untuk tidak berolahraga dahulu selama sekitar 6 minggu. Setelah itu, pasien dapat kembali beraktivitas secara normal.

Komplikasi Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu yang tidak diobati berisiko menimbulkan komplikasi yang membahayakan. Komplikasi tersebut antara lain:

• Abses atau terbentuknya kantong berisi nanah. Komplikasi ini muncul sebagai usaha alami tubuh untuk mengatasi infeksi pada usus buntu. Penanganannya dilakukan dengan penyedotan nanah dari abses atau dengan antibiotik. Jika ditemukan dalam operasi, abses dan bagian di sekitarnya akan dibersihkan dengan hati-hati dan diberi antibiotik.
• Peritonitis. Peritonitis adalah infeksi pada lapisan dalam perut atau peritoneum. Peritonitis terjadi saat usus buntu pecah dan infeksi menyebar hingga ke seluruh rongga perut. Penanganan kasus ini dilakukan dengan pemberian antibiotik dan tindakan bedah terbuka secepatnya, untuk mengangkat usus buntu dan membersihkan rongga perut. Peritonitis ditandai dengan nyeri seluruh perut yang hebat dan terus menerus, demam, serta detak jantung yang cepat.

Penyakit usus buntu perlu segera diatasi agar tidak menimbulkan komplikasi namun operasinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, mendaftarkan diri Anda sebagai anggota asuransi kesehatan bisa menjadi pilihan praktis untuk menghemat pengeluaran saat berobat.

Gejala Gangguan Bipolar

Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan kondisi kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami perubahan emosi yang drastis, dari mania (sangat senang) menjadi depresif (sangat terpuruk), atau pun sebaliknya. Sebelum terjadi perubahan dari satu emosi ke emosi lain, biasanya terdapat fase dimana suasana hati atau emosi pasien normal. Namun pada kasus tertentu, perubahan emosi juga dapat terjadi tanpa adanya fase normal. Tiap emosi atau gejala, baik mania mau pun depresi, dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Gejala mania yang muncul pada penderita gangguan bipolar dapat berupa:

Merasa sangat bahagia atau senang.
Berbicara sangat cepat, sering, dan tidak seperti keadaan normal.
Merasa sangat bersemangat.
Muncul rasa percaya diri yang berlebihan.
Keinginan untuk tidur menurun.
Tidak nafsu makan.
Mudah terganggu.
Gejala mania juga dapat ditandai dengan munculnya pikiran untuk membuat keputusan yang buruk. Dalam hal ini, penderita gangguan bipolar bisa secara tiba-tiba melakukan hubungan seksual yang tidak sehat, menyalahgunakan NAPZA, atau melakukan hal lain yang dapat merugikan dirinya bahkan orang lain.

Sedangkan gejala depresi yang muncul pada penderita bipolar dapat berupa:

Merasa sangat sedih dan putus asa.
Lemas dan kurang energi.
Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu.
Hilang keinginan untuk beraktivitas.
Merasa kesepian dan tidak berguna.
Merasa bersalah.
Pesimis terhadap segala hal.
Tidak nafsu makan.
Gangguan dalam tidur seperti sulit tidur atau bangun terlalu dini.
Delusi atau waham.
Muncul keinginan untuk bunuh diri.
Penderita gangguan bipolar juga dapat mengalami munculnya gejala mania dan depresif secara bersamaan. Misalnya, merasa sangat bersemangat dan disaat yang bersamaan juga merasa sangat sedih. Kondisi itu disebut gejala campuran atau mixed state.

Penyakit Kista

Penyakit Kista

Penyakit kista adalah kondisi yang disebabkan oleh benjolan berbentuk kapsul atau kantung dan terisi dengan cairan, semisolid, atau material gas, yang dapat muncul pada jaringan tubuh mana saja.

Ukuran benjolan bervariasi, mulai dari sangat kecil (mikroskopik) hingga sangat besar. Benjolan kista yang berukuran besar bisa menghimpit organ dalam yang berada di dekatnya. Tergantung pada lokasi, jenis umum kista adalah:

• Kista ovarium atau kista indung telur adalah kantung berisi cairan di dalam atau pada permukaan indung telur.
• Kista otak, bukan merupakan “tumor otak” karena tidak berasal dari jaringan otak.

Kista adalah kondisi yang umum dan bisa terjadi pada siapapun di usia berapapun tanpa pandang bulu. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Apa bedanya penyakit kista dengan miom dan tumor?
Banyak orang mengira bahwa penyakit kista, miom, atau tumor merupakan hal yang sama. Padahal tidak demikian. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kista adalah sebuah kantung yang berisi cairan, udara, atau bahan lainnya yang abnormal dan menempel pada organ terdekat.

Kista adalah tumor jinak alias bukan kanker, maka penyakit kista tidak berbahaya. Umumnya, penyakit kista tidak menimbulkan gejala apapun. Namun, bila dibiarkan berkembang lebih besar dapat menjadi parah.

Miom

Lalu, miom atau mioma (fibroid) merupakan tumor jinak yang tumbuh di otot atau jaringan ikat di bagian mana saja pada rahim wanita. Penyebab miom di rahim ini tidak diketahui dengan jelas. Namun, beberapa faktor yang memengaruhi pembentukannya adalah hormon (estrogen dan progesteron) dan kehamilan pada wanita.

Terkadang, wanita tidak sadar di rahimnya mulai tumbuh miom karena tidak menimbulkan gejala apapun. Namun, lama-kelamaan miom di rahim ini dapat menyebabkan perdarahan vagina, sakit perut, nyeri panggul, sering buang air kecil, dan ketidaknyamanan atau sakit saat berhubungan seks.

Tumor

Tumor umumnya mengacu pada sebuah massa yang tumbuh dalam tubuh. Tumor adalah massa jaringan yang tidak normal yang berisi padatan (daging) atau cairan.

Jaringan yang tidak normal ini dapat berkembang di bagian mana saja dalam tubuh, seperti tulang, organ, dan jaringan lunak. Tumor dalam tubuh bisa memiliki sifat jinak (umumnya tidak berbahaya dan bukan kanker) atau ganas (kanker).

Tumor jinak biasanya hanya berada di satu tempat dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Jika diobati, sebagian besar tumor jinak biasanya akan merespon dengan baik.

Namun, jika tidak diobati, beberapa tumor yang berubah menjadi ganas, bisa tumbuh lebih besar sehingga menyebabkan masalah serius karena ukurannya. Tumor ganas juga sering ditandai sebagai bakal kanker.

Gejala

Apa saja gejala dan ciri-ciri penyakit ini?

Mayoritas kondisi ini tidak memiliki gejala atau tanda-tanda. Malah kadang tidak menyebabkan rasa sakit. Pada tanda atau ciri-ciri kista di organ internal tubuh, kemungkinan tidak menghasilkan gejala apapun jika benjolannya berukuran kecil.

Apabila benjolannya membesar, menggantikan atau menekan organ lain atau membatasi aliran cairan pada jaringan seperti hati, pankreas atau organ lain, maka gejala yang terkait dapat muncul.

Ciri-ciri kista di payudara

Anda dapat memiliki satu atau beberapa benjolan di payudara dan dapat terjadi pada salah satu atau kedua payudara. Berikut ciri-ciri kondisi ini pada payudara:

• Ciri-ciri kista dapat ditemukan pada salah satu atau kedua payudara.
• Benjolan yang lembut, mudah digerakkan, berbentuk bulat atau oval dengan tepi yang jelas.
• Puting susu dapat terlihat bening, kuning atau cokelat tua.
• Nyeri pada area benjolan.
• Bertambahnya ukuran benjolan dan nyeri sebelum periode menstruasi.
• Penurunan ukuran benjolan dan resolusi gejala lain setelah periode menstruasi.

Ciri-ciri di kulit

Kista kulit adalah benjolan berisi cairan yang berada di bawah kulit. Berikut merupakan ciri-ciri kondisi tersebut:

• Benjolan kecil dan bulat di bawah kulit, biasanya pada wajah, tubuh atau leher.
• Komedo yang menyumbat pembukaan pada benjolan.
• Zat kental, kuning, berbau busuk yang kadang keluar dari benjolan
• Kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada area, jika meradang atau terinfeksi.

Ciri-ciri kista ovarium

Setiap wanita memiliki dua ovarium yang setiap bulannya akan melepaskan sel telur secara bergantian. Terkadang benjolan (kantung kecil berisi cairan) bisa berkembang di salah satu ovarium.

Mungkin Anda pernah mengalaminya tanpa Anda ketahui. Banyak wanita memiliki kista setidaknya satu kali selama hidupnya. Namun, umumnya ini tidak menyakitkan dan tidak berbahaya. Bahkan, penyakit kista ovarium ini bisa hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika benjolan ini tidak hilang, malah makin membesar, dan pecah. Benjolan inilah yang biasanya dapat menimbulkan gejala penyakit kista ovarium dan membuat Anda tidak nyaman.

Ada dua jenis penyakit ini yang perlu Anda ketahui, yaitu:

Kista ovarium fungsional

Benjolan ini bisa berkembang karena bagian dari siklus menstruasi. Jenis kista ini tidak berbahaya dan mudah untuk hilang dengan sendirinya. Ini merupakan jenis kista yang paling umum.

Kista ovarium patologis

Benjolan ini berkembang karena pertumbuhan sel yang tidak normal. Biasanya kondisi ini menimbulkan gejala dan perlu perawatan khusus untuk menanganinya. Kista jenis ini bisa jinak atau ganas (kanker).

Berikut merupakan ciri-ciri kista ovarium:

• Nyeri ringan yang menyebar ke punggung bawah dan paha bisa menjadi salah satu ciri- ciri kista ovarium. • Nyeri sebelum periode menstruasi mulai, sebelum berakhir atau saat berhubungan intim (dyspareunia).
• Nyeri saat buang air besar atau tekanan pada usus.
• Mual, muntah atau nyeri pada payudara yang terasa selama kehamilan.
• Terasa penuh atau berat pada perut.
• Tekanan pada kemih yang membuat Anda sering buang air kecil atau kesulitan mengosongkan kemih secara sempurna.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?
Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

1. Tanda benjolan di payudara

Jaringan payudara normal sering terasa tidak halus. Namun jika Anda merasakan benjolan baru yang tidak kunjung hilang setelah periode menstruasi, atau benjolan payudara bertumbuh atau berubah.

2. Tanda kista kulit

• Bertumbuh dengan cepat
• Robekan atau terasa sakit atau terinfeksi
• Terjadi pada area yang terus iritasi
• Mengganggu tampilan Anda

3. Tanda terdapat kista ovarium

• Sakit pada perut atau panggul secara tiba-tiba dan parah
• Nyeri yang disertai demam atau muntah.

Penyebab
Apa penyebab kista?
Hal-hal yang dapat memicu atau memperparah kista adalah:

• Kondisi genetik
• Tumor
• Infeksi
• Kelainan pada perkembangan embrio
• Cacat pada sel
• Kondisi inflamasi kronis
• Penyumbatan pada saluran pada tubuh
• Parasit
• Cedera.

Faktor risiko
Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit ini?
Ada beberapa faktor penyebab kista, salah satunya disebabkan oleh londisi genetik, cacat pada organ yang berkembang, infeksi, tumor dan obstruksi pada aliran cairan, minyak atau zat lainnya adalah faktor risiko penyebab kista.

Selain itu, beberapa faktor risiko kista adalah:

Usia

Menurut U.S National Library of Medicine (NLM), wanita yang berusia di antara usia pubertas sampai menopause menempati risiko paling tinggi untuk terkena di bagian ovarium, karena pada masa ini wanita masih mengalami periode menstruasi.

Pada saat wanita mengalami menstruasi, munculnya benjolan cairan di ovarium bisa saja terbentuk. Ini bukan menjadi masalah selama benjolan di ovarium bisa hilang dengan sendirinya, tidak membesar, dan tidak menyebabkan gejala.

Kondisi penyebab kista ovarium jarang terjadi pada wanita setelah menopause. Namun, wanita yang sudah menopause dan mempunyai benjolan berisi cairan di ovarium mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker ovarium.

Kemoterapi dengan tamoxifen

Wanita penderita kanker payudara yang pernah menjalankan kemoterapi dengan tamoxifen memiliki risiko adanya benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Tamoxifen dapat menyebabkan terbentuknya benjolan di ovarium Namun, benjolan berisi cairan ini dapat hilang setelah pengobatan selesai.

Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Wanita yang memiliki sindrom ovarium polikistik mempunyai risiko benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Sindrom ovarium polikistik terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup hormon bagi folikel dalam ovarium untuk melepaskan sel telur.

Akibatnya, terbentuklah benjolan folikel. Sindrom ovarium polikistik juga dapat mengganggu produksi hormon pada wanita, sehingga banyak masalah yang dapat terjadi karena hal ini.

Endometriosis

Endometriosis terjadi saat bagian dari jaringan yang melapisi rahim (endometrium) terbentuk di bagian luar rahim, seperti pada tuba falopi, ovarium, kandung kemih, usus besar, vagina, atau rektum.

Terkadang, kantung berisi darah (benjolan/fibroid) terbentuk pada jaringan ini. Benjolan berisi yang terbentuk karena endometriosis ini disebut dengan endometrioma. Benjolan ini dapat menyebabkan Anda merasa sakit saat berhubungan seksual dan selama periode menstruasi.

Obat penyubur kandungan

Obat penyubur kandungan biasanya dipakai untuk membantu Anda ovulasi (melepaskan sel telur). Seperti gonadotropin, clomiphene citrate, atau letrozole.

Hal ini tentu dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh Anda. Sehingga, penggunaan obat penyubur kandungan juga dapat meningkatkan risiko adanya benjolan di ovarium, seringnya dalam jenis kista fungsional.

Penggunaan obat ini dapat menyebabkan terbentuknya kista dalam jumlah banyak dan dalam ukuran besar pada ovarium. Kondisi ini disebut dengan sindrom hiperstimulasi ovarium (ovarian hyperstimulation syndrome).

Diagnosis

Bagaimana kista didiagnosis?

• Kadang benjolan dapat terasa dengan mudah oleh dokter, terutama jika benjolan terletak di kulit atau pada organ yang mudah terdeteksi.
• Teknik imaging sangat berguna untuk mendeteksi benjolan, seperti ultrasound, X-ray, CAT scans dan MRI.
• Biopsi jarum kadang digunakan untuk menentukan apabila jaringan ganas terkait dengan struktur yang seperti benjolan, biopsi juga dapat digunakan untuk mengurangi ukuran benjolan.
• Untuk kista ovarium, terkadang terdapat kekhawatiran bisa menyebabkan kanker, dokter akan mempersiapkan tes darah untuk melihat kadar tinggi zat kimia yang mengindikasi kanker indung telur.

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana penyakit ini ditangani?

Pada kebanyakan kasus, kondisi benjolan ini seringkali menghilang setelah beberapa bulan. Perawatan untuk kondisi ini tergantung pada penyebab dan apakah akan menyebabkan masalah pada pasien.

Perawatan juga akan tergantung pada berbagai faktor, termasuk jenis kista, di mana terdapat benjolan, ukurannya, dan tingkat ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.

Kista yang sangat besar dan menyebabkan gejala, dapat diangkat secara operasi. Kadang-kadang, dokter mungkin memutuskan untuk mengeringkan atau memasukkan jarum atau kateter ke dalam rongga.

Jika kista tidak mudah diakses, drainase atau aspirasi sering dilakukan dengan bantuan radiologis. Sehingga dokter dapat secara akurat memandu jarum atau kateter ke area target benjolan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kista?
Pastikan Anda tidak memencet atau memecahkan benjolan karena dapat memperburuk kondisi pada beberapa individu. Selain itu, hal ini dapat menyebabkan benjolan membesar atau menjadi terinfeksi. Namun, beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengobati kista adalah:

Echinacea

Tanaman echinacea, yang telah lama dikenal sebagai ramuan tradisional asli Amerika, dapat membantu meringankan beberapa jenis kista. Marilyn Glenville, ketua Forum Makanan dan Kesehatan di Royal Society of Medicine, menyarankan bahwa dengan mengonsumsi tanaman echinacea selama 20 hari rutin, dapat meningkatkan jumlah sel darah putih.

Sel darah puth diketahui bermanfaat untuk memecah sel-sel abnormal yang bisa menyebabkan benjolan di ovarium. Echinacea juga dapat membantu mengobati benjolan di kulit akibat peradangan, sepertijerawat.

Dandelion

Bunga dandelion yang banyak ditemukan di tanah lapang, sering digunakan sebagai obat herbal guna mengurangi terjadinya benjolan di tubuh Anda. Menurut Dr. John R. Christopher, pendiri School of Natural Healing, menunjukkan bahwa benjolan di tubuh bisa tumbuh karena kekurangan potasium.

Dengan memakan satu porsi 1 porsi dandelion hijau mentah, ini mengandung 218 mg potasium. Di mana ini bisa mencukup asupan 2000 mg potasium harian Anda dan membantu mencegah adanya benjolan di tubuh.

Coba ganti asupan sehari-hari dengan karbohidrat kompleks
Untuk mencegah adanya benjolan atau cikla bakal tumor, coba ganti makanan karbohidrat Anda dengan karbohidrat kompleks seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. The Mayo Clinic menjelaskan bahwa banyak wanita dengan sindrom ovarium polikistik, atau PCOS, yang berkemban menjadi kista.

Sindrom ini bahkan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes orang dewasa. dengan makan makanan karbohidrat kompleks, ini berarti Anda menambah serat di dalam makanan Anda.

Serat berfungsi untuk memperlambat pencernaan dan memperlambat kenaikan atau lonjakan gula darah yang dapat menyebabkan diabetes.

Naturopathy Online, juga menambahkan bahwa wanita dengan fibroid atau benolan di rahim nya, cenderung memiliki kebiasaan diet yang buruk yang juga dapat menyebabkan gula darah tinggi.

Makan asupan dengan indeks glikemik rendah

Untuk mencegah adanya benjolan di dalam tubuh, Anda harus fokus pada makan makanan yang memiliki nilai indeks glikemik rendah. Makanan indeks glikemik tinggi seperti jagung dan kentang memang sehat, namun ini tidak baik bagi wanita yang sebelumnya didiagnosis fibroid atau ada benjolan di rahim.

The Mayo Clinic juga menjelaskan, bahwa makanan glikemik yang tinggi dapat menyebabkan kadar insulin meningkat lebih dari makanan yang memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah.

Menurut National Uterine Fibroid Foundation, wanita yang kegemukan (obesitas), sering dikaitkan dengan perkembangan fibroid atau benjolan di tubuhnya.

Para ahli menyarankan bahwa diet yang kaya dengan makanan glikemik rendah seperti sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan dapat membantu meredakan PCOS atau menghindari adanya benjolan di tubuh.

• Perawatan kista di rumah

Kista payudara
• Gunakan bra yang pas dan mendukung.
• Gunakan kompres hangat atau dingin untuk meredakan rasa sakit.
• Hindari kafein. Beberapa wanita merasa gejala membaik setelah menghilangkan kafein dari pola makan mereka.
• Kurangi garam pada pola makan. Mengonsumsi lebih sedikit sodium mengurangi kadar cairan berlebih pada tubuh, yang dapat meringankan gejala terkait dengan benjolan yang berisi cairan.
Kista kulit
• Gunakan perawatan obat kista topikal seperti aloe vera, minyak jarak, tea tree oil dan senyawa lain banyak digunakan untuk memecahkan kista. Periksakan dengan dokter sebelum menggunakan pengobatan rumahan tersebut.
• Selain itu, beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk merawat kista adalah:

• Jangan meremas, menggaruk, mengeringkan, membuka (lance), atau menusuk benjolan.

Melakukan ini dapat mengiritasi benjolan. Selain itu, menyentuh atau mengorek kista, dapat mendorong infeksi yang ada lebih dalam ke kulit, atau menyebabkan perdarahan hebat.

• Jagalah kebersihan area dengan mencuci benjolan dan kulit sekitarnya dengan sabun antibakteri
Kompres dengan lap yang direndam air hangat dan basah ke benjolan selama 20 hingga 30 menit
• Lakukan 3 hingga 4 kali sehari. Jika Anda suka, Anda juga dapat menggunakan botol air panas atau bantal pemanas di atas handuk basah. Panas dan kelembapan dapat menenangkan benjolan, meningkatkan sirkulasi darah ke area, dan mempercepat penyembuhan.

Hal ini juga dapat menyebabkan benjolan yang disebabkan oleh infeksi pada kepala (tetapi mungkin memerlukan waktu 5 hingga 7 hari). Berhati-hatilah untuk tidak membakar kulit Anda. Jangan gunakan air yang lebih hangat dari air mandi.

• Jika benjolan mulai mengeluarkan nanah, aplikasikan perban untuk menjaga agar isi benjolan tidak menyebar. Ganti perban setiap hari.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Pengertian Penyakit Sifilis

Penyakit Sifilis

Sipilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri yang dapat menginfeksi kulit, mulut, alat kelamin, serta sistem saraf. Sipilis biasanya dimulai dengan luka yang tidak menyakitkan pada alat kelamin, dubur, atau mulut Anda.

Sipilis ditularkan dari orang ke orang melalui kontak kulit atau selaput lendir dengan luka tersebut. Setelah infeksi awal, bakteri sipilis dapat menetap dengan tidak aktif dalam tubuh selama beberapa dekade, sebelum menjadi aktif kembali.

Jika terdeteksi lebih awal, sifilis akan lebih mudah disembuhkan dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen. Namun demikian, penyakit sifilis yang tidak diobati dapat mengakibatkan kerusakan serius pada otak atau sistem saraf serta organ lainnya, termasuk jantung, yang dapat mengancam jiwa. Sifilis juga dapat menular dari ibu ke anak di dalam kandungan.

Seberapa umumkah sifilis?

Jumlah pengidap sifilis mengalami penurunan pada wanita sejak 2010, tetapi tidak sama halnya dengan lelaki, terutama mereka yang berhubungan seksual dengan sesama pria.

Gejala

Apa sajakah tanda dan gejala sifilis?

Sifilis dapat berkembang dalam beberapa tahap dan gejala yang muncul bergantung pada tahapan tersebut. Namun, tahap-tahap ini dapat tumpang tindih dan gejala yang terjadi tidak selalu berurutan.

Anda mungkin terinfeksi sifilis dan tidak melihat gejala apapun selama bertahun-tahun. Empat tahap tersebut adalah:

• Sifilis primer
• Sifilis sekunder
• Sifilis laten atau tersembunyi
• Sifilis tersier

Sipilis paling menular dalam dua tahap pertama. Ketika sipilis dalam tahap laten atau tersembunyi, sifilis tetap aktif tanpa gejala. Sifilis tersier adalah tahapan yang paling merusak kesehatan. Berikut ulasan lengkapnya:

Tahap pertama (sifilis primer)

Seseorang dengan sifilis primer umumnya mengalami luka di tempat infeksi awal. Luka ini biasanya terdapat di sekitar alat kelamin, di sekitar anus, atau di sekitar mulut. Luka ini biasanya berbentuk bulat dan dinamakan chancre.

Gejala muncul 2 hingga 4 minggu setelah terjadi infeksi, termasuk chancre di mana bakteri masuk ke dalam tubuh. Sipilis jenis ini sering terasa pada alat kelamin tetapi juga dapat dilihat di mulut atau rektum jika bagian-bagian ini terlibat dalam aktivitas seksual dengan orang yang terinfeksi.

Umumnya, gejala ini akan sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 1 hingga 5 minggu.

Tahap kedua (sifilis sekunder)

Dalam beberapa minggu setelah penyembuhan chancre yang asli, Anda mungkin akan mengalami ruam yang di sekujur tubuh Anda, termasuk telapak tangan dan kaki. Ruam ini biasanya tidak gatal dan dapat disertai kutil di mulut atau area genital Anda.

Beberapa orang dengan sifilis sekunder juga mengalami rambut rontok, nyeri otot, demam, sakit tenggorokan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening. Seperti sifilis tahap pertama atau primer, gejala-gejala di atas dapat hilang dengan sendirinya.

Namun, Mayo Clinic menyebut tanda dan gejala ini dapat berulang kali datang dan pergi selama satu tahun.

Beberapa penderita yang sudah berada pada stadium dua atau tiga mungkin tidak menunjukkan adanya gejala penyakit sifilis.

Sifilis laten

Sipilis laten terjadi di antara tahap kedua (sifilis sekunder) dan tahap ketiga (sifilis tersier). Dalam sifilis laten, Anda tidak mengalami gejala apapun.

Sifilis laten dapat bertahan selama bertahun-tahun. Tanda dan gejala mungkin tidak akan pernah kembali lagi, atau justru berkembang menjadi tahap ketiga, yaitu sifilis tersier.

Sifilis tersier

Sekitar 15% hingga 30% orang yang terinfeksi sifilis tanpa perawatan akan mengembangkan komplikasi yang dikenal dengan sifilis tersier. Tahap 3 dari gejala sifilis muncul 10 sampai 40 tahun setelah infeksi awal.

Dalam tahap ini, sipilis akan merusak otak, saraf, mata, jantung, aliran darah, hati, tulang, dan otot.

Selain keempat tahap yang disebutkan di atas, Mayo Clinic juga mencantumkan dua jenis sifilis berdasarkan gejalanya. Kedua jenis sipilis tersebut adalah:

Neurosifilis

Pada tahap berapapun, silipis bisa menyebar dan di antara kerusakan lainnya, dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan sistem saraf (neurosifilis) dan mata (sipilis okular).

Sifilis bawaan

Bayi yang lahir dari ibu dengan sifilis dapat terinfeksi melalui plasenta atau selama kelahiran. Kebanyakan bayi baru lahir dengan sifilis bawaan tidak mengalami gejala apapun.

Namun, beberapa bayi dengan sipilis mengalami ruam pada telapak tangan dan telapak kaki mereka. Tanda-tanda dan gejala sipilis pada bayi lainnya mungkin termasuk ketulian atau kelainan bentuk gigi.

Bayi yang lahir dengan sipilis juga bisa dilahirkan terlalu dini (prematur), dilahirkan meninggal (stillbirth), atau meninggal setelah lahir.

Mungkin ada beberapa tanda atau gejala yang tidak tercantum di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap gejala tertentu, silakan berkonsultasi dengan dokter Anda.

Kapan saya harus menemui dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda atau anak Anda mengeluarkan cairan yang tidak biasa, terasa sakit atau muncul ruam – terutama jika itu terjadi di daerah selangkangan.

Penyebab

Apa yang menyebabkan sifilis?

Penyebab sipilis adalah bakteri dengan nama Treponema pallidum. Infeksi biasanya terjadi karena adanya kontak seksual.

Bakteri masuk ke tubuh melalui celah atau luka di kulit atau selaput lendir Anda setelah menyentuh orang yang terinfeksi sifilis. Sifilis tidak dapat menular melalui penggunaan toilet yang sama, bak mandi, pakaian atau peralatan makan, atau dari gagang pintu, kolam renang atau pemandian air panas.

Sipilis menular selama tahap primer dan sekunder, dan kadang-kadang pada periode laten awal.

Faktor risiko

Faktor apa yang meningkatkan risiko Anda terjangkit sifilis?

Individu yang mengidap HIV lebih rentan terhadap penularan dan menjadi penyebar sifilis. Sekali Anda tertular sifilis, bukan berarti Anda akan kebal terhadap infeksi sejenis. Anda bisa terinfeksi lagi dan lagi. Penularan sifilis juga dapat terjadi dari ibu hamil ke janinnya (sifilis kongenital).

Selain itu, faktor risiko dari sifilis juga termasuk:

• Melakukan hubungan seks tanpa pengaman
• Melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan
• Melakukan hubungan seks pria dengan pria

Komplikasi

Komplikasi apa yang mungkin saya alami jika terkena sifilis?

Tanpa perawatan, sifilis dapat menciptakan kerusakan pada tubuh Anda. Sipilis juga dapat meningkatkan risiko Anda terinfeksi HIV dan para perempuan, sipilis dapat menyebabkan masalah saat kehamilan.

Perawatan spilis bisa membantu mencegah kerusakan pada tubuh Anda di kemudian hari. Namun, perawatan sifilis tidak dapat memperbaiki atau mengembalikan kerusakan yang telah terjadi.

Komplikasi yang mungkin terjadi pada orang dengan sipilis adalah:

Benjolan kecil atau tumor

Benjolan kecil atau tumor yang disebut gumma dapat berkembang pada kulit, tulang, hati, atau organ lain pada tahap akhir sifilis. Gumma biasanya hilang setelah perawatan dengan antibiotik.

Masalah saraf

Sipilis dapat menyebabkan beberapa masalah pada sistem saraf Anda, termasuk:

• Sakit kepala
• Stroke
• Meningitis
• Kehilangan pendengaran
• Masalah kelihatan, termasuk kebutaan
• Demensia
• Disfungsi seksual pada pria (impotensi)
• Inkontinensia kandung kemih

Masalah kardiovaskular

Masalah akibat sipilis ini mungkin termasuk penonjolan (aneurisma) dan radang aorta–arteri utama tubuh Anda–dan pembuluh darah lainnya. Sifilis juga dapat merusak katup jantung.

Infeksi HIV

Orang dewasa dengan sipilis yang ditularkan secara seksual diperkirakan memiliki dua hingga lima kali lipat risiko tertular HIV. Luka sifilis dapat berdarah dengan mudah, sehingga memudahkan HIV memasuki aliran darah Anda selama aktivitas seksual.

Jika seseorang yang hidup dengan HIV juga memiliki sipilis, penyebaran virus mereka akan meningkat, bahkan jika mereka mengonsumsi obat HIV (antiretroviral). Diskusikan dengan dokter bagaimana hubungan pengobatan sipilis dengan pengobatan HIV.

Komplikasi kehamilan dan kelahiran bayi

Jika Anda hamil, Anda mungkin akan menurunkan sipilis pada bayi Anda yang belum lahir. Sipilis bawaan meningkatkan risiko keguguran, stillbirth, atau kematian bayi setelah beberapa hari setelah lahir.

Diagnosis

Apa saja tes yang paling umum untuk mendeteksi sifilis?

Dokter dapat membuat diagnosis berdasarkan sejarah medis dan pemeriksaan tubuh pasien dengan memperhatikan organ seks, mulut, dan anus. Jika terdapat tanda penyakit sekecil apapun, sebentuk kecil irisan jaringan atau cairan penyakit akan segera diteliti untuk mengetahui jenis bakteri menggunakan mikroskop lapang gelap (dark-field microscope).

Sebuah tes darah (dikenal sebagai VDRL) dilakukan untuk menentukan apakah terdapat antibodi (zat yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dari bakteri Treponema pallidum) dalam darah. Tidak sampai di situ, dokter juga akan menguji pasangan seksual Anda, seperti:

• Sifilis primer: pasangan sejak tiga bulan lalu
• Sifilis sekunder: pasangan sejak enam bulan lalu
• Sifilis laten: pasangan sejak tahun lalu (karena mungkin ada chancre yang tidak terdeteksi sebelumnya).

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukan merupakan pengganti saran medis. Mohon SELALU berkonsultasi dengan dokter Anda.

Pengobatan apa saja yang dapat dilakukan untuk sifilis?
Pengobatan tergantung pada tahapan sipilis. Ketika telah didiagnosis pada tahap awal, pengobatan sifilis tergolong mudah. Strategi pengobatan sipilis akan tergantung pada gejala dan berapa lama Anda telah memendam bakteri tersebut.

Pengobatan untuk sipilis tidak membuat Anda kebal. Itu berarti Anda dapat mengidap sipilis lebih dari satu kali. Jika pemeriksaan Anda positif, pasangan Anda juga harus diperiksa dan diobati.

Kerusakan yang disebabkan oleh sipilis jika terlambat ditangani tidak dapat dihilangkan. Bakteri dapat terbunuh, tetapi pengobatan kemungkinan besar hanya akan fokus para meredakan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Obat-obatan

Jika Anda didiagnosis dengan sipilis primer, sekunder, atau tahap awal sipilis laten (kurang dari satu tahun), pengobatan yang direkomendasikan adalah injeksi penisilin tunggal. Jika Anda mengidap sipilis selama lebih dari satu tahun, Anda mungkin membutuhkan dosis tambahan.

Penisilin merupakan satu-satunya obat rekomendasi untuk wanita hamil. Wanita yang alergi terhadap penisilin dapat menjalani proses desensitisasi, sehingga memungkinkan untuk menerima injeksi penisilin.

Jika Anda dirawat karena sipilis selama kehamilan, anak Anda yang baru lahir juga harus diuji terhadap kemungkinan sipilis bawaan. Jika bayi Anda terinfeksi, dia akan menerima perawatan antibiotik.

Pada hari pertama Anda menerima pengobatan sipilis, Anda mungkin mengalami reaksi Jarisch-Herxheimer. Gejalanya termasuk demam, kedinginan, mual, sakit pegal, dan sakit kepala. Reaksi ini biasanya tidak berlangsung selama lebih dari satu hari.

Tindak lanjut pengobatan

Setelah Anda melakukan pengobatan sipilis, dokter akan meminta Anda:

• Melakukan tes darah berkala dan pemeriksaan untuk memastikan Anda merespon dosis penisilin yang biasa. Tindak lanjut spesifik Anda akan tergantung pada tahap sipilis yang didiagnosis dokter.
• Menghindari kontak seksual dengan pasangan yang baru hingga pengobatan rampung dilakukan dan tes darah mengindikasikan bahwa infeksi telah terobati.
• Ingatkan pasangan seks Anda untuk diperiksa dan diobati jika perlu.
• Melakukan tes infeksi HIV.

Pasangan seks yang terinfeksi sifilis mungkin tidak terlalu terlihat. Ini karena luka sipilis tersembunyi di sekitar vagina, anus, di bawah kulup penis, atau di mulut. Kecuali jika Anda mengetahui bahwa pasangan seks Anda telah diperiksa dan dirawat, Anda mempunyai risiko terkena sipilis lagi dari pasangan seks yang terinfeksi.

Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan Rumahan

Gaya hidup atau obat-obatan seperti apa yang membantu penyembuhan sifilis?

Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi sifilis:

• Jangan berhenti meminum obat atau mengubah dosisnya hanya karena Anda merasa lebih baik, kecuali dokter Anda yang menganjurkan.
• Informasikan kepada dokter jika Anda sedang hamil. Penularan sifilis terhadap janin sangat berbahaya.
• Informasikan kepada dokter jika Anda memiliki alergi terhadap obat terutama terhadap penisilin.
• Cuci tangan Anda sesering mungkin untuk menghindari penyebaran infeksi.
• Lakukanlah aktivitas seksual yang aman dengan menggunakan kondom.
• Beritahukan pasangan seksual Anda jika Anda tengah menjalani pengobatan sifilis sehingga mereka juga mendapatkan pemeriksaan medis.
• Usahakan untuk tidak melakukan aktivitas seksual selama minimal 2 minggu setelah pengobatan atau hingga dinyatakan bersih oleh dokter Anda.
• Memeriksakan diri Anda manakala terdapat penyakit menular seksual (PMS) lainnya.

Jika Anda menduga Anda berisiko terkena sipilis, langkah terbaik adalah menghindari hubungan seksual sampai Anda berdiskusi dengan dokter. Jika Anda melakukan aktivitas seksual sebelum menemui dokter, pastikan untuk melakukan seks aman, seperti menggunakan kondom.

Jika Anda memiliki pertanyaan lain, silakan konsultasikan dengan dokter Anda yang lebih memahami solusi terbaik untuk Anda.

Pengertian Penyakit Sinus

Penyakit Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi dan pembengkakan pada sinus akibat adanya penyumbatan di dalamnya. Gejala sinusitis dapat terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya dalam jangka waktu yang pendek (biasanya 4 minggu), dan hal itu biasanya disebut sinusitis akut.

Untuk kasus sinusitis yang lebih parah, yaitu peradangan sinus dalam waktu yang lama sekitar 3 bulan dan sering kambuh, ini disebut sinus kronis.

Sinusitis adalah kondisi yang umum terjadi dan dapat terjadi pada semua orang. Kondisi ini dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Apa itu sinusitis kronis?

Sinusitis kronis adalah kondisi di mana rongga di sekitar saluran hidung (sinus) meradang dan membengkak selama setidaknya 12 minggu, sulit untuk hilang walaupun telah dilakukan perawatan.

Kadang, kondisi yang juga dikenal sebagai rhinosinusitis kronis ini bisa mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan penumpukan lendir. Malah terkadang jika Anda bernapas melalui hidung akan menjadi sulit, area di sekitar mata dan wajah dapat terasa bengkak, dan Anda dapat mengalami nyeri pada wajah.

Kondisi sinus kronis dapat diakibatkan oleh infeksi, pertumbuhan pada sinus (polip hidung) atau penyimpangan septum hidung. Kondisi ini paling umum menyerang dewasa muda dan dewasa, namun juga dapat menyerang anak-anak.

Tanda-tanda & gejala

Apa gejala sinusitis?

Gejala sinusitis akut

Biasanya, gejala sinusitis akut berlangsung selama 4-12 minggu. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh flu biasa yang mengakibatkan infeksi virus. Seringnya, sinusitis akut bisa diobati di rumah, tetapi jika tidak kunjung sembuh maka dapat berkembang menjadi infeksi dan komplikasi serius.

Saat Anda memiliki radang sinus akut, Anda dapat menunjukkan gejala-gejala seperti:

• Lendir hidung (ingus) berwarna hijau atau kuning
• Wajah terasa nyeri atau tertekan
• Hidung mampet
• Indra penciuman memburuk (sulit menangkap bau)
• Batuk
• Bau mulut
• Kelelahan
• Sakit gigi

Gejala sinusitis kronis

Setidaknya diperlukan 2 dari 4 tanda-tanda dan gejala sinusitis kronis untuk konfirmasi peradangan hidung, yaitu:

• Cairan kental berwarna yang keluar dari hidung atau adanya cairan mengalir dari belakang tenggorokan (postnasal drainage)
• Penyumbatan hidung, menyebabkan kesulitan bernapas melalui hidung
• Nyeri, sensitif dan bengkak di sekitar mata, pipi, hidung atau kening
• Berkurangnya indera penciuman dan pengecap pada orang dewasa atau batuk pada anak-anak

Tanda-tanda dan gejala sinusitis kronis lainnya dapat meliputi:

• Nyeri pada telinga
• Nyeri pada rahang atas dan gigi
• Batuk yang memburuk pada malam hari
• Radang tenggorokan
• Napas bau (halitosis)
• Kelelahan atau mudah marah
• Mual

Gejala sinusitis kronis dan akut memiliki tanda-tanda yang serupa, namun sinusitis akut adalah infeksi sementara dan sering dikaitkan dengan munculnya demam. Tanda-tanda dan gejala dari sinus kronis berlangsung lebih lama dan sering kali menyebabkan kelelahan berlebih.

Demam bukanlah gejala umum dari sinusitis kronis, namun Anda dapat mengalaminya dengan sinusitis akut. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas.

Apa bedanya sinusitis dengan flu atau pilek biasa?

Flu biasanya dimulai dengan sakit tenggorokan, yang biasanya akan hilang setelah 1-2 hari. Suara sengau, hidung berair, hidung tersumbat, dan bersin-bersin atau batuk-batuk biasanya akan hilang setelah 4-5 hari. Pada orang dewasa, demam yang menyertai flu biasanya jarang terjadi. Lain ceritanya dengan anak-anak, biasanya anak-anak terkena demam yang disertai pilek.

Saat pilek, hidung Anda akan berair dipenuhi oleh cairan yang berasal dari sekresi rongga hidung hanya untuk beberapa hari. Setelah itu, cairan ini akan mengental dan warnanya menjadi lebih gelap. Ingus kental ini terjadi secara natural. Perlu diingat, ingus yang mengental tak selalu berarti Anda terkena sinusitis.

Kalau Anda hanya terserang flu biasa, biasanya Anda memerlukan tissue ataupun obat flu untuk beberapa hari saja. Tapi, pada ada umumnya, pilek atau flu akan sembuh sendirinya setelah sepuluh hari atau bahkan kurang dari waktu tersebut. Berikut merupakan tanda atau gejala lengkapnya:

• Sakit tenggorokan
• Batuk-batuk
• Sakit kepala
• Hidung tersumbat
• Bersin-bersin
• Lemas
• Hidung beringus
• Bengkak pada rongga hidung
• Demam

Apa bedanya sinusitis dan rhinitis?

Banyak orang tak bisa membedakan antara rhinitis dan sinusitis Memang apa bedanya sinusitis dan rhinitis?

Hubungan rhinitis dan sinusitis adalah seperti adanya hubungan sebab-akibat. Tersumbatnya saluran pernapasan yang terjadi ketika seseorang memiliki rhinitis, sering kali menyebabkan terjadinya infeksi, dan salah satu penyebab sinusitis adalah adanya infeksi pada jalur pernapasan Anda.

Beberapa gejala yang ditunjukkan sinus dan rhinitis memiliki kemiripan, seperti hidung tersumbat, lemas, hingga terasa adanya tekanan pada kepala Anda. Selain itu, baik rhinitis maupun sinus sama-sama terjadi akibat adanya sebuah peradangan.

Bedanya, peradangan rhinitis terjadi dalam rongga hidung Anda, sedangkan peradangan sinusitis adalah terjadi pada rongga udara yang terletak di belakang tulang pipi dan dahi (sinus).

Rhinitis adalah peradangan yang terjadi pada dinding hidung Anda. Rhinitis terbagi menjadi rhinitis yang disebabkan oleh alergen (hay fever atau allergic rhinitis) dan rhinitis yang bukan disebabkan oleh alergen (non-allergic rhinitis).

Rhinitis alergi disebabkan oleh adanya alergen seperti debu dan serbuk sari bunga yang terbawa udara lalu terhirup oleh organ pernapasan Anda. Sedangkan rhinitis non-alergi terjadi karena adanya paparan dari polutan yang menyumbat hidung Anda, seperti asap rokok, aroma yang terlalu menyengat, hingga suhu yang terlalu dingin.

Seperti yang telah diuraikan di atas, sinusitis adalah pembengkakan atau peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Berbeda halnya dengan rhinitis, peradangan sinus ini umumnya terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh keberadaan bakteri, jamur maupun virus, hingga kondisi di mana salah satu bagian hidung berukuran lebih kecil dari bagian yang lainnya (deviasi septum).

Gejala sinusitis dan rhinitis hampir sama, tapi tetap berbeda
Meskipun ada beberapa kemiripan gejala sinusitis dan gejala, namun gejala rhinitis (baik yang allergic maupun yang non-allergic) biasanya dapat dikenali dengan timbulnya gejala seperti sering bersin, hidung yang terasa gatal, dan hidung memerah yang disebabkan penyumbatan pada hidung hingga akhirnya mengalami iritasi.

Pada allergic rhinitis, gejala-gejala ini timbul sebagai hasil perlindungan diri terhadap alergen (imun tubuh), yang dilakukan oleh suatu senyawa kimia yang terdapat dalam tubuh Anda yang dikenal dengan histamin.

Sedangkan pada sinusitis, setelah hidung mengalami penyumbatan, hidung menjadi wadah yang sesuai bagi kuman untuk tumbuh dan berkembang. Gejala berlanjut dengan munculnya rasa sakit kepala dan keluarnya cairan berwarna kuning kehijauan dari hidung Anda. Hidung yang tersumbat membut Anda kesulitan dalam bernapas dan menghirup aroma seperti biasanya, hingga timbulnya rasa sakit dan pembengkakan pada area mata, pipi dan kening.

Penyebab

Apa penyebab sinusitis?

Sinusitis seringnya disebabkan oleh bakteri, alergi, polusi, atau polip hidung (pertumbuhan daging jinak di hidung yang bisa bikin Anda tersumbat saat bernapas).

Selain itu, sinusitis sering terjadi setelah Anda terkena flu, atau setelah mengalami kontak dengan alergen (seperti makan, minum, menghirup, atau menyentuh). Sedangkan sinusitis kronis dapat disebabkan oleh sinus sempit bawaan atau sinus yang terlalu kering.

Faktor-faktor risiko

Siapa yang berisiko terkena sinusitis?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena sinusitis, seperti:

• Kontak langsung dengan alergen atau pencemaran lingkungan
• Mengalami gangguan kekebalan tubuh seperti HIV / AIDS, fibrosis kistik
• Memiliki asma
• Merokok

Obat & diagnosis

Apa obat sinusitis yang biasa digunakan?

Untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan yang disebabkan oleh sinusitis, biasanya digunakan obat sinusitis semprot atau obat sinusitis tetes dekongestan. Untuk efek sakit kepala yang ringan, Anda dapat menggunakan obat sinusitis yang mengandung penghilang rasa sakit, biasanya mengandung paracetamol.

Dokter mungkin akan meresepkan antihistamin atau obat sinusitis yang disemprot ke hidung, biasanya obat kortikosteroid guna mengurangi pembengkakan sinus. Metode ini sangat efektif jika Anda menderita polip hidung.

Biasanya, peradangan pada sinus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh infeksi, dan dokter pun akan meresepkan obat sinusitis yang mengandung antibiotik. Selain itu, dokter juga mungkin melakukan prosedur pembedahan pada kasus sinus yang disebabkan oleh infeksi jamur, septum hidung yang menyimpang, atau polip hidung.

Apa saja tes yang dilakukan untuk mendiagnosis sinusitis?

Umumnya, dokter akan memeriksa telinga, hidung dan tenggorokan, dan dada Anda menggunakan stetoskop medis untuk mendiagnosis adanya sinusitis. Selain itu, dokter akan melakukan endoskopi pada hidung, CT scan atau MRI pada sinus, hal ini dilakukan jika Anda dicurigai memiliki infeksi atau peradangan sinus karena jamur atau tumor lainnya.

Untuk menentukan penyebab kondisi ini, dokter akan bertanya tentang frekuensi sinusitis yang Anda alami tiap tahunnya, dan aktivitas apa yang Anda lakukan sebelum gejala didiagnosis. Sehingga nantinya, dokter dapat merekomendasikan rontgen atau melakukan tes lain jika diperlukan.

Pengobatan Alami

Apa saja pengobatan alami untuk sinusitis yang bisa dilakukan di rumah?

Sinusitis yang belum sampai tahap kronis mungkin bisa diobati sendiri di rumah dengan berbagai cara, termasuk penggunaan obat seperti yang telah dijelaskan di atas tadi. Beberapa pengobatan di rumah untuk sinusitis adalah:

• Menghirup uap. Anda bisa menyiapkan air panas di mangkuk besar dan hiruplah uap yang keluar dari air panas tersebut. Hal ini akan memberi sedikit kelegaan untuk jalan napas Anda. Cara ini belum terbukti secara ilmiah dapat menyembuhkan sinusitis, tetapi mungkin bisa sedikit membantu Anda.
• Membersihkan saluran hidung. Cara ini dilakukan dengan cara membersihkan atau membilas hidung dengan air garam.
• Kompres air hangat. Anda bisa mengompres bagian hidung dan sekitar hidung Anda dengan air hangat. Hal ini dapat meringankan beberapa gejala dan menjadi obat sinusitis sederhana.
• Tidur dengan kepala diangkat. Anda bisa memakai beberapa bantal untuk menopang kepala Anda lebih tinggi dari biasanya saat tidur. Hal ini dapat mengurangi jumlah tekanan di sekitar sinus dan mengurangi ketidaknyamanan akibat rasa sakit.
• Meminum obat sinusitis atau dekongestan tablet. Obat ini dapat mengurangi pembengkakan dan membantu mengurangi penyumbatan pada sinus.
• Memakai obat sinusitis semprot (dekongestan). Memiliki manfaat yang sama seperti tablet dekongestan. Namun, penggunaan dalam waktu lama (lebih dari satu minggu) justru dapat menyebabkan penyumbatan pada sinus bertambah buruk.

Jika Anda sudah melakukan pengobatan atau memakai obat sinusitis seperti di atas tetapi tidak kunjung sembuh setelah satu minggu atau justru bertambah buruk, sebaiknya periksakan segera ke dokter.

Bagaimana cara mencegah agar radang sinus tidak kambuh?

Jika Anda memiliki riwayat sinusitis, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah radang sinus Anda kambuh kembali.

1. Rajin cuci tangan

Mungkin tanpa sadar, Anda sering kali menyentuh mata, hidung, dan mulut. Akibatnya, kuman dapat masuk ke dalam tubuh lewat tiga “pintu” utama ini dan membuat Anda sakit. Oleh karena itu, cuci tangan adalah langkah paling penting untuk menghindari sakit dan penyebaran kuman atau virus ke orang lain.

Bahkan, menurut sebuah studi menujukkan bahwa rajin mencuci tangan dapat mengurangi gangguan pernapasan, seperti pilek, hingga 16-21%.

2. Perbanyak minum air

Minum air mineral dengan cukup setiap harinya, adalah cara yang efektif untuk menjaga selaput lendir yang lembap dan tipis karena dapat mencegah saluran hidung kering. Selaput lendir harus tetap terhidrasi supaya bisa bekerja secara efisien, sehingga dapat mengurangi risiko tertular infeksi virus.

Selain itu, memperbanyak konsumsi air di saat Anda sedang flu dapat membantu Anda untuk lebih cepat sembuh.

3. Dapatkan vaksin flu tahunan

Menurut CDC, dengan Anda mencegah flu berarti Anda juga mencegah sinusitis. Vaksin influenza selalu didesain ulang untuk mencocokkan rantai virus yang selalu mengalami perubahan setiap tahunnya. Vaksin flu direkomendasikan untuk:

• Semua anak usia 6-18 tahun
• Orang dewasa >65 tahun
• Orang dewasa yang berisiko tinggi mengalami komplikasi influenza
• Petugas kesehatan

Vaksin juga bisa “mengajarkan” tubuh Anda bagaimana mengidentifikasi virus dan bisa juga dijadikan obat sinusitis untuk melawan penyebab tertentu. Kemudian, ketika Anda datang ke dalam kontak dengan virus yang sebenarnya, sistem kekebalan tubuh Anda dengan cepat mengenalinya dan melakukan perlawanan.

Sayangnya, mendapatkan vaksin flu bukanlah jaminan bahwa Anda tidak akan terkena flu, namun setidaknya, vaksin flu dapat memberikan Anda hampir lebih dari setengah “porsi” kekebalan tubuh dan membuat gejala yang muncul jadi lebih ringan. Dan, meskipun mungkin tidak sempurna, vaksin flu adalah pertahanan terbaik yang Anda dapat lakukan untuk mencegah sinusitis.

4. Hindari stres

Secara medis, ketika Anda sedang stres, antibodi Anda akan siap bereaksi. Semakin lama stres bertahan, maka antibodi akan semakin melemah. Dan biasanya, ketika stres beberapa orang akan menggosok hidung lebih sering dari biasanya. Hal tersebut dapat menyebabkan iritasi pada daerah hidung, sehingga menjadi pintu masuk untuk peradangan sinus.

Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah sinusitis adalah menghindari stres dengan melakukan hal-hal yang Anda senangi seperti pergi ke bioskop, jalan-jalan, dan berolahraga,

5. Konsumsi makanan bergizi

Konsumsi makanan bergizi seperti sayur dan buah-buahan dapat menjaga tubuh Anda tetap dalam keadaan prima. Menurut Harvard Medical School, kondisi tubuh yang prima dapat menjaga sistem kekebalan tubuh Anda. Oleh karena itu, Anda perlu memerhatikan makanan yang Anda konsumsi untuk mencegah sinusitis. Makanan yang mungkin dapat Anda konsumsi adalah buah-buahan dan sayuran berwarna gelap yang kaya akan antioksidan.

6. Hindari alergen di lingkungan

Orang yang menderita sinusitis kronis harus menghindari daerah-daerah dan kegiatan yang dapat memperburuk kondisi mereka. Hal yang bisa dialkukan untuk mencegah gejala sinusitis adalah dengan menghindari asap rokok, cerutu, dan pipa asap yang dapat mengganggu peradangan lanjut membran dalam hidung dan sinus.

Anda tidak perlu menjauhi orang yang pilek dan yang memiliki infeksi saluran pernapasan atas, namun, setelah Anda melakukan kontak dengan mereka, cucilah tangan Anda dengan sabun.

7. Menjaga kesehatan mulut

Infeksi sinus juga dapat muncul akibat gigi berlubang atau trauma di ruang sinus. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mulut dengan rajin gosok gigi, berkumur, menggosok lidah, serta menggunakan benang gigi, dapat mencegah sinusitis.

Penyakit Paru – Paru

Penyakit Paru paru

Kerap mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau suara napas yang berbunyi (mengi) bisa menjadi tanda adanya masalah pada paru-paru. Apa saja jenis penyakit paru yang umum terjadi? Simak artikel berikut ini agar Anda dapat mengantisipasinya.

Paru-paru merupakan salah satu organ yang berperan penting dalam menjalankan sistem respirasi (pernapasan). Saat udara mencapai paru-paru, akan terjadi pertukaran antara oksigen dari luar tubuh dengan karbon dioksida dari dalam darah. Jika paru-paru mengalami gangguan, maka proses ini pun akan ikut terganggu.

Macam-Macam Penyakit Paru-paru
Berikut ini adalah macam-macam penyakit yang dapat menyerang paru-paru:

1. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan kantung-kantung udara di dalam paru menjadi meradang dan membengkak. Pneumonia sering kali disebut dengan paru-paru basah, sebab pada kondisi ini, paru-paru bisa dipenuhi oleh cairan atau nanah.

Penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri, virus, atau jamur. Penularan infeksi ini terjadi melalui udara yang terkontaminasi kuman dari penderita yang bersin atau batuk.

2. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga bisa menyebar ke bagian tubuh lain, seperti tulang, kelenjar getah bening, sistem saraf pusat, dan ginjal.

Bakteri TBC menyebar di udara melalui percikan dahak atau cairan dari saluran pernapasan penderitanya, misalnya saat batuk atau bersin.

3. Bronkitis
Bronkitis adalah peradangan yang terjadi pada percabangan saluran udara yang menuju ke paru-paru atau bronkus. Salah satu penyebab yang paling sering adalah infeksi virus.

Virus penyebab bronkitis biasanya ditularkan dari penderita melalui percikan dahak yang dikeluarkannya. Jika percikan dahak terhirup atau tertelan oleh orang lain, maka virus akan menginfeksi saluran bronkus orang tersebut.

4. Penyakit paru obstruktif kronis
Penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK) adalah peradangan paru kronis yang menyebabkan terjadinya gangguan aliran udara baik menuju dan dari paru-paru. Ada dua jenis gangguan yang terjadi pada PPOK, yaitu bronkitis kronis dan emfisema.

Pada bronkitis kronis, peradangan terjadi pada dinding bronkus (saluran yang membawa udara dari dan menuju ke paru-paru). Sedangkan pada emfisema, peradangan atau kerusakan terjadi pada aveoli (kantung kecil pada paru-paru).

Faktor utama yang meningkatkan risiko terjadinya PPOK adalah paparan asap rokok dalam jangka panjang, baik secara aktif maupun pasif. Sedangkan faktor risiko lainnya adalah paparan debu, asap bahan bakar, dan uap bahan kimia.

5. Asma
Asma adalah penyakit kronis yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran pernapasan, sehingga menyebabkan sesak napas.

Penderita asma umumnya memiliki saluran pernapasan yang lebih sensitif. Saat penderita asma terpapar alergen atau pemicu, saluran pernapasannya akan meradang, membengkak, dan menyempit. Hal ini akan membuat aliran udara menjadi terhambat. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang membuat penderitanya semakin sulit bernapas.

Ada beberapa hal yang bisa memicu munculnya serangan asma, seperti paparan debu, asap rokok, bulu binatang, udara dingin, virus, dan zat kimia.

Itulah macam-macam penyakit paru yang perlu Anda ketahui dan waspadai. Jika Anda kerap mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, napas berbunyi (mengi), atau bahkan nyeri dada, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter agar bisa diberikan penanganan yang tepat.

Penyakit Vertigo

Penyakit Vertigo

Vertigo adalah sebuah keadaan di mana penderitanya merasa seolah-olah lingkungan di sekitarnya berputar atau melayang. Vertigo juga akan membuat penderitanya kehilangan keseimbangan, sehingga kesulitan untuk sekadar berdiri atau bahkan berjalan.

Cara terbaik untuk menggambarkan vertigo adalah dengan memutar tubuh Anda beberapa kali dan merasakan kondisi yang dihasilkan.

Perlu diketahui, vertigo bukanlah nama penyakit. Namun, sebuah kumpulan gejala vertigo yang bisa terjadi secara tiba-tiba atau berlangsung selama jangka waktu tertentu dalam satu waktu.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja gejala vertigo?

Gejala umum vertigo adalah pusing, sensasi kepala berputar atau kepala kliyengan, dan kehilangan keseimbangan. Tanda-tanda vertigo tersebut akan memicu penderitanya mengalami sensasi mual, muntah, mengeluarkan keringat berlebih, sakit kepala, bahkan kadang disertai nistagmus (gerakan mata yang tidak normal), telinga berdenging (tinnitus) dan sensasi merasa akan terjatuh.

Biasanya, vertigo akan hilang timbul dan bisa berlangsung selama beberapa menit, jam, atau bahkan hari.

Harap konsultasikan ke dokter jika vertigo tidak kunjung membaik. Dokter biasanya akan menanyakan gejala vertigo Anda, melakukan pemeriksaan sederhana, serta menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut. Terutama apabila frekuensi Anda mengalami vertigo termasuk sering.

Penyebab

Apa saja penyebab vertigo?

Penyebab vertigo sebenarnya tergantung dengan jenis vertigo yang dialami. Dikutip dari WebMD, secara umum, terdapat dua jenis vertigo yang dikelompokkan berdasarkan penyebabnya. Masing-masing kondisi juga mempunyai penyebabnya tersendiri.

Vertigo periferal

Ini merupakan jenis vertigo yang paling sering dialami oleh kebanyakan orang. Penyebab vertigo periferal diakibatkan karena adanya gangguan pada telinga bagian dalam yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan tubuh.

Saat Anda menggerakkan kepala, bagian dalam telinga akan memberi tahu di mana posisi kepala Anda berada lalu mengirimkan sinyal ke otak untuk menjaga keseimbangan. Namun, jika terdapat masalah pada bagian dalam telinga, maka Anda akan merasakan sakit dan pusing. Hal ini bisa terjadi karena adanya peradangan di telinga bagian dalam atau karena adanya infeksi virus.

Selain itu, vertigo jenis ini disebabkan oleh beberapa hal lain seperti:

Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV)
BPPV adalah penyebab vertigo yang paling umum yaitu kondisi di mana vestibuler telinga dalam mengalami gangguan dan dipicu oleh perubahan posisi dan gerakan kepala yang secara tiba-tiba. Misalnya:

• Perubahan posisi kepala dari posisi tegak menjadi menunduk tiba-tiba
• Bangun tiba-tiba dari tidur
• Gerakan mendongakan kepala

Kondisi BPPV juga lebih rentan dialami oleh orang-orang yang pernah melakukan operasi pada telinganya, mempunyai riwayat cedera kepala, mengalami infeksi telinga, serta sedang berada dalam masa penyembuhan dan bedrest.

Para ahli menduga jika BPPV terjadi akibat adanya serpihan kristal kabonat yang lepas dari dinding saluran telinga bagian dalam. Jadi begini, di dalam telinga bagian tengah, terdapat kristal karbonat yang berfungsi untuk menciptakan ilusi gerak. Ketika perubahan posisi kepala terjadi tiba-tiba, kristal-kristal ini akan masuk ke dalam bagian telinga yang berisi cairan keseimbangan.

Masuknya kristal-kristal tersebut merangsang gerakan cairan yang tidak normal pada saat Anda menggerakan kepala tertentu. Nah, hal inilah yang membuat seseorang menjadi tidak seimbang dan dunia di sekitarnya terasa berputar-putar.

Kondisi ini biasanya terjadi dalam waktu yang singkat dan sering kali dialami oleh orang yang berusia di atas 50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika orang yang lebih muda bisa mengalami kondisi ini.

Riwayat cedera kepala

Penyebab vertigo periferal yang lainnya adalah karena dampak dari riwayat cedera kepala. Orang yang mengalami cedera kepala sebelumnya, bisa saja mengalami gangguan telinga dalam yang kemudian menyebabkan vertigo.

Mengalami labirintitis

Labirintitis adalah peradangan dan infeksi yang terjadi di bagian telinga dalam, khususnya pada saluran berliku-liku dan penuh cairan. Telinga bagian dalam ini berperan penting dalam mengendalikan pendengaran dan keseimbangan seseorang.

Infeksi telinga bagian dalam biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri, misalnya pada pengidap flu atau pilek.

Apabila Anda mengalami vertigo karena labirintitis, maka gejala lain yang juga akan timbul yaitu mual, muntah, kehilangan kemampuan pendengaran, nyeri pada telinga, serta demam.

Vestibular neuronitis
Vestibular neuronitis adalah peradangan yang terjadi pada bagian saraf telinga yang terhubung langsung dengan otak. Peradangan ini diakibatkan oleh infeksi virus yang biasanya terjadi tiba-tiba tanpa diiringi dengan gejala atau tanda lainnya, bahkan tidak ada masalah pada kemampuan pendengaran.

Vertigo dapat terjadi selama beberapa jam dalam sehari. Gejala vertigo akibat kondisi ini adalah kehilangan kesimbangan, kepala kliyengan, mual, dan bahkan munta. Meski peradangan ini terjadi di bagian saraf telinga, kondisi ini biasanya tidak membuat penderitanya mengalami kehingalan pendengaran.

Penyakit Ménière

Penyakit Ménière merupakan penyakit langka yang menyerang telinga bagian dalam. Walaupun penyakit Ménière ini jarang terjadi, tetapi kondisi ini bisa menjadi penyebab vertigo yang sangat parah. Bahkan dalam beberapa kasus, gejalanya meliputi telinga berdenging, dan kehilangan pendengaran dalam kurun waktu tertentu.

Apabila Anda mengalami penyakit Ménière, maka gejala yang muncul akan dialami selama beberapa jam bahkan berhari-hari. Penyakit ini juga disertai dengan gejala mual dan muntah yang hebat. Meskipun cukup berbahaya, para ahli belum dapat memastikan apa yang menjadi penyebab dari penyakit Ménière.

Vertigo central

Berbeda dengan vertigo periferal yang disebabkan oleh gangguan pada telinga dan organ keseimbangan, vertigo central terjadi akibat adanya masalah pada otak. Bagian otak yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini adalah cerebellum atau otak kecil.

Berikut adalah beberapa kondisi yang menjadi penyebab vertigo central:

Migrain

Adalah sakit kepala sebelah tidak tertahankan disertai dengan rasa nyeri yang berdenyut dan sering dialami oleh orang yang berusia muda. Migrain biasanya dialami oleh kalangan muda dan dianggap sebagai salah satu penyebab umum dari penyakit ini.

Menghindari pemicu dan mengobati migrain biasanya dapat meringankan vertigo.

Multiple sclerosis

Kondisi ini merupakan gangguan sinyal saraf yang terjadi pada sistem saraf pusat – otak dan tulang belakang – yang diakibatkan oleh kesalahan pada sistem kekebalan tubuh seseorang.

Neuroma akustik

Adalah tumor jinak yang tumbuh pada saraf vestibular, yaitu sistem saraf yang menghubungkan telinga dengan otak. Sejauh ini neuroma akustik disebabkan oleh kelainan genetik.

Tumor otak

Tumor otak yang menyerang cerebellum atau otak kecil, sehingga mengakibatkan gangguan koordinasi gerakan tubuh.

Stroke

Adalah penyumbatan pembuluh darah yang terjadi pada otak. Selain itu, mengonsumsi beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan efek samping vertigo.

Diagnosis
Bagaimana cara mendiagnosis vertigo?
Sama seperti diagnosis awal penyakit pada umumnya, dokter akan menanyakan segala hal yang berkaitan dengan vertigo yang Anda rasakan secara detail. Mulai dari sensasi vertigo yang dialami (melayang, goyang, atau berputar), pemicu timbulnya vertigo, frekuensi kemunculan, durasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, dokter juga akan bertanya tentang riwayat medis Anda, termasuk riwayat migrain, cedera kepala atau infeksi telinga dalam waktu dekat, dan obat-obatan yang rutin Anda konsumsi.

Jika diperlukan, maka dokter akan melakukan tahap pemeriksaan fisik lebih lanjut. Pemeriksaan ini ditujukan untuk melihat fungsi pendengaran, gerak bola mata, dan fungsi otak. Beberapa metode pemeriksaan untuk diagnosis vertigo tersebut meliputi:

Tes impuls kepala
Pasien diminta untuk fokus menatap ujung hidung dokter sementara kepalanya digerakan dengan cepat ke satu sisi. Jika mata pasien tetap fokus menatap hidung dokter selama gerakan ini, hasil tesnya negatif bukan vertigo.

Tes romberg
Pasien diminta untuk berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula matanya terbuka kemudian dokter akan menyuruh menutup matanya selama beberapa 20-30 detik. Hasil tes positif bila pasien kehilangan keseimbangan atau terjatuh setelah menutup mata.

Tes unterberger

Pasien berdiri dengan kedua kaki lurus ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama 30 detik dengan mata terpejam. Jika ia positif mengalami vertigo, ia akan berputar samping, ke arah sisi yang bermasalah.

Tes nistagmus

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui gerakan bola mata yang tidak terkendali (nistagmus) dengan cara menginstruksikan pasien melakukan manuver cepat yang bisa memicu vertigo. Ketika tes berlangsung, pasien akan dipantau menggunakan alat Electronystagmography (ENG) dan Videonystagmography (VNG) yang berfungsi untuk merekam gerakan mata menggunakan kacamata khusus.

Pemeriksaan pendengaran

Pemeriksaan ini menggunakan tes garpu tala dan audiometri yang dilakukan oleh dokter THT, terutama jika Anda mengalami tinnitus (telinga berdengung) ataupun kehilangan pendengaran.

Pemeriksaan penunjang

Selain beberapa tes untuk diagnosis vertigo yang sudah disebutkan di atas, untuk memastikan lebih lanjut dokter juga akan melakukan serangkaian tes penunjang lainnya seperti tes darah dan urin, foto rontgen, CT scan, serta MRI.

Obat

Bagaimana cara mengobati vertigo?

Sering kali gejala vertigo akan membaik seiring berjalannya waktu meski tanpa pengobatan, salah satunya dengan beristirahat. Hal ini terjadi karena otak Anda dapat menyesuaikan diri pada perubahan telinga bagian dalam, sebagai upaya menjaga keseimbangan tubuh.

Meski begitu, ada beragam pengobatan yang ditentukan berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan vertigo yang dialami oleh pasien, di antaranya:

Vertigo yang disebabkan karena Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Melakukan beberapa manuver kepala sederhana berikut ini bisa jadi salah satu cara untuk mengatasi vertigo yang Anda alami.

Manuver epley

• Duduklah tegak di pinggir kasur Anda dengan tungkai tergantung. Putar kepala Anda 45 derajat ke kiri. Taruh bantal di bawah Anda, jadi ketika Anda berbaring, bantal akan bertumpu di antara bahu dan bukan di bawah kepala Anda.
• Segera berbaring, kepala menghadap kasur (tetap dalam sudut 45 derajat). Bantal harus berada di bawah bahu Anda. Tunggu 30 detik.
• Putar kepala Anda 90 derajat ke kanan tanpa mengangkatnya. Tunggu 30 detik.
• Putar kepala dan tubuh Anda dari sisi kiri ke sisi kanan, jadi Anda bisa melihat lantai. Tunggu 30 detik.
• Perlahan-lahan duduk lagi, tapi tetaplah di kasur selama beberapa menit.
• Ulangi instruksi gerakan dari sisi yang berbeda dan lakukan gerakan ini tiga kali sebelum tidur setiap malamnya, sampai Anda tidak pusing lagi selama 24 jam.

Manuver Foster/Half Somersault

• Duduklah bersimpuh dan dongakkan kepala Anda ke atas menatap langit-langit untuk beberapa detik.
• Sentuh lantai dengan kepala (keadaan sujud). Selipkan dagu ke dalam dada sehingga kepala Menyentuh atau masuk ke dalam lutut. Tunggu sekitar 30 detik.
• Masih dalam posisi bersujud, putar kepala Anda ke arah telinga yang bermasalah (kalau Anda merasa pusing di sisi kiri, putar wajah ke siku kiri). Tunggu 30 detik.
• Kemudian dengan gerakan yang cepat, angkat kepala Anda sampai posisinya lurus horizontal dengan punggung Anda. Jaga kepala Anda tetap pada sudut 45 derajat. Tunggu 30 detik.
• Setelah itu dengan gerakan yang cepat juga angkat kepala Anda dan duduklah tegak, tapi tetap jaga kepala Anda menghadap bahu pada posisi yang sama dengan telinga yang bermasalah. Lalu, berdilah perlahan.

Anda bisa mengulangnya beberapa kali untuk mengurangi pusingnya. Setelah ronde pertama, istirahatlah selama 15 menit sebelum lanjut lagi ke ronde kedua.

Setelah melakukan beberapa manuver yang sudah di sebutkan di atas, coba untuk tidak menggerakkan kepala Anda terlalu jauh ke atas ataupun ke bawah dalam beberapa saat.

Jika Anda tidak merasa lebih baik selama seminggu setelah mencoba latihan tersebut, segeralah bicarakan dengan dokter Anda lagi, dan tanya apa yang sebaiknya Anda lakukan selanjutnya. Anda mungkin tidak melakukan latihan tersebut dengan benar, atau mungkin ada sesuatu lainnya yang menyebabkan sakit kepala Anda.

Vertigo yang disebabkan penyakit Meniere

Jika vertigo Anda disebabkan karena penyakit ini, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu meringankan kedua gejala tersebut, yaitu:

• Membatasi konsumsi garam dan diuretik untuk mengurangi volume cairan yang tersimpan dalam tubuh
• Menghindari kafein, cokelat, alkohol, dan rokok
• Melakukan fisioterapi untuk mengatasi gangguan keseimbangan
• Akupuntur dan akupresur bagi sebagian orang mampu mengurangi gejala keduanya, namun sampai saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa hal tersebut efektif.

Mengonsumsi obat tertentu

Untuk mengurangi gejala, dokter dapat memberikan obat vertigo agar Anda merasa lebih nyaman. Beberapa obat yang umumnya digunakan untuk meredakan gejala vertigo seperti sakit kepala, mual dan muntah di antaranya: meclizine, promethazine, diphenhydramine, dimenhydrinate, dan lorazepam.

Dokter juga akan mempertimbangkan untuk memberikan antibiotik atau steroid yang berfungsi untuk mengurangi pembengkakan dan penyembuhan infeksi. Sedangkan untuk penyakit Ménière, diuretik (pil air) dapat diresepkan untuk mengurangi tekanan dari penumpukan cairan.

Informasi mengenai dosis dan jenis obat untuk vertigo lainnya, selalu konsultasikan pada dokter atau apoteker Anda sebelum memulai pengobatan.

Terapi rehabilitasi vestibular (VRT)

Terapi ini dilakukan jika keluhan yang dialami adalah pusing dan kesulitan menjaga keseimbangan tubuh. Ini adalah jenis terapi fisik untuk memperkuat sistem vestibular. Secara fungsi, sistem vestibular berperan dalam menjaga keseimbangan, koordinasi, serta kontrol pergerakan tubuh.

Operasi

Jika vertigo disebabkan oleh masalah mendasar yang lebih serius, seperti tumor atau cedera pada otak atau leher, operasi dapat dilakukan untuk membantu meringankan bahkan menyembuhkan vertigo.

Penyakit Hepatitis

Penyakit Hepatitis

Hepatitis adalah istilah umum penyakit yang merujuk pada peradangan yang terjadi di hati. Hepatitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meskipun juga dapat disebabkan oleh kondisi lain. Beberapa penyebab hepatitis selain infeksi virus adalah kebiasaan minum alkohol, penyakit autoimun, serta zat racun atau obat-obatan tertentu.

Hepatitis dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh terutama yang berkaitan dengan metabolisme, karena hati memiliki banyak sekali peranan dalam metabolisme tubuh, seperti:

• Menghasilkan empedu untuk pencernaan lemak.
• Menguraikan karbohidrat, lemak, dan protein.
• Menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.
• Mengaktifkan berbagai enzim.
• Membuang bilirubin (zat yang dapat membuat tubuh menjadi kuning), kolesterol, hormon, dan obat-obatan.
• Membentuk protein seperti albumin dan faktor pembekuan darah.
• Menyimpan karbohidrat (dalam bentuk glikogen), vitamin, dan mineral.

Hepatitis yang terjadi dapat bersifat akut maupun kronis. Seseorang yang mengalami hepatitis akut dapat memberikan beragam manifestasi dan perjalanan penyakit. Mulai dari tidak bergejala, bergejala dan sembuh sendiri, menjadi kronis, dan yang paling berbahaya adalah berkembang menjadi gagal hati. Bila berkembang menjadi hepatitis kronis, dapat menyebabkan sirosis dan kanker hati (hepatocellular carcinoma) dalam kurun waktu tahunan. Pengobatan hepatitis sendiri bermacam-macam sesuai dengan jenis hepatitis yang diderita dan gejala yang muncul.

Penyebab Hepatitis

Hepatitis dapat disebabkan karena infeksi maupun bukan karena infeksi. Pembagian jenis hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus adalah sebagai berikut:

• Hepatitis A. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Hepatitis A biasanya ditularkan melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi feses dari penderita hepatitis A yang mengandung virus hepatitis A.
• Hepatitis B. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B dapat ditularkan melalui cairan tubuh yang terinfeksi virus hepatitis B. Cairan tubuh yang dapat menjadi sarana penularan hepatitis B adalah darah, cairan vagina, dan air mani. Karena itu, berbagi pakai jarum suntik serta berhubungan seksual tanpa kondom dengan penderita hepatitis B dapat menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.
• Hepatitis C. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Hepatitis C dapat ditularkan melalui cairan tubuh, terutama melalui berbagi pakai jarum suntik dan hubungan seksual tanpa kondom.
• Hepatitis D. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Hepatitis D merupakan penyakit yang jarang terjadi, namun bersifat serius. Virus hepatitis D tidak bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia tanpa adanya hepatitis B. Hepatitis D ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya.
• Hepatitis E. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV). Hepatitis E mudah terjadi pada lingkungan yang tidak memiliki sanitasi yang baik, akibat kontaminasi virus hepatitis E pada sumber air.

Ibu yang menderita hepatitis B dan C juga dapat menularkan kepada bayinya melalui jalan lahir.

Selain disebabkan oleh virus, hepatitis juga dapat terjadi akibat kerusakan pada hati oleh senyawa kimia, terutama alkohol. Konsumsi alkohol berlebihan akan merusak sel-sel hati secara permanen dan dapat berkembang menjadi gagal hati atau sirosis. Penggunaan obat-obatan melebihi dosis atau paparan racun juga dapat menyebabkan hepatitis.

Pada beberapa kasus, hepatitis terjadi karena kondisi autoimun pada tubuh. Pada hepatitis yang disebabkan oleh autoimun, sistem imun tubuh justru menyerang dan merusak sel dan jaringan tubuh sendiri, dalam hal ini adalah sel-sel hati, sehingga menyebabkan peradangan. Peradangan yang terjadi dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Hepatitis autoimun lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.

Gejala Umum Hepatitis

Sebelum virus hepatitis menimbulkan gejala pada penderita, terlebih dahulu virus ini akan melewati masa inkubasi. Waktu inkubasi tiap jenis virus hepatitis berbeda-beda. HAV membutuhkan waktu inkubasi sekitar 15-45 hari, HBV sekitar 45-160 hari, dan HCV sekitar 2 minggu hingga 6 bulan.

Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita hepatitis, antara lain adalah:

• Mengalami gejala seperti flu, misalnya mual, muntah, demam, dan lemas.
• Feses berwarna pucat.
• Mata dan kulit berubah menjadi kekuningan (jaundice). Hal ini terjadi karena peningkatan bilirubin dalam • darah.
• Nyeri perut.
• Berat badan turun.
• Urine menjadi gelap seperti teh.
• Kehilangan nafsu makan.

Bila Anda mengalami hepatitis virus yang dapat berubah menjadi kronik, seperti hepatitis B dan C, mungkin Anda tidak mengalami gejala tersebut pada awalnya, sampai kerusakan yang dihasilkan oleh virus berefek terhadap fungsi hati. Sehingga diagnosisnya menjadi terlambat.

Faktor Risiko Hepatitis

Faktor risiko yang dapat meningkatkan seseorang untuk lebih mudah terkena hepatitis tergantung dari penyebab hepatitis itu sendiri. Hepatitis yang dapat menular lewat makanan atau minuman seperti hepatitis A dan hepatitis E, lebih berisiko pada pekerja pengolahan air atau pengolahan limbah. Sementara hepatitis non infeksi, lebih berisiko pada seseorang yang kecanduan alkohol.

Untuk hepatitis yang penularannya melalui cairan tubuh seperti hepatitis B,C, dan D lebih berisiko pada:

• Petugas medis.
• Pengguna NAPZA dengan jarum suntik.
• Berganti-ganti pasangan seksual.
• Orang yang sering menerima transfusi darah.

Namun saat ini sudah jarang orang yang tertular hepatitis melalui transfusi darah, karena setiap darah yang didonorkan terlebih dulu melewati pemeriksaan untuk penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui darah.

Diagnosis Hepatitis

Langkah diagnosis hepatitis pertama adalah dengan menanyakan riwayat timbulnya gejala dan mencari faktor risiko dari penderita. Lalu dilakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda atau kelainan fisik yang muncul pada pasien, seperti dengan menekan perut untuk mencari pembesaran hati sebagai tanda hepatitis, dan memeriksa kulit serta mata untuk melihat perubahan warna menjadi kuning.

Setelah itu, pasien akan disarankan untuk menjalani beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:

• Tes fungsi hati. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pasien untuk mengecek kinerja hati. Pada tes fungsi hati, kandungan enzim hati dalam darah, yaitu enzim aspartat aminotransferase dan alanin aminotransferase (AST/SGOT dan ALT/SGPT), akan diukur. Dalam kondisi normal, kedua enzim tersebut terdapat di dalam hati. Jika hati mengalami kerusakan akibat peradangan, kedua enzim tersebut akan tersebar dalam darah sehingga naik kadarnya. Meski demikian, perlu diingat bahwa tes fungsi hati tidak spesifik untuk menentukan penyebab hepatitis.
• Tes antibodi virus hepatitis. Tes ini berfungsi untuk menentukan keberadaan antibodi yang spesifik untuk virus HAV, HBV, dan HCV. Pada saat seseorang terkena hepatitis akut, tubuh akan membentuk antibodi spesifik guna memusnahkan virus yang menyerang tubuh. Antibodi dapat terbentuk beberapa minggu setelah seseorang terkena infeksi virus hepatitis. Antibodi yang dapat terdeteksi pada penderita hepatitis akut, antara lain adalah:

– Antibodi terhadap hepatitis A (anti HAV).
– Antibodi terhadap material inti dari virus hepatitis B (anti HBc).
– Antibodi terhadap material permukaan dari virus hepatitis B (anti HBs).
– Antibodi terhadap material genetik virus hepatitis B (anti HBe).
– Antibodi terhadap virus hepatitis C (anti HCV).

• Tes protein dan materi genetik virus. Pada penderita hepatitis kronis, antibodi dan sistem imun tubuh tidak dapat memusnahkan virus sehingga virus terus berkembang dan lepas dari sel hati ke dalam darah. Keberadaan virus dalam darah dapat terdeteksi dengan tes antigen spesifik dan material genetik virus, antara lain:

– Antigen material permukaan virus hepatitis B (HBsAg).
– Antigen material genetik virus hepatitis B (HBeAg).
– DNA virus hepatitis B (HBV DNA).
– RNA virus hepatitis C (HCV RNA).

• USG perut. Dengan bantuan gelombang suara, USG perut dapat mendeteksi kelainan pada organ hati dan sekitarnya, seperti adanya kerusakan hati, pembesaran hati, maupun tumor hati. Selain itu, melalui USG perut dapat juga terdeteksi adanya cairan dalam rongga perut serta kelainan pada kandung empedu.
• Biopsi hati. Dalam metode ini, sampel jaringan hati akan diambil untuk kemudian diamati menggunakan mikroskop. Melalui biopsi hati, dokter dapat menentukan penyebab kerusakan yang terjadi di dalam hati.

Pengobatan Hepatitis
Pengobatan yang diberikan kepada penderita hepatitis bergantung kepada penyebabnya. Pemantauan kondisi fisik pasien selama masa penyembuhan hepatitis sangat diperlukan agar proses pemulihan bisa berjalan dengan baik. Aktivitas fisik yang melelahkan harus dihindari selama masa penyembuhan hingga gejala mereda.

Pengobatan hepatitis A, B, dan E akut umumnya tidak membutuhkan pengobatan spesifik, pengobatan difokuskan untuk meredakan gejala-gejala yang muncul, seperti mual muntah dan sakit perut. Perlu diingat pada kasus hepatitis akut, pemberian obat-obatan harus dipertimbangkan dengan hati-hati karena fungsi hati pasien sedang terganggu. Pasien hepatitis akut harus menjaga asupan cairan tubuh, baik dengan minum air maupun dengan pemberian cairan lewat infus, untuk menghindari dehidrasi akibat sering muntah. Khusus untuk hepatitis C akut, akan diberikan obat interferon.

Pengobatan hepatitis kronis memiliki tujuan untuk menghambat perkembangbiakan virus, serta mencegah kerusakan hati lebih lanjut dan berkembang menjadi sirosis, kanker hati, atau gagal hati. Beda dengan hepatitis B kronis, pengobatan hepatitis C kronis juga bertujuan untuk memusnahkan virus dari dalam tubuh. Pengobatan terhadap hepatitis kronis melibatkan obat-obatan antivirus seperti ribavirin, simeprevir, lamivudine, dan entecavir, serta suntikan interferon. Pasien hepatitis kronis diharuskan untuk berhenti minum alkohol dan merokok untuk mencegah kerusakan hati bertambah parah.

Infeksi hepatitis D dapat terjadi bersamaan atau setelah terdapat infeksi hepatitis B. Pengobatan infeksi hepatitis D sampai saat ini belum diteliti lebih lanjut.

Pengobatan hepatitis autoimun umumnya melibatkan obat imunosupresan, terutama golongan kortikosteroid seperti prednisone dan budesonide. Selain itu, pasien penderita hepatitis autoimun juga dapat diberikan azathioprine, mycophenolate, tacrolimus, dan cyclosporin.

Komplikasi Hepatitis

Penderita hepatitis akut dapat mengalami hepatitis fulminan yang berujung kepada gagal hati akibat peradangan hebat pada hati. Gejala penderita hepatitis fulminan mencakup bicara kacau dan penurunan kesadaran hingga koma. Pasien juga dapat mengalami lebam dan perdarahan akibat kurangnya protein faktor pembekuan darah yang diproduksi hati. Penderita hepatitis fulminan dapat meninggal dunia dalam beberapa minggu jika tidak dirawat dengan segera.

Selain hepatitis fulminan, penderita hepatitis B dan C juga dapat mengalami hepatitis kronis. Hepatitis kronis adalah hepatitis yang terjadi pada seseorang selama lebih dari 6 bulan. Pada hepatitis kronis, virus akan berkembang biak di dalam sel-sel hati dan tidak dapat dimusnahkan oleh sistem imun. Virus yang berkembang biak secara kronis dalam hati penderita akan menyebabkan peradangan kronis dan dapat menyebabkan sirosis, kanker hati, atau gagal hati.

Pencegahan Hepatitis

Agar terhindar dari hepatitis, seseorang perlu menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Misalnya dengan:

• Menjaga kebersihan sumber air agar tidak terkontaminasi virus hepatitis.
• Mencuci bahan makanan yang akan dikonsumsi, terutama kerang dan tiram, sayuran, serta buah-buahan.
• Tidak berbagi pakai sikat gigi, pisau cukur, atau jarum suntik dengan orang lain.
• Tidak menyentuh tumpahan darah tanpa sarung tangan pelindung.
• Melakukan hubungan seksual yang aman, misalnya dengan menggunakan kondom, atau tidak berganti-ganti pasangan.
• Kurangi konsumsi alkohol.

Selain melalui pola hidup bersih dan sehat, hepatitis (terutama A dan B) bisa dicegah secara efektif melalui vaksinasi. Untuk vaksin hepatitis C, D, dan E hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan. Namun di beberapa negara, vaksin hepatitis C sudah tersedia dan bisa digunakan.

Anda juga bisa mendaftarkan diri sebagai anggota asuransi kesehatan terpercaya untuk melindungi diri dari hepatitis dan mempermudah proses pengobatan. Hal ini karena biaya pengobatan hepatitis tidaklah sedikit dan penyakit ini berpotensi menular.

Penyakit Kuning

Penyakit Kuning

Penyakit kuning atau sakit kuning bisa disebut juga dengan jaundice atau ikterus. Penyakit kuning adalah keadaan kulit dan bagian putih mata menjadi berwarna kuning yang disebabkan karena tingginya kadar bilirubin.

Bilirubin dibentuk dari pemecahan sel darah merah. Tubuh biasanya mengeluarkan bilirubin melalui hati. Karena hati pada bayi baru lahir belum matang (imatur), terkadang bilirubin menumpuk lebih cepat daripada kemampuan tubuh mengeluarkannya, sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kuning.

Seberapa umumkah penyakit kuning (sakit kuning)?

Penyakit kuning atau sakit adalah kondisi umum. Seringnya, penyakit ini dialami bayi baru lahir, tapi dapat terjadi juga pada anak-anak yang sudah lebih besar.

Penyakit kuning biasanya dapat membaik dengan sendirinya dan hilang dalam beberapa hari. Dalam beberapa kasus tertentu, penyakit kuning juga bisa jadi gejala dari suatu penyakit tertentu.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala penyakit kuning (sakit kuning)?
Gejala yang paling khas dari penyakit kuning adalah kulit dan sklera mata penderita berwarna kuning. Gejala lain penyakit kuning atau sakit kuning dapat berupa:

• Bagian dalam mulut berwarna kuning
• Urin berwarna gelap atau coklat seperti teh
• Feses berwarna pucat seperti dempul

Catatan: jika bagian putih mata Anda tidak kuning, Anda mungkin bukan terkena penyakit kuning. Kulit Anda dapat berubah menjadi warna kuning – oranye jika Anda mengonsumsi beta karoten berlebih yaitu pigmen oranye pada wortel.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Gatal-gatal juga bisa menjadi ciri Anda terkena jaundice atau sakit kuning

Hampir kebanyakan orang yang sakit kuning akan mengalami badan gatal di samping gejala lainnya, terutama pada sore dan malam hari.

Bahkan, gatal-gatal ini merupakan gejala penyakit kuning yang paling sulit dikontrol dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari. Gatal yang muncul di malam hari dapat membuat Anda sulit tidur nyenyak.

Rasa gatal yang kita rasakan sebenarnya dipicu oleh rangsangan yang disebut pruritogen. Contohnya adalah gigitan serangga atau iritan bahan kimia. Otak kemudian menerjemahkannya sebagai sensasi gatal. Sebagai respons dari rasa gatal, kita akan menggaruk atau mengusap daerah tersebut untuk menghilangkan iritan tersebut.

Nah, bilirubin (pigmen kuning) adalah salah satu zat pruritogen. Bilirubin terbentuk saat hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang membawa oksigen) dipecah sebagai bagian dari proses normal daur ulang sel darah merah tua atau yang rusak.

Bilirubin dibawa dalam aliran darah menuju hati, untuk kemudian berikatan dengan empedu. Bilirubin kemudian dipindahkan melalui saluran empedu ke saluran pencernaan, sehingga bisa dibuang dari tubuh. Sebagian besar bilirubin dibuang lewat feses, sementara sisanya lewat urin.

Jika bilirubin menumpuk terlalu banyak dalam hati, bilirubin kemudian akan menumpuk terus di dalam darah dan tersimpan di bawah kulit. Hasilnya adalah badan gatal, yang umum dialami oleh orang yang sakit kuning.

Selain itu, badan gatal sebagai gejala penyakit kuning juga mungkin disebabkan oleh garam empedu. Garam empedu juga merupakan zat pruritogenik. Bedanya, keluhan gatal akibat garam empedu muncul sebelum warna kulit menjadi kuning. Badan gatal akibat garam empedu juga tidak menghasilkan kulit kemerahan yang terlihat bengkak.

Gejala sakit kuning pada bayi yang harus diwaspadai

Perlu diingat, meskipun bayi Anda kuning, biasanya bayi yang mengalami jaundice fisiologis tidak menimbulkan gejala. Berikut hal-hal yang diwaspadai jika bayi Anda kuning.

• Tetap terlihat kuning setelah satu minggu dan warna kuningnya menyebar terus hingga ke lengan atau kaki.
• Tampak sakit dan lemas.
• Tidak mau makan.
• Rewel dan menangis terus.
• Memiliki lengan dan tungkai yang “keplek” (floppy arms and legs).
• Demam dengan suhu 38 derajat C atau lebih.
• Kejang.
• Kesulitan bernapas dan terlihat biru.

Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut pada bayi Anda yang kuning, maka Anda harus segera membawanya ke dokter untuk dicari penyebabnya dan ditangani lebih lanjut.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

• Kulit Anda tampak semakin kuning
• Kulit Anda tampak kuning di daerah perut, lengan, dan kaki
• Bagian putih mata Anda tampak kuning
• Anda tampak sakit atau sulit dibangunkan
• Anda sulit menambah berat badan atau sulit makan
• Anda mengalami gejala lainnya, seperti gatal yang parah

Pada dewasa, kulit kuning dapat merupakan gejala suatu penyakit. Jika Anda memiliki tanda-tanda atau
gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab penyakit kuning (sakit kuning)?

Penyebab penyakit kuning adalah penumpukkan senyawa bilirubin. Bilirubin dapat menumpuk di darah, karena senyawa ini dibentuk dari pemecahan sel darah merah. Biasanya tubuh mengeluarkan bilirubin melalui organ hati.

Karena organ hati bayi baru lahir belum matang (immature), terkadang bilirubin menumpuk lebih cepat daripada kemampuan tubuh mengeluarkannya, sehingga menyebabkan terjadinya penyakit kuning.

Kadar bilirubin yang sangat tinggi dapat merusak sistem saraf bayi. Kondisi ini disebut juga kernicterus. Bayi prematur lebih berisiko terkena penyakit kuning dibanding bayi cukup bulan.

Penyebab lain penyakit kuning adalah infeksi, masalah golongan darah antara ibu dan bayi, dan ASI. Kadang-kadang, ASI mengganggu kemampuan hati bayi untuk memproses bilirubin. penyakit kuning atau sakit kuning jenis ini muncul lebih lama dibanding yang lain dan dapat bertahan selama beberapa minggu.

Selain itu, pada organ hati orang dewasa mungkin akan mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat memproses bilirubin. Terkadang bilirubin tidak dapat masuk ke sistem pencernaan sehingga dibuang melalui buang air besar.

Tapi dalam kasus lain, banyak bilirubin yang mencoba masuk ke hati pada saat yang bersamaan. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan pada tubuh.

Terdapat tiga macam penyakit kuning, tergantung pada bagian tubuh yang terkena dampak dari pergerakan bilirubin tersebut. Berikut ini adalah macam-macamnya, dengan penyebab masing-masing:

Penyebab penyakit kuning jenis pre-hepatik
Kondisi penyakit ini muncul ketika terjadi infeksi yang mempercepat kerusakan sel darah merah. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan peningkatan level bilirubin dalam darah, sehingga memicu penyakit kuning. Penyebab dari penyakit kuning pre-hepatik:

• Malaria – infeksi ini menyebar dalam darah.
• Anemia sel sabit – gangguan darah yang diturunkan di mana sel darah merah terbentuk tidak normal. Thalassemia juga dapat memicu risiko penyakit kuning.
• Sindrom Crigler-Najjar – sindrom genetik di mana tubuh kehilangan enzim yang membantu memindahkan bilirubin dari darah.
• Spherocytosis yang diturunkan – kondisi genetik yang menyebabkan sel darah merah terbentuk tidak normal sehingga sel tersebut tidak dapat bertahan lama.

Penyebab penyakit kuning jenis post-hepatik

Kondisi penyakit ini biasanya dipicu ketika saluran empedu rusak, meradang, atau terhambat. Akibat yang ditimbulkan adalah kandung empedu tidak mampu memindahkan empedu ke sistem pencernaan. Berikut ini yang dapat menyebabkan kondisi tersebut:

• Batu empedu – menghalangi sistem saluran empedu kanker pankreas
• Pankreatitis atau kanker kandung empedu – peradangan pankreas, yang dapat menyebabkan pankreatitis akut (berlangsung selama beberapa hari) atau pankreatitis kronis (berlangsung selama beberapa tahun)

Penyebab penyakit kuning jenis intra-hepatik

Kondisi penyakit kuning ini terjadi ketika ada permasalahan di hati – contohnya kerusakan akibat infeksi atau alkohol. Hal ini mengganggu kemampuan hati untuk memproses bilirubin. Berikut ini kemungkinan penyebab dari penyakit ini:

• Virus hepatitis A, B, C
• Penyakit hati (kerusakan hati) yang disebabkan terlalu banyak minum alkohol
• Leptospirosis – infeksi yang menular melalui binatang contohnya tikus
• Demam glandular – infeksi yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr; virus ini ditemukan pada ludah orang yang terinfeksi dan menyebar melalui ciuman, batuk, berbagi peralatan makanan yang tidak dicuci
• Penyalahgunaan obat – mengosumsi paracetamol atau ekstasi yang berlebihan
• Primary biliary cirrhosis (PBC) – kondisi yang jarang ditemukan dan dapat menyebabkan kerusakan hati lebih lanjut
• Sindrom Gilbert – sindrom genetik umum di mana hati memiliki masalah dalam mengurai bilirubin dalam tingkat normal
• Kanker hati
• Pemakaian zat yang berlebihan yang diketahui dapat menyebabkan kerusakan hati, seperti fenol (digunakan di tempat pembuatan plastik), karbon tetraklorida (dahulu sering digunakan seperti pada proses pendinginan)
• Hepatitis autoimun – kondisi yang jarang di mana sistem kekebalan tubuh mulai menyerang hati

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit kuning (sakit kuning)?
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kuning adalah:

Lahir prematur

Bayi yang lahir sebelum 38 minggu mungkin tidak mampu untuk memproses bilirubin secepat bayi cukup bulan. Selain itu, bayi akan makan lebih sedikit serta BAB menjadi lebih jarang, sehingga semakin sedikit bilirubin yang dikeluarkan melalui feses.

Memar saat kelahiran

Jika bayi Anda memar akibat proses kelahiran, bayi Anda berisiko terhadap kadar bilirubin yang tinggi akibat pemecahan sel darah merah yang lebih banyak.

Golongan darah

Jika golongan darah ibu berbeda dari bayi, bayi dapat menerima antibodi melalui plasenta yang menyebabkan sel darahnya terpecah lebih cepat.

Pemberian ASI

Bayi yang menerima ASI, khususnya yang mengalami kesulitan perawatan atau sulit mendapat nutrisi yang cukup dari ASI, lebih berisiko menderita penyakit kuning. Dehidrasi atau konsumsi kalori rendah dapat berperan dalam terjadinya penyakit kuning.

Meski begitu, karena keuntungan yang didapat dari ASI, para ahli tetap menganjurkannya. Jika Anda mencurigai si kecil terkena penyakit kuning, segera beritahu dokter.

Obat & Pengobatan

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk penyakit kuning (sakit kuning)?

Untuk dewasa, terapi ditujukan pada akar masalah penyebab penyakit kuning.

Untuk bayi, kebanyakan kasus tidak membutuhkan terapi. Namun saat terapi dibutuhkan, terapi terbaik yaitu fototerapi. Bayi dibaringkan telanjang di bawah lampu fluorescent.

Bayi menggunakan pelindung mata selama terapi. Lampu tersebut membantu pemecahan bilirubin yang berlebih sehingga bilirubin dapat dikeluarkan dengan mudah.

Sebuah “selimut ultraviolet” juga dapat digunakan. Kadar bilirubin darah diperiksa secara teratur. Fototerapi biasanya menurunkan kadar bilirubin dalam 2 hari.

Kadang-kadang, kadar bilirubin meningkat setelah fototerapi, namun hanya sementara. Warna kuning dapat bertahan beberapa hari atau bahkan 1 atau 2 minggu, walaupun kadar bilirubin sudah rendah.

Pada kasus yang jarang dengan kadar bilirubin sangat tinggi yang tidak dapat diturunkan dengan fototerapi, transfusi tukar dapat dilakukan. Terapi ini mengeluarkan darah dengan kadar bilirubin tinggi dan menggantinya dengan darah yang berbeda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk penyakit kuning (sakit kuning)?
Dokter akan melakukan pemeriksaan darah sederhana untuk memeriksa kadar bilirubin. Dokter juga akan memberikan tes bilirubin untuk mengetahui berapa jumlahnya di dalam darah. Jika Anda memiliki penyakit kuning, kemungkinan level dari bilirubin Anda akan tinggi.

Beberapa tes yang mungkin dilakukan adalah tes fungsi hati, complete blood count (CBC) – dilakukan untuk mengetahui apakah Anda memiliki bukti mengidap anemia hemolitik dan biopsi hati.

Untuk dewasa, pemeriksaan dilakukan untuk memeriksa penyakit lain. Beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit kuning adalah:

• Panel virus hepatitis untuk mencari infeksi hati
• Pemeriksaan fungsi hati untuk mengetahui kerja hati
• Pemeriksaan darah lengkap untuk memeriksa hitung jenis yang rendah atau adanya anemia
• Ultrasound perut
• CT scan perut
• Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERC)
• Percutaneous transhepatic cholangiogram (PTCA)
• Kadar kolesterol
• Waktu protombin

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit kuning (sakit kuning)?

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi penyakit kuning atau sakit kunig adalah:

• Beri makan bayi Anda sesering mungkin. Ini dapat membantu bayi Anda mengeluarkan feses lebih banyak, yang dapat mengurangi jumlah bilirubin yang diserap usus.
• Pergi ke dokter jika bayi Anda tampak terkena penyakit kuning kembali, karena ini dapat berarti ada masalah lain. Sekali penyakit kuning pada bayi baru lahir sembuh, seharusnya penyakit kuning tidak muncul kembali.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Mengenal Eksim Kering dan Perawatan Mudah di Rumah

Penyakit Eksim

Penyakit eksim kering merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan kulit kering, gatal, dan munculnya ruam merah. Ada beragam hal yang bisa memicu gejala eksim kering. Untuk meredakan gejalanya, bisa dilakukan perawatan sederhana di rumah maupun pengobatan dari dokter.

Istilah eksim kering sebenarnya mengacu pada penyakit eksim atopik (dermatitis atopik). Kondisi ini sering dialami oleh anak-anak dan kambuh-kambuhan hingga dewasa. Akan tetapi, sebagian eksim kering juga dapat terjadi pada orang dewasa dan lansia yang sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan serupa.

Gejala Eksim Kering yang Perlu Anda Ketahui
Ketika kambuh, eksim kering atau eksim atopik ditandai dengan kulit yang terasa gatal terus menerus, terutama pada malam hari.

Tak hanya itu, eksim kering juga memicu munculnya ruam di beberapa bagian tubuh, terutama di tangan, kaki, pergelangan kaki, pergelangan tangan, leher, dada, kelopak mata, lekuk siku dan lutut, wajah, serta kulit kepala.

Penderita eksim kering juga mungkin mengalami gejala berikut ini:

• Kulit menjadi lebih tebal dan pecah-pecah.
• Kulit kering dan bersisik.
• Kulit bengkak atau muncul benjolan kecil berisi cairan dan dapat pecah kapan saja, terutama jika digaruk.
• Pada bayi dan anak-anak, kambuhnya gejala eksim kering dapat membuat mereka menjadi rewel dan gelisah karena gatal yang berat.

Gejala eksim kering tersebut terkadang bisa menyerupai penyakit kulit lain, seperti infeksi jamur, dermatitis seboroik, hingga psoriasis.

Penyebab dan Faktor Pemicu Eksim Kering atau Dermatitis Atopik
Hingga saat ini, penyebab pasti eksim kering belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa seseorang lebih berisiko terkena eksim kering jika ia memiliki riwayat penyakit asma, rhinitis alergi, atau anggota keluarga kandung yang menderita eksim kering.

Selain itu, eksim kering juga dapat dipicu atau diperburuk oleh faktor tertentu. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat memicu dan memperburuk eksim kering:

• Alergi, misalnya terhadap debu, makanan, serbuk sari, polusi, atau bulu hewan.
• Kebiasaan mandi terlalu lama.
• Sering berkeringat.
• Cuaca kering dan dingin.
• Kebiasaan menggaruk.
• Pakaian atau kain yang terbuat dari bahan sintetis atau wol.
•Penggunaan sabun dan pembersih yang berbahan detergen dan zat kimia keras.
• Stres.

Perlu diingat, faktor yang dapat memicu kekambuhan dan memperburuk eksim kering berbeda-beda pada tiap orang. Untuk menentukan apa saja faktor pemicu kambuhnya eksim kering, perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter kulit.

Penanganan Eksim Kering yang Bisa Anda Lakukan di Rumah
Untuk membantu mengurangi rasa gatal dan gejala lainnya dari eksim kering lain, Anda bisa mencoba langkah-langkah berikut ini:

1. Hindari menggaruk
Ketika eksim kering kumat, rasa gatal yang dirasakan tentu akan membuat tubuh ingin menggaruknya. Namun hal ini sebaiknya tidak dibiasakan, ya. Semakin digaruk, kulit akan semakin rusak dan iritasi. Bahkan kuman dari jari tangan bisa menyebabkan infeksi kulit yang dapat memperparah eksim kering.

Sebagai alternatif untuk mengatasi gatal, coba berikan kompres dingin pada kulit yang terasa gatal. Kompres dingin bisa dilakukan selama 10-15 menit dan diulang sebanyak 2-3 kali sehari.

2. Gunakan pelembap
Eksim kering bisa menyebabkan kulit pecah-pecah dan kering. Untuk mencegah kambuhnya gejala dan menjaga agar kulit tetap sehat, penting untuk menggunakan pelembap kulit secara rutin. Oleskan pelembap setelah mandi, saat kulit mulai terasa kering, dan sebelum tidur.

Pilih pelembap yang diformulasikan untuk kulit kering dan sensitif, serta pilih yang bahan kimianya sedikit. Biasanya pelembap tersebut berlabel ‘hypoallergenic’, pada kemasannya.

Jika diperlukan, Anda juga bisa menggunakan air humidifier atau alat pelembap udara di dalam ruangan, khususnya ruangan ber-AC, untuk menjaga kulit tetap lembap.

3. Kenali dan hindari faktor pencetus kekambuhan eksim atopik
Setiap penderita eksim atopik memiliki faktor pencetus kekambuhan gejala yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui faktor pencetus tersebut, agar dapat dihindari. Jika kesulitan menentukan apa faktor pencetusnya, konsultasikan dengan dokter.

4. Hindari mandi terlalu lama
Kebiasaan mandi berlama-lama bisa membuat kulit kering dan mudah rusak. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor pemicu kekambuhan atau semakin parahnya eksim kering. Jadi, usahakan untuk mandi selama 5-10 menit saja.

Saat mandi, gunakanlah sabun yang berbahan lembut, tidak mengandung pewarna, pewangi, maupun zat antibakteri, karena dapat membuat kulit iritasi.

Pengobatan dari Dokter untuk Mengatasi Eksim Kering

Jika perawatan tersebut tidak efektif meringankan gejala eksim kering yang Anda alami, segeralah konsultasikan ke dokter. Anda juga dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika eksim telah menyebabkan Anda sulit tidur atau memicu infeksi kulit yang disertai dengan gejala nyeri, demam, dan muncul nanah.

Setelah melakukan pemeriksaan dan memastikan apa penyebab eksim kering, dokter dapat memberikan pengobatan yang sesuai. Biasanya dokter akan mengobati eksim kering dengan obat-obatan berikut:

• Kortikosteroid.
• Antihistamin, untuk meredakan gatal.
• Obat imunosupresan, seperti kortikosteroid dan tacrolimus.
• Antibiotik, jika terdapat infeksi kulit.

Obat-obatan tersebut ada yang diberikan dalam bentuk salep atau krim, tetapi dokter juga mungkin akan memberikan obat minum. Pilihan obat-obatan yang diresepkan doker akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala eksim kering yang muncul.

Selain dengan obat-obatan, eksim kering juga diobati dengan metode lain, yaitu fototerapi. Terapi ini memanfaatkan sinar ultraviolet buatan yang dipancarkan ke kulit. Biasanya, penanganan dengan fototerapi dilakukan ketika obat yang diresepkan tidak efektif atau eksim kambuh kembali setelah perawatan.

Penyakit eksim kering adalah penyakit yang hilang-timbul. Gejalanya bisa jarang kambuh, bisa juga sering, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Untuk menentukan seberapa parah eksim kering yang Anda alami dan penanganan apa saja yang dibutuhkan, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit.