Pengertian Penyakit Hernia

Penyakit Hernia

Hernia atau turun berok terjadi ketika bagian dari organ atau jaringan (seperti bagian dari usus) menonjol ke daerah-daerah yang tidak biasa. Bagian organ tersebut muncul melalui bukaan atau area lemah dalam dinding otot, sehingga muncul tonjolan atau benjolan.

Banyak kondisi yang muncul pada perut di antara dada dan pinggul Anda. Namun, turun berok juga dapat muncul pada daerah paha dan pangkal paha atas.

Kebanyakan jenis turun berok biasanya tidak mengancam nyawa, tapi kondisi ini tidak bisa hilang dengan sendirinya. Terkadang, hernia membutuhkan operasi untuk mencegah komplikasi yang berbahaya.

Jika hernia hanya muncul karena tekanan atau regangan, maka kondisi tersebut dikenal dengan hernia yang dapat direduksi (reducible hernia) dan tidak berbahaya.

Jaringan yang terjebak dalam bukaan atau ruang dan tidak dapat kembali lagi dinamakan hernia yang tertahan (incarcerated hernia) dan merupakan masalah serius. Hernia yang paling berbahaya adalah strangulasi. Dalam hal ini, jaringan yang terjebak kehilangan suplai darah dan mati.

Jenis-jenis

Apa saja jenis-jenis hernia?

Dikutip dari Kids Health, berikut adalah jenis-jenis turun berok:

1. Hernia inguinalis

Hernia inguinalis lebih sering muncul pada pria daripada wanita. Lebih dari 70% turun berok yang muncul adalah jens ini. Ini berarti bagian usus menonjol melalui lubang di bagian bawah perut, dekat pangkal paha, yang disebut saluran inguinalis.

Pada pria, saluran inguinalis adalah adalah jalan masuk antara perut dan skrotum (kantung pembungkus buah zakar) melalui tali sperma. Pada wanita, kanal inguinalis adalah jalan menuju ligamen yang menahan uterus.

Hampir semua kasus hernia inguinalis pada remaja disebabkan oleh cacat bawaan dari kanal inguinalis. Alih-alih menutup rapat, saluran justru menyisakan ruang untuk usus masuk.

Jika Anda mengidap hernia inguinalis, tonjolan di antara paha dan pangkal paha dapat perlihat. Pada pria, bagian usus yang menonjol dapat memasuki bagian usus yang menonjol dapat memasuki skrotum, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit.

2. Femoral

Meskipun tidak umum terjadi, hernia femoral sering disalah artikan sebagai jenis inguinal karena keduanya muncul pada daerah yang mirip dengan penyebab yang hampir sama. Namun, tonjolan pada jenis ini muncul di perut bagian bawah, selangkangan, pinggul, atau paha atas.

3. Umbilikalis

Hernia umbilikalis umum terjadi pada bayi baru lahir dan bayi di bawah usia 6 bulan. Kondisi ini terjadi ketika bagian usus membesar melalui dinding perut di sebelah pusar. Pada bayi dengan turun berok jenis ini, tonjolan terlihat di sekitar pusat ketika bayi menangis.

Tidak seperti jenis lain, hernia umbilikalis dapat sembuh dengan sendirinya. Biasanya pada saat bayi berusia 1 tahun. Jika tidak, operasi dapat memperbaiki penyakit ini.

4. Epigastrium

Pada jenis ini, bagian usus menonjol melalui otot perut yang terletak di antara pusar dan dada.

Sekitar 75% dari kondisi ini terjadi pada pria. Penderita turun berok jenis ini mungkin melihat adanya benjolan. Penyakit ini biasanya diperbaiki dengan masalah ini.

5. Insisi

Turun berok jenis ini mungkin terjadi setelah Anda menjalani operasi di perut Anda. Pada hernia insisional, bagian usus membengkak di sekitar sayatan bedah.

Dalam hal ini, pembedahan sebenarnya melemahkan jaringan otot di perut. Jenis ini membutuhkan operasi untuk memperbaikinya.

6. Hiatal

Jenis kondisi ini, pembukaan diafragma di mana esofagus (pipa pembawa makanan) bergabung dengan lambung. Jika otot di sekitar bukaan diafragma menjadi lemah, bagian paling atas dari perut dapat membengkak.

Berbeda dengan jenis turun berok lainnya, Anda tidak akan melihat tonjolan di bagian luar tubuh Anda. Namun, Anda mungkin merasa mulas, gangguan pencernaan, dan nyeri dada.

Hernia hiatal dapat diobati dengan obat-obatan dan perubahan pola makan. Namun, pembedahan terkadang dibutuhkan.

Anda dapat meminimalkan kemungkinan mengalami hernia dengan mengurangi faktor risiko Anda. Silakan diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-­tanda dan gejala hernia?

Dilansir dari Healthline, tanda-tanda dan gejala hernia menurut jenisnya adalah:

1. Hernia inguinal

Gejala paling umum pada kondisi ini adalah tonjolan di pangkal paha, yang dapat muncul tiba-tiba sebagai akibat dari ketegangan berlebih, seperti:

• Angkat beban
• Bersih keras, termasuk karena alergi
• Batuk kronis, seperti dari merokok
• Mengejan saat buang air kecil atau buang air besar
• Peningkatan tekanan dari dalam perut.

Tonjolan ini cenderung lebih terlihat dalam posisi tegak dan dapat menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman pada pangkal paha ketika:

• Membungkuk
• Mengangkat beban
• Batuk
• Tertawa

Gejala lain termasuk:

• Terasa sakit atau terbakar di area tonjolan
• Sensasi menyeret beban di pangkal paha
• Pangkal paha menjadi lemah dan sensitif
• Merasa tidak nyaman di sekitar testis jika tonjolan turun ke skrotum.

2. Femoral

Turun berok jenis ini, terutama yang berukuran kecil atau sedang mungkin tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, ukuran yang lebih besar dapat menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman ketika berdiri, mengangkat benda berat, atau jika muncul pada paha atau pinggul atas.

Kemungkinan ada tanda ­ tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

3. Umbilikalis

Pada bayi dengan hernia umbilikalis, tonjolan hanya dapat muncul saat menangis atau batuk. Ini biasanya tidak menyakitkan untuk anak-anak, tapi kondisi yang muncul saat dewasa dapat menyebabkan ketidaknyamanan di perut.

4. Hiatal

Hernia hiatal cenderung sangat kecil, sehingga ada kemungkinan Anda tidak merasakannya sama sekali. Namun, ukuran yang lebih besar dapat menyebabkan pembukaan diafragma yang lebih besar.

Ini membuat Anda lebih rentan terhadap organ lain yang memanjang ke dada. Kondisi tersebut terasa seperti mulas.

Gejala lain termasuk:

• Tekanan perut, termasuk sensasi meremas
• Sakit dada
• Refluks asam
• Kesulitan bernapas atau menelan
• Gangguan pencernaan

Asam lambung juga dapat menyebabkan tukak lambung, yang dapat berdarah dan menyebabkan jumlah darah rendah.

5. Herniansisi
Turun berok jenis ini bergantung pada ukuran sayatan. Ini sering berkembang dalam tiga minggu hingga enam bulan setelah Anda melewati sebuah operasi. Namun, kondisi tersebut tetap bisa terjadi kapan saja.

Tonjolan di lokasi sayatan adalah gejala yang paling umum terjadi. Namun, jika terlalu banyak jaringan atau usus terjebak di titik lemah, Anda dapat merasakan sakit yang hebat. Ini adalah keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala yang disebutkan di atas atau memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter Anda. Tubuh masing-­masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada kondisi ini?

Turun berok mungkin rentan terhadap beberapa komplikasi jika tidak ditangani, seperti:

• Tekanan pada jaringan otot atau di sekitarnya
• Hernia yang tertahan (incarcerated hernia)
• Sumbatan usus
• Kematian jaringan
• Hernia yang tertahan (incarcerated hernia) terjadi jika hernia terjebak di dinding perut. Kondisi ini dapat menyebabkan usus tersumbat atau tercekik.

Ketika kondisi ini terjadi, aliran darah ke usus terputus. Ini adalah kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan pertolongan segera.

Gejala dari komplikasi ini termasuk:

• Demam
• Sakit yang timbul tiba-tiba dan semakin memburuk
• Mual atau muntah
• Tonjolan yang berubah warna menjadi lebih gelap, seperti merah atau ungu
• Tidak bisa buang gas atau buang air besar.

Penyebab
Apa penyebab kondisi ini?
Hernia inguinalis disebabkan oleh kesalahan selama perkembangan janin. Hernia inguinalis langsung terbentuk setelah lahir.

Hernia umbilikalis terjadi ketika cincin pusar tidak menutup dengan benar. Dalam hernia lainnya, membran, otot dinding, atau struktur lainnya tidak terbentuk dengan benar atau terluka, sehingga mereka perlahan-lahan melemah.

Beberapa penyebab umum dari pelemahan otot yang mengakibatkan kondisi ini meliputi:

• Kondisi bawaan yang terjadi selama perkembangan dalam rahim dan hadir sejak lahir
• Penuaan
• Kerusakan akibat cedera atau operasi
• Batuk kronis
• Olahraga berat atau mengangkat beban berat
• Kehamilan, khususnya kehamilan berulang
• Sembelit, yang membuat Anda mengejan keras ketika buang air besar
• Kelebihan berat badan atau obesitas
• Ada cairan di perut atau asites.

Faktor-faktor risiko
Apa yang meningkatkan risiko saya untuk kondisi ini?
Sejumlah faktor diyakini meningkatkan risiko penyakit ini, yaitu:

• Bayi: bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah. Bayi dari ras Afrika tampaknya memiliki sedikit • peningkatan risiko hernia umbilikalis.
• Obesitas dan berat badan meningkat secara tiba-tiba
• Mengangkat benda-benda berat
• Diare atau sembelit
• Batuk menerus atau bersin
• Kehamilan

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk kondisi ini?

Pengobatan dilakukan berdasarkan pada jenis hernia. Hernia umbilikalis biasanya tidak menyebabkan ketidaknyamanan, dan juga dapat menutup sendiri pada usia 1 atau 2 tahun.

Dokter dapat seringkali dengan mudah mendorong bagian organ tersebut kembali. Dokter biasanya menyarankan untuk menunggu dan mengawasi jenis hernia ini.

Operasi hanya diperlukan jika hernia tidak sembuh hingga usia 4 atau 5 tahun, atau jika mereka terjebak atau menyumbat usus. Operasi dan rawat jalan dilakukan untuk jenis hernia inguinalis agar dapat mencegah terjadinya penahanan bagian organ.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kondisi ini?

Dokter menggunakan riwayat medis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan posisi anak berbaring dan berdiri. Tes darah atau laparoskopi mungkin diperlukan. Rontgen dan ultrasonografi diperlukan untuk kasus tertentu.

Perubahan gaya hidup & pengobatan rumahan

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?
Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi hernia:

• Perhatikan hernia anak Anda untuk memastikan bahwa hernia tersebut akan mengecil pada usia 2 atau 3 tahun.
• Berikan obat nyeri kepada anak Anda yang telah diresepkan oleh dokter setelah operasi.
• Lindungilah anak Anda setelah operasi dari infeksi saluran pernapasan yang dapat menyebabkan batuk dan bersin. Ini bisa mengganggu jahitan. Sering mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi ini.
• Pelajari gejala hernia inguinal tertahan. Pengobatan yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan masalah serius.
• Jagalah luka bekas operasi agar tetap bersih dan kering sampai sembuh. Anda mungkin perlu membatasi aktivitas anak Anda untuk sementara waktu.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Penyakit Lupus

Penyakit Lupus

Anda mungkin sudah pernah mendengar penyakit lupus. Meskipun sudah familiar dengan namanya, tetapi tak banyak yang tahu apa itu penyakit lupus sebenarnya, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana cara pengobatannya. Lantas, apa itu lupus? Apakah bisa disembuhkan?

Apa itu penyakit lupus?
Penyakit lupus adalah suatu gangguan sistem kekebalan yang terjadi di dalam tubuh. Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit autoimun yang menyebabkan sel-sel tubuh rusak dan mengalami peradangan.

Sederhananya, penyakit lupus adalah kondisi di mana tubuh memproduksi antibodi secara berlebih. Pada keadaan normal, antibodi berfungsi unuk melindungi tubuh dari berbagai zat asing yang dapat menyebabkan penyakit.

Namun, pada orang yang mengalami penyakit lupus (Odapus), antibodi yang dimilikinya justru menyerang sel-sel tubuhnya sendiri. Sehingga, odapus mudah mengalami penyakit infeksi dan peradangan – akibat sel sehat diserang oleh antibodi.

Apa saja tipe penyakit lupus?

Ada beberapa jenis penyakit lupus yang ada, yaitu:

• Systemic lupus erthematosus (SLE), merupakan jenis lupus yang paling sering terjadi. Jenis penyakit ini menyerang berbagai jaringan seperti, sendi, kulit, otak, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah.
• Discoid lupus erthematosus, adalah jenis lupus yang menyerang jaringan kulit, sehingga menyebabkan ruam-ruam.
• Neonatal lupus adalah penyakit lupus yang menyerang bayi baru lahir. Penyakit ini dialami oleh bayi yang dilahirkan ibu yang memiliki kelainan antibodi.
• Lupus akibat obat-obatan, gangguan ini biasanya hanya dialami dalam waktu yang singkat saja. Jadi beberapa obat-obatan mungkin saja menimbulkan efek samping yang gejalanya mirip lupus. Kondisi pasien akan membaik kalau penggunaan obat dihentikan.
• Subacute cutaneous lupus erythematosus, merupakan lupus yang membuat jaringan kulit luka dan terbakar ketika terpapar sinar matahari.

Seberapa sering penyakit lupus terjadi?

Penyakit lupus termasuk peyakit yang jarang terjadi. Meski belum diketahui angka yang pasti, namun di Indonesia sendiri, orang yang mengalami penyakit ini ada sekitar 12.700 jiwa pada tahun 2012. Kejadian penyakit ini kemudian meningkat menjadi 13.300 pada tahun 2013.

Sebagian besar orang yang memiliki penyakit lupus adalah wanita. Dilaporkan bahwa sebanyak 90% kasus penyakit lupus yang terjadi dialami oleh wanita. Alasan hal ini belum diketahui dengan pasti sampai sekarang. Tetapi, sebuah studi yang diterbitkan dalam Annals of the Rheumatic Disease menyatakan kalau hal ini terkait dengan kromosom gen yang dimiliki wanita.

Selain itu, kebanyakan kasus lupus terdeteksi pada pasien yang berusia 15-45 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi pada anak-anak dan orang tua.

Apa saja gejala dan ciri-ciri penyakit lupus?

Lupus adalah penyakit yang dikenal sebagai ‘penyakit 1000 wajah’. Sebutan ini muncul akibat penyakit kronis ini menimbulkan gejala dan tanda yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Sehingga, penyakit ini cenderung sulit untuk dideteksi dini. Berikut adalah beberapa gejala dan tanda yang biasanya dialami oleh odapus, menurut American College of Rheumatology:

• Nyeri sendi
• Sendi bengkak
• Mulut atau hidung mengalami luka yang tak kunjung sembuh berhari-hari hingga berbulan-bulan.
• Di dalam urin terdapat darah atau bahkan protein (proteinuria)
• Terdapat ruam-ruam di berbagai permukaan kulit
• Rambut rontok
• Demam
• Kejang-kejang
• Dada sakit dan sulit bernapas akibat peradangan pada paru-paru

Bila Anda mengalami setidaknya 4 gejala dan tanda tersebut, maka sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Apa saja penyebab penyakit lupus?
Lupus adalah penyakit kronis yang diakibatkan oleh gangguan di dalam tubuh, sehingga sudah pasti bukan virus atau bakteri penyebab utamanya. Faktanya, para ahli belum mengetahui dengan pasti apa penyebab lupus. Ada banyak faktor yang mungkin menyebabkan hal ini. Namun, beberapa teori menyatakan bahwa penyakit lupus disebabkan karena adanya interaksi gen, hormon, dan lingkungan.

1. Faktor genetik

Para peneliti dari John Hopkins Center, pertama kali tertarik oleh faktor penyebab penyakit lupus, dari adanya hubungan antara gen keluarga dengan penderita. Nyatanya, keberadaan penderita lupus dalam sebuah keluarga, dapat meningkatkan kecenderungan penyakit lupus pada anggota keluarga lain. Selain itu, anggota keluarga penderita lupus, ketika melakukan tes medis, cenderung positif hasilnya.

Lalu, dengan adanya gen yang memicu berkembangnya suatu penyakit, bukan berarti juga orang tersebut dapat langsung terkena atau dapat mewariskan penyakit lupus. Di lain hal, para peneliti yakin kalau penyebab penyakit lupus ada kaitannya dengan kondisi lingkungan yang buruk. Tapi sayangnya, mereka masih belum bisa menentukan faktor mana yang paling kuat menyebabkan seseorang menderita lupus.

2. Hormon

Nyatanya, wanita 9 kali lebih berisiko terkena lupus dibandingkan pria. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh hormon seks yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh perempuan dan laki-laki, di mana keduanya jelas berbeda. Tubuh wanita menghasilkan dan menggunakan hormon estrogen yang lebih banyak, sementara tubuh laki-laki bergantung pada hormon yang disebut androgen.

Estrogen dikenal sebagai hormon “immuno-enhancing“, yang berarti bahwa wanita memiliki sistem kekebalan tubuh lebih kuat daripada pria, mengingat kebutuhan evolusioner bagi wanita untuk bertahan hidup, berperan melahirkan, dan mengasuh anak-anak mereka. Namun akibatnya, saat sistem imun ini berbalik menyerang tubuh, wanita akan lebih mudah mengalami penyakit autoimun.

3. Lingkungan

Selain itu, beberapa faktor lingkungan telah dikaitkan menjadi penyebab penyakit lupus. Para peneliti telah menghubungkan antara lupus dan berbagai racun lingkungan, contohnya seperti asap rokok, gel natrium silika, dan merkuri. Virus herpes zoster (virus yang menyebabkan herpes zoster), dan sitomegalovirus digadang-gadang juga menjadi salah satu penyebab seseorang terkena lupus.

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit lupus?
Selain ketiga faktor penyebab tersebut, ada beberapa hal lain yang mungkin membuat seseorang berisiko lebih besar untuk terkena lupus. Apa saja?

• Jenis kelamin. Diketahui bila wanita lebih mudah terkena lupus ketimbang laki-laki. Hal ini berkaitan dengan genetik yang ada di tubuh wanita.
• Ras. Penyakit lupus lebih rentan dialami oleh orang yang memiliki ras Asia dan Afrika.
• Mengonsumsi obat-obatan. Beberapa jenis obat anti-kejang, obat tekanan darah, hingga antibiotik, dapat memicu munculnya lupus saat mereka berhenti minum obat.
• Paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari dapat menyebabkan luka pada kulit yang bisa memicu lupus akibat organ atau sel dalam tubuh yang rentan.

Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit lupus?

Tak hanya karena memiliki 1000 wajah, namun juga lupus hadir dalam kondisi yang berbeda-beda pada setiap orang. Hal ini yang membuat lupus semakin sulit dideteksi.

Sampai saat ini tidak ada pemeriksaan khusus yang dapat mendeteksi penyakit lupus. Meskipun begitu, dokter biasanya akan menganjurkan pasien untuk melakukan beberapa tes, seperti tes urin, tes darah, serta tes antibodi.

Untuk mendiagnosis apakah seseorang mengalami penyakit lupus, dokter juga biasanya akan melihat riwayat kesehatan keluarga, melakukan pemeriksaan kesehatan secara umum, serta menganjurkan pasien menjalani biopsi kulit serta ginjal.

Apa saja pengobatan untuk penyakit lupus?

Sampai saat ini, penyakit lupus adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Jadi orang yang mengalami penyakit lupus tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, pasien tetap akan menerima pengobatan. Pengobatan yang dilakukan adalah bertujuan untuk:

• Mencegah munculnya gejala akibat lupus
• Mengurangi berbagai gejala lupus
• Mengurangi kerusakan organ dan masalah lainnya
• Mengurangi pembengkakan dan nyeri
• Menenangkan sistem kekebalan tubuh
• Mengurangi atau mencegah kerusakan sendi
• Menghindari komplikasi

Biasanya pengobatan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan pasien obat untuk meringankan gejala atau gangguan kesehatan lain. Obat yang diberikan seperti:

1. Obat anti-peradangan nonsteroid (NSAIDs)

Obat ini termasuk obat penghilang rasa sakit yang biasa diberikan pada odapus untuk mengatasi rasa nyeri, demam, dan sendi bengkak yang ia alami. Contoh dari jenis obat NSAIDs adalah naproxen, ibuprofen, dan motrin. Sebagian besar obat NSAIDs tidak membutuhkan resep dokter, namun beberapa obat yang memiliki dosis dan efek samping yang kuat harus menggunakan resep.

2. Obat antimalaria

Obat ini sebenarnya digunakan untuk mencegah dan mengatasi penyakit malaria. Namun dalam hal ini, obat malaria dibutuhkan oleh odapus untuk mengatasi gejala nyeri sendi, ruam kulit, peradangan pada selaput jantung, serta demam – yang juga biasanya terjadi pada pasien malaria.

Bahkan berbagai penelitian telah menunjukkan kalau pasien lupus yang diberikan obat malaria memiliki angka harapan hidup yang lebih pajang ketimbang yang tidak diberika obat ini. Jenis obat malaria yang diberikan yaitu, Hydroxychloroquine (Plaquenil), Chloroquine (Aralen), Quinacrine (Atabrine).

3. Kortikosteroid

Obat jenis ini dibutuhkan oleh pasien lupus untuk mencegah peradangan yang sangat rentan terjadi pada tubuhnya. Namun, obat kortikosteroid memiliki efek samping jangka panjang seperti menaikkan berat badan, membuat tulang lebih keropos, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

4. Imunosupresan

Obat imunosupressan bekerja untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Tentu, obat jenis ini sangat dibutuhkan oleh para odapus yang sistem kekebalan tubuhnya terlalu dominan. Beberapa jenis obat yang biasanya digunakan yaitu azathioprine (Imuran, Azasan), mycophenolate (CellCept), leflunomide (Arava) and methotrexate (Trexall).

Penggunaan obat imunosupressan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, menurunkan kesuburan, dan meningkatkan risiko kanker. sementara, efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi yaitu mual, diare, dan demam.

Komplikasi dan gangguan kesehatan yang bisa muncul akibat penyakit lupus
Lupus adalah penyakit yang mengganggu sistem kekebalan, sehingga banyak sistem atau jaringan tubuh lain yang mengalami gangguan. Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada odapus, yaitu:

• Gagal ginjal
• Gangguan pada darah, seperti anemia
• Tekanan darah tinggi
• Vaskulitis, peradangan pada pembuluh darah
• Gangguan ingatan
• Mengalami perubahan perilaku, seperti sering berhalusinasi
• Kejang
• Stroke
• Penyakit jantung
• Masalah pada paru-paru, contohnya peradangan pada selaput paru-paru dan pneumonia
• Mudah terserang berbagai penyakit infeksi
• Kanker

Bagaimana menjalani hidup dengan penyakit lupus?

Meski penyakit lupus adalah penyakit yang tak dapat disembuhkan, namun odapus tetap bisa hidup dengan damai dan mengurangi risiko gangguan yang mungkin muncul. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan odapus untuk mencegah komplikasi muncul dan dapat hidup berdamai bersama lupus:

• Melakukan olahraga dengan rutin. Odapus rentan mengalami gangguan pada sendi dan tulang. Tetap melakuka olahraga degan ruti dapat membantunya untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi.
• Berhenti merokok. kebiasaan merokok hanya akan membuat penyakit ini bertambah parah, karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, serangan jantung, dan pneumonia.
• Istirahat yang cukup dan hindari stres. Stres hanya akan membuat gejala lupus semakin parah. Maka dari itu, odapus harus banyak beristirahat dan menghindari stres.
• Pahami tubuh. Para pasien dengan lupus harus tahu kapan gejala lupus muncul dan apa yang memicunya keluar. Misalnya saja, rasa letih muncul, maka odapus sebaiknya langsung beristirahat dengan cukup dan menghentikan segala kegiatannya terlebih dahulu.
• Hindari paparan sinar matahari. Sinar matahari dapat memperburuk ruam kulit yang terjadi. Bila memang terpaksa untuk keluar di siang hari, sebaiknya gunakan tabir surya agar kulit terlindungi.

Makanan yang dianjurkan dan dihindari untuk pasien penyakit lupus

Makanan juga memengaruhi kondisi penyakit lupus. Ada yang meringankan gejala, tetapi ada pula yang memperburuk gejala lupus. Oleh karena itu, odapus harus pintar-pintar memilih makanan yang tepat. Lalu pada saja makanan yang dianjurkan dan dipantang bila mengalami lupus?

Makanan yang baik untuk penderita lupus
Makanan yang mengandung zat gizi tertentu dapat meringakan bahkan mecegah gejala lupus muncul. Berikut adalah jenis makanan yang dibutuhkan odapus:

1. Makanan dengan antioksidan tinggi

Odapus rentan mengalami peradangan, maka itu makanan yang mengandung antioksidan tinggi harus ada di dalam menu makanannya. Antioksidan dapat mencegah dan menurunkan kejadian peradangan di dalam tubuh. Zat ini bisa ditemukan di dalam buah-buahan dan sayuran.

2. Makanan yang megandung omega-3

Makanan seperti ikan salmon, tuna, sarden, dan makarel adalah contoh makanan yang kaya omega-3. Jenis lemak baik ini dibutuhkan odapus untuk mencegah komplikasi seperti penyakit jantung dan stroke.

3. Makanan dengan kalsium dan vitamin D tinggi

Salah satu permasalahan yang umum terjadi pada orang yang mengalami lupus adalah gangguan tulang, seperti rapuh, serta masalah persendian. Untuk mengurangi risiko tersebut, odapus memerlukan kalsium dan vitamin D yang dapat menguatkan tulang dan baik bagi persendian. Kedua zat gizi tersebut bisa didapatkan dalam susu dan olahannya, sayuran yang berwarna hijau tua, serta kacang-kacangan seperti kacang kedelai dan kacang almond.

Makanan yang perlu dihindari oleh penderita lupus
Sementara itu, ada makanan yang justru memperburuk gejala bahkan meningkatkan risiko komplikasi pada odapus. Apa saja makanan yang dipantang jika terkena lupus?

1. Makanan dengan lemak jenuh dan lemak trans tinggi

Lemak jenuh dan lemak trans hanya akan membuat gejala lupus semakin buruk, karena meningkatkan peluang terjadinya penyakit kronis lainnya, seperti stroke. Maka dari itu, hindari makanan yang mengandung zat-zat tersebut, seperti gorengan, fast food, lemak pada daging, kulit ayam, dan jeroan.

2. Makanan yang mengandung natrium terlalu banyak

Makanan yang tinggi natrium seperti makanan kemasan serta makanan yang asin, juga harus dihindari oleh odapus. Natrium juga membuat odapus semakin rentan untuk mengalami penyakit jantung, bahkan hingga gagal jantung.

3. Makanan yang mengandung bawang

Bawang selalu dijadikan sebagai bumbu dapur utama yang tak boleh terlewatkan. Tetapi, jika Anda mengalami odapus maka Anda harus meghindari makanan yang terdapat bawang di dalamnya. Sebab, menurut penelitian, bawang memiliki dampak pada sistem kekebalan tubuh.

Bawang mampu meningkatkan jumlah sel darah putih, di mana sel ini merupakan sel utama dari sistem kekebalan tubuh. Semakin banyak sel darah putih maka semakin kuat sistem imun. Tentu, hal ini akan menjadi bumerang bagi orang yang mengalami lupus.

Penyakit Herpes

Penyakit Herpes

Herpes merupakan nama kelompok virus herpesviridae yang dapat menginfeksi manusia. Infeksi virus herpes dapat ditandai dengan munculnya lepuhan kulit dan kulit kering. Jenis virus herpes yang paling terkenal adalah herpes simplex virus atau HSV. Herpes simplex dapat menyebabkan infeksi pada daerah mulut, wajah, dan kelamin (herpes genitalia).

Pembagian kelompok virus herpesviridae adalah sebagai berikut:

• Alfa herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang pendek, serta berpotensi menjadi tersembunyi dan infeksi muncul kembali (infeksi laten) di sel saraf. Contoh alfa herpesvirus adalah HSV tipe 1 dan 2, serta virus varicella-zoster.
• Beta herpesvirus. Kelompok virus ini memiliki siklus hidup untuk menggandakan diri yang panjang dan infeksi virus ini berjalan lambat dalam tubuh manusia. Contoh beta herpesvirus adalah cytomegalovirus, serta herpesvirus 6 dan 7.
• Gamma herpesvirus. Contohnya adalah Epstein-Barr virus dan human herpesvirus 8.

Tahapan Infeksi Herpes

Infeksi herpes yang muncul biasanya terjadi dalam beberapa tahapan. Rincian tahapan infeksi herpes adalah sebagai berikut:

• Stadium primer. Stadium primer terjadi pada hari kedua hingga kedelapan setelah terjadinya infeksi herpes. Gejala yang muncul adalah blister (kulit yang melepuh) berukuran kecil, namun menyakitkan. Blister biasanya berisi cairan berwarna bening atau keruh, dan dapat pecah serta menimbulkan luka terbuka. Daerah di sekitar blister akan berwarna kemerahan.
• Stadium laten. Pada stadium ini, gejala herpes seperti blister dan koreng akan mereda. Tetapi pada stadium ini, sebetulnya virus sedang menyebar ke saraf dekat saraf tulang belakang melalui kulit.
• Stadium peluruhan. Pada stadium ini, virus mulai berkembang biak pada ujung-ujung saraf organ tubuh. Jika ujung saraf yang terinfeksi terletak pada organ tubuh yang menghasilkan cairan, seperti testis atau vagina, virus herpes dapat terkandung dalam cairan tubuh seperti semen dan lendir Biasanya tidak terjadi gejala yang terlihat, namun sebenarnya sedang terjadi perkembangbiakan virus di dalam tubuh.
• Stadium rekurensi (muncul kembali). Pada stadium ini, blister pada kulit yang terjadi di stadium pertama dapat muncul kembali. Biasanya tidak separah lepuhan dan koreng yang sebelumnya. Gejala yang umumnya muncul pada stadium rekurensi ini adalah gatal, kesemutan, dan nyeri di daerah yang terkena infeksi pada stadium pertama.

Virus Penyebab dan Gejala Herpes
Artikel ini akan fokus membahas kelompok alfa herpesvirus yang paling sering menyebabkan infeksi.

HSV 1

Herpes simplex virus tipe 1 (HSV 1) merupakan virus yang dapat menyebar dengan cepat, dan umumnya menyebabkan herpes oral (mulut). Akan tetapi HSV 1 juga dapat menyebabkan terjadinya herpes kelamin (genital) jika menyebar dari mulut ke alat kelamin pada saat melakukan hubungan seksual melalui oral. HSV 1 dapat menular melalui kontak langsung sederhana dari penderita herpes ke orang yang sehat. Contohnya adalah lewat berciuman (termasuk saat mencium bayi), berbagai pakai peralatan makan atau lipstik dan kosmetik. HSV 1 bahkan dapat ditularkan dari seseorang yang mengalami infeksi HSV 1 namun tanpa gejala.

Gejala yang dapat ditimbulkan oleh infeksi HSV 1 atau herpes oral adalah:

• Diawali dengan demam, nyeri otot, dan lemas.
• Muncul rasa nyeri, gatal, rasa terbakar atau ditusuk pada tempat infeksi.
• Kemudian timbul blister, yaitu lesi kulit seperti melepuh yang pecah dan mengering dalam beberapa hari.
• Blister yang pecah tersebut mengakibatkan luka dengan rasa nyeri. Bila terjadi di mulut, bisa mengganggu makan.

HSV 2

Herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2) merupakan penyebab penyakit herpes genital. Virus ini menyebar melalui kontak dengan luka pada penderita herpes, misalnya saat hubungan seksual. Selain itu, HSV 2 juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat persalinan.

Baik HSV 1 maupun HSV 2 dapat menjadi infeksi laten di sel saraf dan berisiko muncul kembali saat seseorang mengalami demam, cedera, stres, dan menstruasi. HSV 2 sendiri dapat lebih mudah menginfeksi seseorang jika:

• Berjenis kelamin perempuan.
• Bergonta-ganti pasangan seksual.
• Memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah.
• Sedang mengalami penyakit menular seksual selain herpes.
• Melakukan hubungan seksual di usia muda.
• Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita herpes genital, antara lain:

• Gatal.
• Sakit pada saat buang air kecil.
• Keluarnya cairan dari vagina.
• Munculnya benjolan di selangkangan.
• Munculnya koreng yang menyakitkan pada kemaluan, pantat, anus, atau paha.
• Pada pria, herpes dapat menyebabkan kulit penis kering, perih, dan gatal.

VZV

Varicella-zoster virus (VZV) merupakan virus kelompok alfa herpesviridae yang menjadi penyebab cacar air dan cacar ular (herpes zoster). Cacar air terjadi ketika virus varicella-zoster menginfeksi seorang anak pertama kali. Sedangkan herpes zoster terjadi ketika cacar air yang diderita seseorang sudah sembuh namun di tubuh orang tersebut masih ada virus varicella-zoster yang bersifat laten dan muncul kembali.

VZV utamanya menular melalui kontak langsung dengan penderita cacar air. Virus ini dapat menimbulkan bintil pada kulit penderita (vesikel) yang berisi cairan dan dapat menjadi perantara penularan virus. Selain itu, VZV juga dapat menular melalui percikan ludah, yaitu pada saat penderita cacar air bersin atau batuk.

Seseorang lebih mudah terkena infeksi virus varicella-zoster jika:

• Berusia di bawah 12 tahun.
• Mengalami permasalahan sistem imun, baik akibat penyakit maupun obat-obatan.
• Pernah mengalami kontak langsung dengan penderita cacar air.
• Bekerja atau beraktivitas di sekolah atau fasilitas khusus anak-anak.
• Tinggal bersama anak-anak.

Jika seseorang pernah mengalami cacar air sebelumnya dan sembuh, risiko orang tersebut untuk mengalami cacar air kembali berkurang karena adanya kekebalan. Kekebalan tubuh terhadap virus varicella-zoster juga dapat diperoleh melalui vaksinasi. Seorang ibu hamil yang memiliki kekebalan terhadap VZV dapat memberikan kekebalannya kepada janin melalui transfer antibodi. Kekebalan janin yang diperoleh dengan cara tersebut dapat bertahan sekitar 3 bulan sejak lahir.

Herpes zoster dapat terjadi pada siapa saja yang pernah mengalami cacar air. Akan tetapi seseorang dapat lebih mudah terkena herpes zoster jika:

• Berusia 60 tahun ke atas.
• Sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi.
• Sedang menjalani pengobatan yang dapat memengaruhi atau melemahkan sistem imun (imunosupresan).
Menderita penyakit yang dapat melemahkan sistem imun seperti HIV/AIDS atau kanker.

Gejala cacar air dimulai dengan ruam kulit berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal. Vesikel yang muncul dapat diikuti dengan adanya gejala lain, seperti demam, hilangnya nafsu makan dan sakit kepala. Virus tersebut sudah berada di dalam tubuh penderita selama 7-21 hari sebelum dapat menimbulkan ruam dan gejala lainnya. Penderita sudah dapat menularkan virus varicella-zoster ke orang lain sejak 48 jam sebelum munculnya ruam.

Jika penderita cacar air yang sudah sembuh kemudian mengalami herpes zoster, gejala yang muncul biasanya berupa rasa nyeri dan panas pada kulit di salah satu sisi bagian tubuh, sesuai dengan penjalaran saraf tempat VZV bersembunyi. Nyeri dan panas di bagian tersebut akan diikuti dengan munculnya ruam kemerahan, membentuk lepuhan (blister) berisi air dan gatal.

Diagnosis Herpes

Herpes dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan mengecek koreng yang terbentuk akibat herpes serta menanyakan gejala yang muncul pada pasien. Selain itu, untuk membantu diagnosis herpes agar lebih akurat, dapat dilakukan pemeriksaan tambahan, seperti:

• Kultur virus herpes simplex. Kultur virus herpes bertujuan untuk mendiagnosis adanya virus herpes. Kultur virus herpes dilakukan dengan cara mengusap area kulit atau genital yang terinfeksi, mengambil cairan genital atau cairan tubuh lainnya yang diduga mengalami herpes untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
• Tes antibodi. Tes antibodi spesifik virus HSV 1 dan HSV 2 dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi primer herpes, namun tidak dapat mendeteksi infeksi herpes rekuren. Tes antibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tubuh, kemudian dianalisis di lab untuk dicek keberadaan antibodi spesifik HSV 1 ataupun HSV 2. Perlu diingat bahwa tubuh memerlukan waktu sekitar 12-16 minggu untuk membentuk antibodi anti HSV 1 atau HSV 2, setelah virus HSV masuk ke dalam tubuh pertama kali. Tes antibodi HSV 1 dan HSV 2 sangat membantu diagnosis, terutama jika pasien tidak mengalami koreng atau pelepuhan pada kulit.

Pengobatan Herpes

Fokus pengobatan herpes adalah untuk menghilangkan blister, serta untuk mencegah penyebaran herpes, meskipun koreng dan lepuhan akibat herpes dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Selain itu, pemberian obat-obatan antivirus juga dapat mengurangi komplikasi akibat herpes. Beberapa obat-obatan antivirus yang dapat digunakan, antara lain adalah:

• Acyclovir.
• Valacyclovir.
• Famciclovir.

Untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan oleh herpes, tips-tips berikut ini dapat dilakukan selama masa penyembuhan herpes, antara lain yaitu:

• Mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen sebagai obat pereda nyeri.
• Mandi dengan menggunakan air suam
• Kompres dengan air hangat atau atau air dingin pada kulit yang terkena.
• Menggunakan pakaian dalam berbahan katun.
• Menggunakan pakaian longgar.
• Menjaga area koreng tetap kering dan bersih.

Khusus ibu hamil, jika sedang atau pernah menderita herpes genital harus berkonsultasi dengan dokter. Virus herpes dapat menular dari ibu kepada bayi selama masa persalinan, terutama ketika sedang infeksi aktif, serta dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi bayi. Jika ibu hamil diketahui sedang atau pernah menderita herpes, diskusikan dengan doker mengenai kemungkinan melahirkan bayi secara operasi Caesar.

Komplikasi Herpes

Herpes simplex jarang menimbulkan komplikasi serius pada penderita. Herpes simplex dapat menimbulkan komplikasi, terutama jika penderita juga menderita infeksi HIV. Penderita herpes simplex yang juga menderita HIV biasanya menderita gejala herpes yang lebih parah dan lebih sering kambuh. Beberapa komplikasi yang jarang, namun serius, yang dapat ditimbulkan oleh herpes simplex adalah:

• Penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain.
• Radang otak dan selaputnya.
• Radang paru-paru.
• Hepatitis.
• Esofagitis.
• Kematian jaringan retina mata.

Komplikasi dari infeksi virus varicella-zoster tidak selalu terjadi pada penderita cacar air. Komplikasi seringkali terjadi pada anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang yang kekebalan tubuhnya lemah. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat cacar air adalah:

• Ruam menyebar ke bagian mata.
• Ruam yang diikuti oleh sesak napas dan sakit kepala.
• Ruam yang diikuti dengan infeksi bakteri sekunder pada daerah tersebut.

Herpes zoster dapat menimbulkan komplikasi antara lain:

• Post herpetic neuralgia. Nyeri yang masih dirasakan walaupun lesi pada kulit sudah menghilang.
• Infeksi bakteri. Infeksi bakteri dapat pada lokasi ruam akibat herpes, yang sering menimbulkan gejala seperti kulit kemerahan, pembengkakan dan hangat jika disentuh.
• Nyeri dan ruam pada mata. Ruam akibat herpes zoster yang penjalarannya di sekitar mata dapat menginfeksi mata. Ruam di daerah ini membutuhkan terapi antivirus yang lebih lama dan berisiko menimbulkan kerusakan mata permanen.
• Sindrom Ramsay-Hunt. Sindrom Ramsay-Hunt dapat terjadi sebagai komplikasi dari herpes zoster. Gejala Sindrom Ramsay-Hunt antara lain adalah kehilangan pendengaran, pusing, nyeri di salah satu telinga dan kehilangan kemampuan mengecap rasa pada lidah.

Jika komplikasi tersebut muncul, hendaknya segera diperiksakan ke dokter. Komplikasi virus varicella-zoster dapat berbahaya terutama jika terjadi pada wanita hamil. Jika wanita hamil menderita infeksi virus varicella-zoster, janin yang dikandungnya dapat mengalami kelainan bawaan, seperti:

• Kelainan mata dan masalah penglihatan lainnya.
• Disabilitas intelektual (retardasi mental).
• Pertumbuhan yang lambat.
• Kepala yang berukuran lebih kecil dari ukuran normal.

Pencegahan Herpes
Untuk mencegah penyebaran virus herpes ke orang lain, dapat dilakukan langkah-langkah berikut ini:

• Menghindari kontak fisik dengan orang lain, terutama kontak dari koreng yang muncul akibat herpes.
• Mencuci tangan secara rutin.
• Mengoleskan obat antivirus topikal, misalnya acyclovir topikal, menggunakan kapas agar kulit tangan tidak menyentuh daerah yang terinfeksi virus herpes.
• Jangan berbagi pakai barang-barang yang dapat menyebarkan virus, seperti gelas, cangkir, handuk, pakaian, make up, dan lip balm.
• Jangan melakukan oral seks, ciuman atau aktivitas seksual lainnya, selama munculnya gejala penyakit herpes.

Khusus bagi penderita herpes genitalia, harus menghindari segala bentuk aktivitas seksual selama masa tersebut. Perlu diingat bahwa meskipun sudah menggunakan kondom, virus herpes tetap dapat menyebar melalui kontak kulit yang tidak terlindungi kondom.

Oleh karena itu, lindungi diri Anda dari sekarang dengan memiliki asuransi kesehatan. Selain menjadi upaya pencegahan, cara ini juga dapat meringankan beban biaya pengobatan bila terkena penyakit herpes ataupun komplikasinya.

Penyebab Penyakit Autoimun

Penyakit Autoimun

Belum diketahui apa penyebab penyakit autoimun, namun beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita penyakit ini:

• Etnis. Beberapa penyakit autoimun umumnya menyerang etnis tertentu. Misalnya, diabetes tipe 1 umumnya menimpa orang Eropa, sedangkan lupus rentan terjadi pada orang Afrika-Amerika dan Amerika Latin.
• Gender. Wanita lebih rentan terserang penyakit autoimun dibanding pria. Biasanya penyakit ini dimulai pada masa kehamilan.
• Lingkungan. Paparan dari lingkungan, seperti cahaya matahari, bahan kimia, serta infeksi virus dan bakteri, bisa menyebabkan seseorang terserang penyakit autoimun dan memperparah keadaannya.
• Riwayat keluarga. Umumnya penyakit autoimun juga menyerang anggota keluarga yang lain. Meski tidak selalu terserang penyakit autoimun yang sama, mereka rentan terkena penyakit autoimun yang lain.

Gejala Penyakit Autoimun

Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa di antaranya memiliki gejala yang sama. Pada umumnya, gejala-gejala awal penyakit autoimun adalah:

• Kelelahan.
• Pegal otot.
• Ruam kulit.
• Demam ringan.
• Rambut rontok.
• Sulit berkonsentrasi.
• Kesemutan di tangan dan kaki.

Masing-masing penyakit autoimun memiliki gejala yang spesifik, misalnya sering merasa haus, lemas, dan penurunan berat badan pada penderita diabetes tipe 1.

Beberapa contoh dari penyakit autoimun beserta gejalanya, adalah:

• Lupus; dapat memengaruhi hampir semua sistem organ dan menimbulkan gejala seperti demam, nyeri sendi, ruam kulit, kulit sensitif, sariawan, bengkak pada tungkai, sakit kepala, kejang, nyeri dada, sesak napas, pucat, dan perdarahan.
• Penyakit Graves; dapat mengakibatkan kehilangan berat badan, mata menonjol, gelisah, rambut rontok, jantung berdebar.
• Psoriasis; kulit bersisik.
• Multiple sclerosis; nyeri, lelah, otot tegang, gangguan penglihatan, dan kurangnya koordinasi tubuh merupakan gejala dari multiple sclerosis.
• Myasthenia gravis; kelelahan yang semakin parah seiring aktivitas yang dilakukan.
• Tiroiditis Hashimoto atau penyakit Hashimoto; kelelahan, depresi, sembelit, peningkatan berat badan, kulit kering, dan sensitif pada udara dingin.
• Kolitis ulseratif dan Crohn’s disease; nyeri perut, diare, BAB berdarah, demam, dan penurunan berat badan.
• Rheumatoid arthritis; menimbulkan gejala nyeri sendi, radang sendi, dan pembengkakan.
• Sindrom Guillain-Barre; kelelahan sampai kelumpuhan.

Gejala penyakit autoimun dapat mengalami flare, yaitu timbulnya gejala secara tiba-tiba dengan derajat yang berat. Flare timbul karena dipicu oleh suatu hal, misalnya paparan sinar matahari atau stres.

Diagnosis Penyakit Autoimun

Tidak mudah bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit autoimun. Meski setiap penyakit autoimun memiliki ciri khas, namun gejala yang muncul bisa sama. Dokter akan menjalankan beberapa tes untuk mengetahui apakah seseorang terserang penyakit autoimun, di antaranya dengan tes ANA (antinuclear antibody) dan tes untuk mengetahui peradangan yang mungkin ditimbulkan penyakit autoimun.

Pengobatan Penyakit Autoimun

Kebanyakan dari penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, namun gejala yang timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak timbul flare. Pengobatan untuk menangani penyakit autoimun tergantung pada jenis penyakit yang diderita, gejala yang dirasakan, dan tingkat keparahannya. Untuk mengatasi nyeri, penderita bisa mengkonsumsi aspirin atau ibuprofen.

Pasien juga bisa menjalani terapi pengganti hormon jika menderita penyakit autoimun yang menghambat produksi hormon dalam tubuh. Misalnya, untuk penderita diabetes tipe 1, dibutuhkan suntikan insulin untuk mengatur kadar gula darah, atau bagi penderita tiroiditis diberikan hormon tiroid.

Beberapa obat penekan sistem kekebalan tubuh, seperti kortikosteroid (contohnya dexamethasone), digunakan untuk membantu menghambat perkembangan penyakit dan memelihara fungsi organ tubuh. Obat jenis anti TNF, seperti infliximab, dapat mencegah peradangan yang diakibatkan penyakit autoimun rheumatoid arthritis dan psoriasis.

Pengobatan penyakit autoimun berpotensi menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan mungkin perlu dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mencoba mendaftarkan diri Anda ke asuransi kesehatan terpercaya mulai dari sekarang.

Kenali Penyakit Kusta Atau Lepra

penyakit Kusta

Penyakit lepra, yang lebih dikenal dengan Morbus Hansen atau kusta adalah infeksi kulit kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Lepra termasuk penyakit tertua dalam sejarah, dikenal sejak tahun 1400 sebelum masehi. Infeksi ini menyerang saraf tepi dan kulit, kemudian saluran pernapasan atas, dan bisa juga menyerang organ lain kecuali otak.

Jumlah penderita lepra di dunia pada tahun 2007 diperkirakan 2-3 juta orang lebih. Pada 2008, penderita penyakit lepra di Indonesia diperkirakan sebanyak 22.359 atau 0,73 kasus dari setiap 100.000 penduduk, dengan jumlah kasus baru sebanyak 16.668. Penyakit ini banyak ditemukan terutama di pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Kusta adalah salah satu penyakit yang ditakuti karena dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi (misalnya terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), ulserasi (luka borok), dan lainnya. Infeksi kulit ini disebabkan karena adanya kerusakan saraf besar di daerah wajah, anggota gerak, dan motorik; diikuti dengan rasa baal yang disertai kelumpuhan otot dan pengecilan massa otot.

Apa penyebab penyakit kusta?

Penyebab penyakit kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri tersebut ditularkan melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan penderita. Anggapan lain menyebutkan bahwa penyakit ini juga bisa ditularkan melalui inhalasi alias menghirup udara, karena bakteri penyebab penyakit kusta dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet (butiran air) di udara.

Bakteri penyebab penyakit kusta juga bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan binatang tertentu seperti armadilo. Penyakit ini memerlukan waktu inkubasi yang cukup lama, antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata membutuhkan 3-5 tahun setelah tertular sampai timbulnya gejala.

Sekitar 95 persen orang kebal terhadap bakteri penyebab penyakit kusta, dan hanya sekitar 5 persen yang dapat tertular bakteri tersebut. Dari 5 persen orang yang tertular bakteri penyebab penyakit kusta, sekitar 70 persennya sembuh sendiri, dan hanya 30 persen yang sakit kusta. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi bakteri ini, hanya 2 orang yang akan jatuh sakit.

Bagaimana penyakit kusta dapat terjadi?

Berikut beberapa tahapan perkembangan penyakit lepra yang perlu Anda simak dan ketahui:

1. Bakteri masuk ke dalam tubuh
Mula-mula bakteri penyebab kusta akan masuk ke dalam hidung dan kemudian organ pernapasan manusia. Setelah itu, bakteri akan berpindah ke jaringan saraf dan masuk ke dalam sel-sel saraf. Karena bakteri penyebab penyakit kusta suka dengan tempat yang bersuhu dingin, maka bakteri akan masuk ke sel saraf tepi dan sel saraf kulit yang memiliki suhu yang lebih dingin, misalnya saja di sekitar selangkangan atau kulit kepala.

Kemudian bakteri penyebab kusta akan menjadikan sel saraf sebagai ‘rumah’ dan mulai berkembang biak di dalamnya. Bakteri ini memerlukan waktu 12-14 hari untuk membelah diri menjadi dua. Biasanya sampai di tahap ini, seseorang yang terinfeksi belum memunculkan gejala kusta secara kasat mata.

2. Sistem kekebalan tubuh pun bereaksi
Seiring berjalannya waktu, bakteri penyebab penyakit kusta akan berkembang semakin banyak. Secara otomatis, sistem imun secara alami memperkuat pertahannya. Sel-sel darah putih yang menjadi pasukan pelindung utama tubuh pun diproduksi semakin banyak untuk menyerang bakteri penyebab penyakit kusta.

Saat sistem kekebalan tubuh sudah menyerang bakteri, barulah timbul gejala kusta yang dapat dilihat pada tubuh, seperti munculnya bercak-bercak putih pada kulit. Pada tahap ini, gejala kusta seperti mati rasa sudah mulai muncul. Jika gejala kusta yang satu ini tidak segera ditangani, maka bakteri dengan cepat akan menimbulkan berbagai gangguan lain di tubuh.

Perkembangan penyakit ini tergantung seberapa kuat sistem kekebalan tubuh Anda

Bakteri penyebab penyakit lepra memang secara otomatis diserang oleh sistem kekebalan tubuh manusia. Namun, sistem kekebalan tubuh tiap orang berbeda-beda. Ketika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, maka bakteri mungkin tidak akan menyebabkan gejala yang terlalu parah.

Meski begitu, bakteri penyebab penyakit lepra tetap menimbulkan kerusakan di jaringan kulit dan menyebabkan mati rasa.

Sementara, pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, mungkin akan lebih rentan untuk mengalami infeksi kulit. Biasanya, kondisi ini akan menyebabkan infeksi kulit bagian saraf, mata, ginjal, otot, hingga pembuluh darah.

Apa saja tanda dan gejala kusta?

Penyakit ini terdiri dari dua jenis, yaitu kusta kering atau pausi basiler (PB) dan kusta basah atau multi basiler (MB). Munculnya bercak putih seperti panu biasanya merupakan gejala kusta kering. Sedangkan gejala kusta basah lebih mirip kadas, yaitu bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit.

Gejala kusta yang paling mendasar lainnya adalah mati rasa atau baal. Kondisi ini menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan perubahan suhu sehingga kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulit. Nah, hal tersebutlah yang menyebabkan penderita rentan mengalami kecacatan karena saraf mereka rusak, sehingga mereka tidak merasakan sakit meskipun jari mereka putus.

Selain yang sudah disebutkan tadi, beberapa tanda dan gejala kusta yang harus diwaspadai adalah:

• Kulit kering, dan pada daerah yang sebelumnya ditumbuhi rambut atau bulu bisa rontok
• Bulu mata yang rontok
• Kelemahan atau kelumpuhan otot
• Perubahan bentuk wajah
• Mutilasi, rasa baal menyebabkan penderita tidak menyadari adanya luka, sehingga bisa menimbulkan luka • yang tidak diobati, borok
• Ginekomastia (payudara yang tumbuh membesar pada pria), akibat gangguan keseimbangan hormon
• Penurunan berat badan
• Pembesaran saraf tepi, biasanya di sekitar siku dan lutut
• Lepuh atau ruam
• Muncul bisul tapi tidak sakit
• Hidung tersumbat atau mimisan
• Muncul luka tapi tidak terasa sakit

Tanda dan gejala kusta sering kali menyerupai penyakit lain, dan terkadang menyebabkan terlambatnya diagnosis, oleh sebab itu penyakit disebut juga sebagai the great immitator. Beberapa penyakit yang mirip dengan kusta adalah vitiligo, ptiriasis versikolor, ptiriasis alba, tinea korporis, dan masih banyak lagi.

Apa yang saya harus lakukan jika menemukan tanda dan gejala kusta?

Segera konsultasikan dengan dokter Anda jika menemukan gejala di atas, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan:

• Pemeriksaan bakterioskopik dibuat dari kerokan jaringan kulit di beberapa tempat, diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya bakteri M. Lepra.
• Pemeriksaan histopatologis bertujuan untuk melihat perubahan jaringan dikarenakan infeksi.
• Pemeriksaan serologis didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh seseorang akibat infeksi.

Untuk dapat menegakkan diagnosis, dokter biasanya mencari 3 tanda utama (cardinal signs) dari lepra: kelainan kulit yang mati rasa, penebalan saraf tepi, dan hasil pemeriksaan bakterioskopik yang hasilnya positif.

Bagaimana cara mengobati infeksi kulit ini?

Lepra sering dianggap penyakit yang menakutkan. Padahal seiring kemajuan dunia medis, kusta adalah penyakit yang mudah diobati. Ironisnya, hingga saat ini beberapa daerah di Indonesia masih dianggap sebagai kawasan endemik kusta oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Tujuan utama pengobatan kusta adalah untuk memutuskan mata rantai penularan, menurunkan angka kejadian penyakit, mengobati dan menyembuhkan pasien, serta mencegah kecacatan. Untuk mencapai kesembuhan dan mencegah resistensi, obat kusta akan menggunakan kombinasi beberapa antibiotik yang disebut dengan multi drug treatment (MDT).

Kombinasi obat kusta yang biasanya digunakan dalam terapi MDT terdiri dari dapsone, rifampicin, clofazamine, lamprene, ofloxacin, dan/ atau minocycline. Variasi antibiotik ini bekerja menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri M. Leprae. Selain itu, kebanyakan obat kusta juga bersifat antiradang. Menggunakan antibiotik secara bersamaan dalam satu waktu juga ditujukan agar bakteri tidak kebal terhadap obat-obat yang diberikan sehingga penyakit ini juga akan cepat disembuhkan.

Dokter akan menentukan jumlah, jenis, dan dosis obatnya sesuai dengan jenis lepra yang Anda miliki. Jenis lepra juga akan memengaruhi lamanya pengobatan. Obat kusta harus diminum rutin, umumnya dalam waktu 6 bulan sampai 1-2 tahun.

Berkat MDT, total kasus penyakit lepra di dunia dalam 20 tahun terakhir merosot tajam hingga 90 persen. Hampir 16 juta pasien dengan penyakit ini telah sembuh total setelah menjalani pengobatan dengan antibiotik yang diresepkan dokter.

Petingnya minum obat kusta secara teratur

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, orang yang telah terdiagnosis dengan penyakit ini biasanya akan diberikan kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan selama enam bulan sampai dua tahun.

Tidak disiplin minum obat membuat bakteri penyebab penyakit kusta menjadi lebih kuat dan kebal terhadap pengobatan yang sekarang dan selanjutnya. Akibatnya, gejala kusta yang Anda alami bisa semakin parah karena bakteri terus berkembang biak dalam tubuh.

Sering lupa atau justru menghentikan minum obat juga merisikokan penularan kusta ke orang lain. Tak hanya membuat kondisi semakin buruk, bakteri yang semakin kuat tersebut dapat dengan mudah berpindah dan menginfeksi tubuh orang lain. Bisa saja, orang-orang terdekat Anda tertular penyakit ini di kemudian hari bila Anda tidak rutin minum obat kusta.

Selain rutin minum obat kusta sesuai yang diresepkan dokter, pembedahan juga dapat dilakukan sebagai terapi lanjutan untuk menormalkan fungsi saraf yang rusak. Pembedahan juga dilakukan untuk memperbaiki bentuk tubuh penderita yang cacat dan mengembalikan fungsi anggota tubuh.

Apa yang terjadi jika penyakit ini tidak diobati?
Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Dengan catatan pasien melakukan pengobatan secara rutin dan tuntas. Lepra yang terlambat dideteksi atau terlambat diobati bisa menyebabkan kecacatan pada penderita, baik yang sementara, maupun yang selamanya.

Pemerintah Indonesia telah menggratiskan pengobatan untuk penyakit ini. Jadi apa alasan Anda untuk tidak berobat?

Jenis cacat kusta yang perlu Anda waspadai
Berdasarkan Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Nasional, cacat akibat penyakit ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Cacat primer
Cacat primer adalah jenis cacat yang disebabkan langsung oleh infeksi bakteri M. leprae dalam tubuh. Cacat jenis ini menyebabkan penderitanya mengalami mata rasa, kulit kering dan bersisik serta claw hand alias tangan dan jari-jari membengkok.

Pada cacat primer, kemunculan bercak kulit yang mirip panu biasanya terjadi secara cepat dalam waktu yang relatif singkat. Bercak ini lama-lama menjadi meradang, membengkak, dan disertai dengan gejala demam. Selain itu, bisul yang muncul sebagai salah satu tanda dari gejala lepra bisa pecah dan berkembang menjadi borok. Kelemahan otot dan sensasi kulit mati rasa (kebas/ baal) biasanya terjadi dalam kurun waktu enam bulan terakhir semenjak paparan infeksi awal.

Bila Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan perawatan terbaik.

2. Cacat sekunder

Cacat sekunder adalah perkembangan dari cacat primer, terutama yang diakibatkan oleh kerusakan saraf. Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan bisul ulkus (luka terbuka di kulit alias borok) dan keterbatasan gerak sendi. Hal ini terjadi sebagai akibat kerusakan fungsional pada persendian dan jaringan lunak di sekitar area yang terinfeksi.

Kecacatan pada tahap ini terjadi melalui dua proses, yaitu:

• Adanya aliran langsung bakteri M.leprae ke susunan saraf tepi dan organ tertentu
• Melalui reaksi lepra

Jika bakteri sudah masuk ke dalam saraf, maka fungsi saraf lambat laun akan berkurang bahkan hilang. Secara umum, saraf berfungsi sebagai sensorik, motorik, dan otonom. Kelainan yang terjadi akibat infeksi kulit satu ini bisa menimbulkan gangguan pada masing-masing saraf atau kombinasi di antara ketiganya. Berikut beberapa gangguan atau kelainan pada masing-masing saraf akibat penyakit lepra:

• Gangguan saraf motorik. Saraf motorik berfungsi memberikan kekuatan pada otot. Gangguan atau kelainan pada saraf motorik bisa berupa kelumpuhan pada tangan dan kaki, jari-jari tangan maupun kaki membengkok, serta mata tidak bisa berkedip. Jika infeksi terjadi pada bagian mata, maka penderita bisa mengalami kebutaan.
• Gangguan saraf sensorik. Saraf fungsi sensorik bertugas untuk memberi sensasi dalam meraba, merasakan nyeri, dan merasakan suhu. Gangguan pada saraf sensorik dapat mengakibatkan tangan dan kaki mati rasa serta refleks kedip berkurang.
•Gangguan saraf otonom. Saraf otonom bertanggung jawab atas kelenjar keringat dan minyak di dalam tubuh. Gangguan pada bagian saraf ini mengakibatkan kekeringan dan keretakan pada kulit akibat adanya kerusakan pada kelenjar minyak dan aliran darah.

Tingkat keparahan cacat kusta

Selain dibedakan berdasarkan jenisnya, penyakit ini juga bisa dibedakan dari tingkat keparahan cacat yang terjadi. Tiap organ yang terpengaruh infeksi penyakit ini (umumnya mata, tangan, dan kaki) ada tingkat cacatnya tersendiri.

Adapun tingkat cacat penyakit lepra menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) yaitu:

• Tingkat 0. Pada tingkat ini organ seperti mata, tangan, dan kaki masih berfungsi secara normal karena belum/ tidak mengalami kelainan apa pun.
• Tingkat 1. Kerusakan pada kornea mata umumnya sudah terjadi. Umumnya sudah terjadi gangguan ketajaman penglihatan tetapi tidak dalam tahap yang parah. Penderita masih dapat melihat sesuatu dari jarak 6 meter. Kelemahan otot dan mati rasa pada tangan dan kaki sudah mulai terasa.
• Tingkat 2. Pada tingkat ini kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna. Penglihatan sudah sangat terganggu karena biasanya pasien dengan tingkatan ini tidak lagi mampu melihat sesuatu dari jarak 6 meter atau lebih. Kemudian terjadi juga kecacatan pada tangan dan kaki seperti luka terbuka dan jari membengkok permanen.

Penyakit Ginjal

Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal adalah gangguan yang terjadi pada organ ginjal, yaitu dua buah organ berbentuk seperti kacang merah yang berada di kedua sisi tubuh bagian punggung bawah, tepatnya di bawah tulang rusuk.

Gangguan pada ginjal akan memengaruhi kinerja tubuh dalam mencuci darah, yaitu menyaring limbah tubuh dan cairan berlebih yang akan menjadi urine. Secara lebih spesifik, ginjal memiliki beberapa fungsi penting, antara lain:

• Menyaring limbah tubuh (termasuk zat kimia, obat-obatan, dan makanan) dalam darah.
• Menjaga keseimbangan kadar garam, mineral, cairan, dan asam darah dalam tubuh.
• Menghasilkan eritropoetin, yaitu hormon yang berfungsi dalam pembentukan sel darah merah.
• Menghasilkan renin, yaitu enzim yang membantu mengatur tekanan darah.
• Menghasilkan senyawa aktif dari vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang.

Ketika fungsi ginjal terganggu, zat sisa limbah tubuh dan cairan yang menumpuk di dalam tubuh akan menyebabkan gejala berupa pembengkakan pada pergelangan kaki, mual, muntah, lemas, dan sesak napas.

Penyakit ginjal dapat dipicu oleh kondisi lainnya, misalnya karena diabetes dan tekanan darah tinggi. Artinya, seseorang berisiko mengalami gangguan ginjal jika mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, atau memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.

Jenis Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal terdiri dari beberapa jenis, antara lain:

• Infeksi ginjal. Infeksi ginjal terjadi bila bakteri dari kandung kemih menyebar naik menuju ke salah satu atau kedua ginjal. Kondisi ini muncul akibat dari komplikasi infeksi saluran kemih.
• Batu ginja. Garam dan mineral yang seharusnya disaring oleh ginjal tetapi malah mengeras dan tertimbun dalam ginjal sehingga terbentuk batu ginjal. Hal ini biasanya terjadi karena urine yang terlalu pekat, sehingga garam dan mineral mengkristal.
• Penyakit ginjal polikistik. Merupakan penyakit keturunan berupa munculnya kista (kantong berisi cairan) yang berkelompok di dalam ginjal. Penyakit ginjal polikistik tidak ganas, namun dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal. Selain terjadi di ginjal, kista pada ginjal polikistik juga bisa muncul di organ hati atau bagian lain dalam tubuh.
• Gagal ginjal akut. Gagal ginjal akut adalah kondisi dimana ginjal tidak dapat berfungsi normal secara tiba-tiba. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan menumpuknya garam dan zat kimia lainnya di dalam tubuh dan memengaruhi fungsi organ tubuh lainnya.
• Penyakit ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal kronis yaitu penurunan fungsi ginjal yang menetap selama tiga bulan. Kondisi ini ditandai beberapa gejala, seperti sesak napas, mual, dan kelelahan. Namun kondisi ini tidak dirasakan oleh pasien bila masih stadium 1-3. Oleh karena itu, banyak orang tidak menyadari sedang mengalami kondisi ini hingga mencapai stadium lanjutan.

Gejala Penyakit Ginjal

Gejala penyakit ginjal tergantung dari jenis penyakitnya dan apakah penyakit tersebut mengakibatkan penurunan fungsi ginjal. Beberapa gejala penurunan fungsi ginjal dan gejala penyakit ginjal secara spesifik, antara lain:

• Terjadi pembengkakan di pergelangan kaki dan sekitar mata.
• Mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan.
• Volume urine dan frekuensi buang air kecil berkurang.
• Urine berbusa.
• Merasa lelah dan sesak napas.
• Kulit kering dan terasa gatal.
• Terjadi kram otot, terutama di tungkai.
• Susah tidur.
• Tekanan darah tinggi.
• Gangguan irama jantung.
• Penurunan kesadaran.
• Pada gagal ginjal akut dapat terlihat tanda dehidrasi.
• Nyeri punggung bawah dan urine bercampur darah dapat terjadi pada penderita batu ginjal, penyakit ginjal polikistik, dan infeksi ginjal.
• Pada penderita infeksi ginjal dan batu ginjal dapat timbul keluhan demam dan menggigil.

Anak-anak yang mengalami penyakit ginjal akan mudah mengantuk, tidak bertenaga, kehilangan nafsu makan, dan pertumbuhannya terhambat.

Diagnosis Penyakit Ginjal

Untuk mendeteksi adanya gangguan pada ginjal, dokter dapat melakukan berbagai pemeriksaan penunjang, yaitu:

• Tes urine. Dilakukan untuk mengetahui kadar albumin dalam urine. Albumin merupakan salah satu jenis protein yang seharusnya terkandung di dalam darah. Jika ada albumin di dalam urine, artinya ginjal tidak berfungsi dengan baik dan secara tidak langsung kadar albumin dalam darah akan menurun. Analisis dan kultur kuman dari urin juga dapat dilakukan, untuk mengetahui adanya infeksi saluran kemih dan kuman penyebab infeksi tersebut.
• Tes darah. Dilakukan untuk memeriksa kadar kreatinin, yaitu sebuah zat yang berasal dari jaringan otot. Jika mengalami kerusakan, ginjal tidak bisa membuang kreatinin dari dalam darah. Melalui tes darah, dokter juga akan mengetahui laju filtrasi glomerulus (GFR) pasien. Hasil pemeriksaan GFR akan menunjukkan fungsi dan kondisi ginjal pasien. Selain fungsi ginjal, tes darah dapat melihat Hb yang menurun karena produksi sel darah merah yang menurun.
• Pemindaian. USG ginjal dan CT scan ginjal serta saluran kemih (urografi) dapat melihat kemungkinan batu ginjal dan penyakit ginjal polikistik.

Pengobatan Penyakit Ginjal

Sebelum menentukan jenis pengobatan untuk penyakit ginjal, dokter akan memastikan penyebabnya terlebih dulu. Beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit ginjal adalah:

• Obat-obatan. Dalam mengobati penyakit ginjal, dokter akan memberikan salah satu obat darah tinggi dari golongan ACE inhibitors (contohnya ramipril, captopril) atau ARBs (contoh valsartan, irbesartan). Selain mengontrol tekanan darah, kelompok obat ini juga bisa mengurangi kadar protein di dalam urine. Hormon erythropoietin (EPO) juga dapat diberikan pada penderita penurunan fungsi ginjal dengan anemia. Untuk infeksi ginjal dokter akan memberikan antibiotik selama satu sampai dua minggu.
• Prosedur terapi batu ginjal. Batu ginjal yang kecil dan dengan gejala yang ringan tidak perlu tindakan khusus untuk mengatasinya. Pasien akan dianjurkan untuk minum 2 sampai 3 L per hari untuk membilas saluran kemih, diberikan obat penghilang rasa sakit seperti paracetamol atau ibuprofen, serta diberikan obat untuk melemaskan otot saluran kemih (alpha blocker) sehingga batu dapat keluar dengan cepat dan tanpa nyeri. Bila batu cukup besar dan dianggap tidak dapat keluar sendiri, dilakukan beberapa prosedur untuk mengeluarkan batu dari ginjal, yaitu:

– Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Batu dihancurkan menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga dapat dibuang bersama urine dengan menggunakan gelombang suara yang menghasilkan getaran dari mesin ESWL.
– Ureteroscopic Lithotripsy (URS). Melalui metode URS akan dimasukkan selang yang dilengkapi dengan kamera ke dalam saluran kemih melalui lubang tempat urine keluar. Kemudian, batu akan dihancurkan dengan alat khusus sehingga menjadi ukuran yang lebih kecil, agar dapat dikeluarkan lewat saluran kemih.
– Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL). PCNL dilakukan dengan mengambil batu dengan alat khusus yang dimasukkan melalui punggung untuk mencapai ginjal. Tindakan ini membutuhkan pembiusan (anestesi) umum.

• Diet. Ginjal berfungsi untuk menyaring zat limbah tubuh, beberapa mineral dan cairan. Bila terdapat penurunan fungsi ginjal, sulit bagi ginjal untuk membuang zat-zat limbah tersebut. Oleh karena itu pola diet yang sebaiknya dijalani oleh penderita penurunan fungsi ginjal adalah diet rendah protein dan beberapa mineral seperti natrium, kalium, serta fosfat. Selain itu penting untuk membatasi asupan cairan, sehingga cairan tidak menumpuk dalam tubuh.
• Terapi pengganti ginjal. Jika ginjal sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, terdapat tiga cara untuk menggantikan tugas ginjal, yaitu:
– Cuci darah atau hemodialisis. Menggunakan mesin yang dihubungkan dengan pembuluh darah untuk menyaring dan membuang zat yang tidak diperlukan oleh tubuh di dalam darah. Diperlukan akses di pembuluh darah untuk dihubungkan ke dalam mesin. Bila diperlukan untuk cuci darah segera, akan dipasang kateter di pembuluh darah vena di leher, yaitu selang seperti infus yang biasa dipasang di tangan, namun dipasang pada pembuluh darah besar di leher. Bila cuci darah dilakukan secara terencana dan untuk jangka waktu yang lama, akan dipasang akses di lengan atau tungkai dengan menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena, akses ini dinamakan cimino.
– Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD). Berbeda dengan cuci darah, CAPD menggunakan selaput pada dinding perut dalam untuk mencuci darah. Sama halnya dengan cuci darah, CAPD juga membutuhkan akses permanen seperti selang yang akan dipasang melalui dinding perut. Cairan yang digunakan untuk mencuci darah akan dimasukkan ke dalam selang tersebut dan didiamkan beberapa waktu sebelum akhirnya dibuang.
– Cangkok ginjal atau transplantasi ginjal. Dilakukan dengan memindahkan satu ginjal dari donor yang cocok dan ditanamkan ke dalam tubuh penderita. Sebelum dilakukan transplantasi, akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang baik untuk transplantasi ginjal. Dan setelah dilakukan cangkok, pasien akan minum sejumlah obat agar tubuh dapat menerima organ donor. Bila transplantasi sukses, pasien tidak perlu menjalani terapi pengganti ginjal yang lain.

Pencegahan Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal dapat ditimbulkan oleh diabetes atau hipertensi. Karena itu, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ginjal adalah dengan mengendalikan kedua penyakit tersebut. Sebab, jika kadar gula darah dan tekanan darah tidak terkontrol, maka lama-kelamaan ginjal akan rusak. Jika mengalami gejala-gejala penyakit ginjal atau memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, pasien disarankan untuk menjalani pemeriksaan secara rutin.

Pengertian Dan Pantangan Untuk Penyakit Asma

Penyakit Asma

Sampai sekarang, belum ada obat yang dapat menyembuhkan asma. Namun, perawatan dan mengikuti pantangan bagi penderita asma mungkin dapat membantu mengendalikan gejalanya.

Mengendalikan asma berarti memiliki kegiatan dan aktivitas sehari-hari yang tidak terganggu karena gangguan pernapasan ini. Dengan kata lain, Anda dapat tidur dengan tenang. Lalu mampu berolahraga dan menyelesaikan kewajiban tanpa harus menggunakan pengobatan setiap harinya.

Dengan menjalankan pantangan-pantangan ini, Anda berpotensi terhindar dari serangan asma.

Pantangan bagi penderita asma

Cara untuk mengendalikan asma adalah dengan menghindari penyebab atau pemicu asma itu sendiri yakni menggunakan pengobatan dengan baik, berkonsultasi dengan dokter dengan terus melakukan perawatan dan rutin check-up. Selain itu, Anda juga paham kapan harus mencari bantuan medis.

Berikut pantangan-pantangan yang bisa Anda lakukan agar terhindar dari serangan asma:

1. Pemicu asma

Pantangan bagi penderita asma yang pertama adalah selalu peka terhadap lingkungan sekitar terutama kondisi udara. Pemicu tertentu dapat seketika menyebabkan gejala asma, di antaranya:

• Polusi udara
• Alergi
• Udara dingin
• Virus flu atau pilek
• Sinusitis
• Asap
• Aroma atau bau-bauan

Penting untuk penderita asma mengetahui berbagai jenis asma dan segera menghindar ketika terpapar.

2. Olahraga pantangan bagi penderita asma

Berdasarkan penelitian, semua orang perlu olahraga, tak terkecuali mereka yang menderita asma. Namun, sebagian orang mengalami asma saat olahraga. Oleh karena itu olahraga menjadi pantangan bagi penderita asma.

Apa saja olahraga yang paling mudah menyebabkan asma?

• Olahraga atau aktivitas yang dilakukan dalam kondisi udara dingin atau kering, seperti futsal di malam hari dan jogging di pagi hari.
• Olahraga atau aktivitas dengan durasi lama, seperti maraton dan sepak bola.

Lalu bagaimana cara agar dapat tetap berolahraga tanpa mengalami serangan asma? Anda dapat melakukan olahraga untuk penderita asma yang memiliki risiko paling kecil dalam memicu asma seperti:

• Olahraga atau aktivitas yang mengharuskan Anda mengeluarkan energi dalam waktu singkat, seperti voli.
• Berjalan atau bersepeda santai.
• Berenang di air yang hangat atau kondisi yang lembap/tidak dingin.

Satu hal yang perlu diingat, penting untuk tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program latihan dalam bentuk apapun.

3. Merokok

Pantangan bagi penderita asma ini mungkin sudah sering Anda dengar. Jika Anda perlu diingatkan kembali, selain memperburuk asma, merokok merugikan bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Saat Anda berhenti merokok, Anda akan merasakan manfaat seperti:

• Panjang umur
• Meningkatkan kesehatan
• Penampilan Anda jadi lebih baik karena merokok menyebabkan keriput, noda di gigi dan kulit kusam
• Meningkatkan indra perasa dan penciuman
• Lebih hemat

Mencoba berhenti merokok untuk pengidap asma memang bukan hal yang mudah. Bahkan faktanya, sebanyak 75% orang yang berhenti akan kembali merokok. Sebagian besar telah mencoba setidaknya tiga kali untuk berhasil berhenti merokok.

4. Makanan

Sebenarnya tidak ada pantangan bagi penderita asma dalam hal makanan atau minuman. Namun, sebuah penelitian mengenai asma dan pola makan menunjukan, remaja dengan gizi buruk cenderung mengalami gejala asma. Mereka yang kurang mengkonsumsi buah-buahan dan makanan yang mengandung vitamin C dan E serta asam lemak Omega-3 memiliki fungsi paru-paru yang lebih buruk.

Penelitian lain menunjukkan anak-anak yang sering mengkonsumsi kacang-kacangan dan buah seperti anggur, apel dan tomat, lebih jarang mengalami gejala asma.

Kesimpulannya, belum ada yang membuktikan bahwa makanan dapat memperburuk gejala asma. Justru Anda butuh berbagai sumber jenis makanan karena dengan nutrisi yang baik, setidaknya tubuh dapat lebih baik menangkal penyakit lain yang dapat memperburuk kondisi asma.

Pantangan bagi penderita asma yang paling utama adalah menghindari pemicu asma itu sendiri dan lebih pandai dalam melakukan aktivitas serta olahraga. Jika dikontrol dengan baik, penderita asma akan menjalani kehidupan normal sama seperti orang lain pada umumnya.

Pengertian Penyakit Alzheimer

penyakit-alzheimer

Apa itu penyakit Alzheimer?

Penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif atau perlahan-lahan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, serta perubahan perilaku dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Penyakit ini membuat jaringan otak rusak seiring berjalannya waktu.

Biasanya penyakit ini dimulai dengan gejala pikun ringan seperti mudah lupa tentang kejadian-kejadian yang belum lama dilalui. Kemudian lambat laun, gejala lain bisa muncul termasuk kerap terlihat bingung, kesulitan berkomunikasi, mengalami gangguan kecemasan dan perubahan suasana hati yang dramatis, bahkan tidak mampu lagi melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain.

Rata-rata pasien Alzheimer hanya dapat hidup selama 8-10 tahun setelah terdiagnosis. Namun, ada keadaan tertentu di mana pasien bisa hidup lebih lama jika cepat terdeteksi dan terobati. Walaupun penyakit ini biasanya bukan karena faktor genetik, tapi jika ada anggota keluarga yang sakit, Anda lebih berisiko terkena penyakit Alzheimer.

Seberapa umum penyakit Alzheimer?

Alzheimer adalah penyakit yang umumnya terjadi pada usia di atas 65 tahun. Wanita lebih cenderung mengalami alzheimer dibandingkan pria. Jika ada orang muda yang mengalami penyakit ini, itu biasanya akibat kelainan atau cedera otak. Selalu konsultasi kepada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala
Apa saja tanda dan gejala penyakit Alzheimer?
Umumnya, gejala penyakit Alzheimer terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.

Tahap awal

Pada tahap awal, tanda dan ciri-ciri penyakit Alzheimer adalah:

• Sering lupa nama tempat dan benda.
• Sering lupa dengan percakapan yang belum lama dibicarakan.
• Sering menanyakan pertanyaan yang sama atau menceritakan cerita yang sama berulang kali.
• Sering merasa lebih sulit untuk membuat keputusan.
• Sering merasa bingung atau linglung.
• Sering tersesat di tempat yang sering dilewati.
• Sering salah menaruh barang di tempat yang tidak seharusnya, misalnya menaruh piring di mesin cuci.
• Kesulitan dalam merangkai kata-kata dalam berkomunikasi.
• Tidak tertarik untuk melakukan aktivitas yang dulunya sangat disukai
• Lebih senang berdiam diri dan enggan mencoba hal baru
• Sering mengalami perubahan suasana hati yang berubah-ubah

Tahap pertengahan

Pada tahap pertengahan, tanda dan ciri-ciri penyakit Alzheimer adalah:

• Sulit mengingat nama keluarga atau teman-teman terdekatnya.
• Meningkatkan rasa kebingungan dan disorientasi, misalnya jadi sering tersesat dan tidak tahu jam berapa sekarang.
• Perubahan suasana hati yang terjadi secara cepat.
• Perilaku impulsif, repetitif, atau obsesif.
• Mulai mengalami delusi dan halusinasi.
• Masalah dengan berkomunikasi.
• Kesulitan melakukan tugas tata ruang, seperti menilai jarak.

Pada tahap ini, seseorang yang mengalami penyakit Alzheimer biasanya membutuhkan dukungan orang lain untuk membantu mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya mereka mungkin butuh bantuan untuk makan, berpakaian, atau bahkan menggunakan toilet.

Tahap akhir

Di tahap terakhir, tanda dan ciri-ciri penyakit Alzheimer adalah:

• Kesulitan makan dan menelan (disfagia).
• Kesulitan untuk mengubah posisi atau bergerak tanpa bantuan.
• Penurunan atau kenaikan berat badan yang drastis.
• Sering ngompol atau buang air besar tidak disengaja.
• Kesulitan berkomunikasi.
• Perubahan emosi dan sifat.
• Tidak mampu lagi beraktivitas normal akibat hilangnya ingatan mengenai tahapan melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan, dan buang air besar.

Tingkat perkembangan gejala penyakit Alzheimer berbeda-beda pada tiap orang, tapi umumnya gejala akan berkembang secara perlahan-lahan selama beberapa tahun. Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum. Jika ada pertanyaan tentang tanda-tanda penyakit, konsultasi dengan dokter.

Kapan harus pergi ke dokter?

Jika Anda mengalami tanda atau gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, segeralah konsultasikan kepada dokter. Setiap tubuh bertindak berbeda satu sama lain. Selalu diskusi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik mengenai situasi yang Anda alami.

Penyebab

Apa penyebab penyakit Alzheimer?

Hingga saat ini, penyebab penyakit Alzheimer belum diketahui. Meski begitu, para ahli percaya bahwa bagi kebanyakan orang penyakit ini disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik, gaya hidup, serta lingkungan yang memengaruhi orang seiring berjalannya waktu.

Meski penyebab penyakit Alzheimer belum sepenuhnya dipahami, pengaruhnya terhadap otak sudah jelas. Penyakit ini dapat merusak dan menghancurkan sel otak secara perlahan. Pada penyakit Alzheimer, sel otak yang menyimpan dan memproses informasi mulai melemah dan mati. Selain itu, protein abnormal dihasilkan, yang menciptakan plak dan penumpukan di sekitar dan di dalam sel sehingga dapat mengganggu komunikasi.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko penyakit Alzheimer?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer adalah:

• Umur adalah faktor risiko terkuat, terutama setelah berusia 65 tahun.
• Riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga.
• Orang yang mengalami gangguan kognitif ringan.
• Cedera kepala.
• Gaya hidup yang tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik, merokok, hanya sedikit makan buah-buahan dan sayur-sayuran.
• Mengidap penyakit kardiovaskular, hipertensi, hiperkolesterolemia, peningkatan kadar homocysteine.
• Proses pembelajaran dan ikatan sosial. Level pendidikan formal yang rendah, pekerjaan yang membosankan, • kurangnya aktivitas yang melatih otak seperti membaca, bermain game, bermain alat musik, dan kurangnya komunikasi sosial.

Obat & Pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Apa pilihan pengobatan untuk penyakit Alzheimer?

Penyakit Alzheimer tidak dapat disembuhkan. Obat hanya bisa memperlambat perkembangan penyakit termasuk penghambat cholinesterase dan memantine. Selain itu, dokter mungkin meresepkan penenang tambahan yang membantu mengurangi kecemasan, depresi, mudah marah, dan masalah kelakuan lainnya.

Penyakit Alzheimer akan membuat orang mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga Anda tidak boleh mencoba mengubah lingkungan di sekitar pasien (rumah, pengasuh, dan sebagainya) jika tidak benar-benar penting. Anda perlu menuliskan berbagai informasi dan memasangnya di beberapa tempat di rumah untuk membantu pasien mengingat hak-hal penting.

Apa saja tes penyakit Alzheimer yang paling umum?

Dokter akan mendiagnosis Alzheimer dengan memeriksa kesehatan secara menyeluruh, riwayat pengobatan, dan kepintaran Anda. Dokter juga akan memeriksa kemampuan bernalar, koordinasi tangan-mata, keseimbangan, dan sensasi penciuman, serta tanda depresi di saat yang bersamaan.

Scan otak dan tes darah mungkin digunakan untuk mengidentifikasi penyebab lain penyakit ini, misalnya hipotiroid atau kekurangan vitamin B12.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat mengatasi penyakit Alzheimer?
Berbagai perubahan gaya hidup atau pengobatan yang dapat mengatasi penyakit Alzheimer adalah:

• Mengonsumsi makan sehat dengan gizi seimbang.
• Berhenti merokok dan batasi mengonsumsi minuman beralkohol.
• Berusaha mendapatkan berat badan yang ideal.
• Jika memungkinkan, olahraga atau lakukan aktivitas fisik secara rutin.
• Mencari orang yang dapat mendukung dan merawat Anda. Anda atau anggota keluarga mungkin memerlukan perawatan rumahan untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
• Cobalah menyederhanakan rutinitas harian dan ruang tempat tinggal.
• Nikmati kehidupan dan tidak boleh berpikir negatif tentang penyakit.

Jika ingin bertanya, konsultasi kepada dokter untuk mendapatkan solusi terbaik untuk Anda.

Mengetahui Penyakit Kanker Hati

Kanker Hati

Kanker hati adalah kanker yang bermula dari organ hati, dan bisa menyebar ke organ lain di tubuh. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel di dalam hati bermutasi dan membentuk tumor.

Hati adalah salah satu organ dalam tubuh yang memiliki banyak fungsi penting. Antara lain adalah untuk membersihkan darah dari racun dan zat berbahaya seperti alkohol dan obat-obatan, menghasilkan empedu yang membantu mencerna nutrisi bagi tubuh seperti lemak, serta mengontrol pembekuan darah.

Kanker hati adalah satu dari lima jenis kanker yang paling banyak menyebabkan kematian. Berdasarkan riset WHO tahun 2015, kanker hati bertanggung jawab atas lebih dari 700.000 kematian, dari 9 juta kematian akibat kanker.

Jenis Kanker Hati

Kanker hati terbagi menjadi kanker hati primer dan kanker hati sekunder. Kanker hati primer adalah kanker yang tumbuh atau berasal dari organ hati. Jenis kanker hati primer yang paling sering terjadi adalah hepatocellular carcinoma. Umumnya, jenis kanker ini terjadi akibat komplikasi penyakit hati, seperti sirosis atau penyakit radang hati (hepatitis).

Selain hepatocellular carcinoma, ada juga beberapa jenis kanker hati primer yang jarang terjadi, antara lain hepatoblastoma dan angiosarcoma. Hepatoblastoma adalah kanker hati yang hanya menyerang anak-anak. Sedangkan angiosarcoma adalah kanker yang tumbuh di sel-sel pembuluh darah di dalam hati. Jenis lain dari kanker hati primer yang jarang terjadi adalah cholangiocarcinoma, yaitu kanker yang berkembang di saluran empedu.

Sedangkan kanker hati sekunder adalah kanker yang tumbuh di organ lain, kemudian menyebar ke hati (metastasis). Kanker dari organ lain dapat menyebar ke hati, namun yang paling sering adalah kanker lambung, kanker usus, kanker paru-paru, dan kanker payudara.

Stadium Kanker Hati

Sama seperti jenis kanker lain, kanker hati juga terbagi dalam beberapa tahap atau stadium. Pembagian ini menjelaskan ukuran dan tingkat penyebaran kanker. Artinya, semakin tinggi stadium yang dialami, semakin luas pula penyebaran kanker pada seseorang.

– Stadium A

Ada satu tumor berukuran kurang dari 5 cm, atau terdapat 2-3 tumor dengan ukuran kurang dari 3 cm. Fungsi hati masih terbilang normal atau sangat minimal bila terganggu.

– Stadium B

Terdapat beberapa tumor besar di hati, namun belum mengganggu fungsi hati. Kondisi pasien secara umum masih baik.

– Stadium C

Kanker sudah menyebar ke pembuluh darah, kelenjar getah bening, atau organ tubuh lain. Pada stadium ini, kondisi pasien mulai memburuk, namun hati masih berfungsi.

– Stadium D

Kanker hati yang disertai dengan kondisi fisik pasien yang memburuk dan gangguan fungsi dari organ hati, tanpa memandang ukuran tumor.

Gejala dan Faktor Risiko Kanker Hati

Gejala kanker hati seringkali baru muncul pada stadium lanjut. Umumnya, gejala yang muncul meliputi:

• Nyeri di perut
• Penumpukan cairan di dalam perut
• Pembengkakan organ hati

Kanker hati dapat menyerang siapa saja, tapi lebih berisiko terjadi pada penderita penyakit hati dan HIV/AIDS, seseorang yang terpapar zat kimia, atau pada pasien yang menjalani terapi radiasi dan operasi pengangkatan kandung empedu.

Pengobatan Kanker Hati

Pengobatan kanker hati meliputi pemberian obat-obatan, terapi radiasi, hingga transplantasi hati. Pemilihan metode tersebut tergantung kepada kondisi pasien, serta stadium kanker. Beberapa pilihan pengobatan yang dapat dilakukan di antaranya:

• Bedah
• Ablasi tumor
• Embolisasi
• Radioterapi
• Terapi target

Kanker hati bisa dicegah, di antaranya dengan melakukan hubungan seks yang aman dan mengurangi konsumsi alkohol.

Penyakit Leptospirosis Atau Kencing Tikus

Penyakit Kencing Tikus

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa leptospirosis adalah anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup dalam ginjal hewan yang terinfeksi.

Leptospirosis dapat menyerang manusia melalui paparan air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira. Penyakit infeksi bakteri ini banyak terjadi di daerah yang terkena banjir. Leptospirosis juga rentan menyerang orang-orang yang biasa kontak dengan hewan tersebut.

Gejala Leptospirosis

Gejala penyakit leptospirosis, di antaranya adalah:

• Mual
• Muntah
• Meriang
• Sakit kepala
• Nyeri otot
• Sakit perut
• Diare
• Kulit atau area putih pada mata yang menguning
• Demam
• Ruam
• Konjungtivitis

Leptospirosis biasanya menunjukkan gejala secara mendadak dalam waktu 2 minggu setelah penderita terinfeksi. Pada sebagian kasus, gejala baru terlihat setelah 1 bulan.

Pasca kemunculan gejala, penderita leptospirosis biasanya akan pulih dalam waktu 1 minggu setelah sistem imunitas dapat mengalahkan infeksi. Namun sebagian penderita akan mengalami tahap kedua penyakit leptospirosis yang dikenal sebagai penyakit Weil. Gejala penyakit Weil ini ditandai dengan dada terasa nyeri, serta kaki dan tangan yang bengkak.

Selama terserang tahap kedua penyakit leptospirosis ini, bakteri dapat menyerang organ lain sehingga kondisi menjadi lebih parah. Keadaan tersebut ditunjukkan dengan :

• Gangguan pada paru-paru dengan gejala batuk, napas pendek, dan batuk yang mengeluarkan darah.
• Gangguan pada ginjal yang dapat berujung dengan kondisi gagal ginjal.
• Gangguan pada otak yang ditunjukkan dengan gejala meningitis.
• Gangguan pada jantung yang memicu peradangan jantung (miokarditis) atau gagal jantung.

Penyebab dan Faktor Risiko Leptospirosis
Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang dibawa oleh hewan tertentu. Leptospira dapat hidup selama beberapa tahun pada ginjal hewan yang terinfeksi bakteri ini, lalu dikeluarkan melalui urine hewan tersebut sehingga dapat mengkontaminasi air atau tanah di lingkungan. Bakteri yang mengontaminasi air dan tanah tersebut dapat bertahan dalam hitungan bulan atau tahun. Sementara hewan yang terkena infeksi ini dapat terus menyebarkan bakteri meski tidak menunjukkan gejala penyakit ini.

Penularan pada manusia terjadi saat adanya kontak langsung antara manusia dengan urine hewan yang terinfeksi, atau dengan air, tanah, dan makanan yang telah terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Bakteri ini memasuki tubuh melalui kulit pada luka terbuka, kulit yang kering, atau lapisan lendir tubuh (seperti mata, hidung, atau mulut). Biasanya manusia dapat terserang leptospirosis saat terserang banjir di mana air tersebut sudah terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi bakteri lepstospira. Meski demikian, bakteri ini tidak bisa disebarkan antarmanusia, meski penularan masih dapat terjadi melalui air susu ibu atau hubungan seksual. Setelah memasuki tubuh, bakteri ini juga dapat menyebar melalui aliran darah dan sistem getah bening pada organ-organ dalam tubuh.

Leptospirosis banyak ditemui di area tropis dan subtropis, di mana udaranya panas dan lembap yang membuat bakteri ini dapat bertahan hidup lebih lama, seperti Afrika, Amerika Selatan, Karibia, serta Asia Tengah dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Risiko penularan juga ditemui pada manusia yang berkegiatan di luar ruangan atau sering melakukan kontak dengan hewan. Risiko mengalami lepstospirosis juga dapat ditemui pada orang yang berenang, atau mengggunakan rakit dan perahu di sungai atau danau yang tercemar bakteri leptospira, dan juga orang yang berkemah di sekitar sungai atau danau tersebut. Beberapa jenis pekerjaan yang memiliki risiko lebih besar untuk menderita leptospirosis adalah:

• Petani
• Peternak atau pengurus hewan
• Personel militer
• Pekerja di pemotongan hewan
• Pembersih saluran pembuangan atau selokan
• Pekerja tambang

Diagnosis Leptospirosis

Proses penegakan diagnosis leptospirosis dapat dilakukan melalui gejala, riwayat penyakit pasien, serta pemeriksaan fisik. Selain itu, beberapa tes penunjang juga dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosis leptospirosis dan mengetahui tingkat keparahan yang dialami pasien. Tes penunjang tersebut, antara lain:

• Tes urine, untuk melihat keberadaan bakteri leptospira dalam urine.
• Tes darah, untuk melihat adanya bakteri dalam aliran darah, dan antibodi dalam tubuh. Pemeriksaan antibodi dalam darah perlu diulang lagi dalam waktu 1 minggu untuk memastikan hasilnya, karena hasil positif bisa saja ditunjukkan dari infeksi lain yang terjadi sebelumnya.
• Pemeriksaan fungsi ginjal, untuk melihat kondisi ginjal dan infeksi bakteri ini pada ginjal.
• Pemeriksaan fungsi hati.
• Foto Rontgen paru, untuk melihat apakah infeksi sudah menyebar hingga ke organ paru-paru.

Pengobatan Leptospirosis
Infeksi leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik untuk membasmi bakteri dan mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu akibat kondisi ini. Obat antibiotik yang umumnya digunakan untuk leptospirosis adalah penisilin dan doksisiklin. Untuk kasus yang ringan, pasien dapat diberikan obat antibiotik tablet. Antibiotik biasanya diberikan selama 1 minggu dan harus dikonsumsi hingga obat habis untuk memastikan infeksi sudah bersih. Dalam waktu beberapa hari setelah pengobatan, kondisi penderita biasanya sudah pulih.

Selain antibiotik, obat pereda nyeri, seperti paracetamol juga dapat diberikan untuk mengatasi gejala awal leptospirosis, seperti demam, sakit kepala, atau nyeri otot.

Jika penyakit leptirospirosis berkembang lebih parah atau sering disebut penyakit Weil, maka pasien perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Pada kondisi ini, antibiotik akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah vena dalam tubuh. Saat infeksi telah menyerang organ tubuh, maka beberapa penanganan tambahan diperlukan untuk menjaga sekaligus mengembalikan fungsi tubuh, seperti:

• Infus cairan, untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada penderita yang tidak bisa minum banyak air.
• Pemantauan terhadap kerja jantung.
• Pemakaian alat bantu pernapasan jika terjadi gangguan pernapasan pada penderita.
• Dialisis atau cuci darah, untuk membantu fungsi ginjal.

Kemungkinan sembuh penyakit Weil tergantung dari organ mana yang ikut terserang infeksi dan tingkat keparahannya. Kematian pada pasien leptospirosis parah yang terjadi biasanya disebabkan oleh komplikasi gangguan paru, ganguan ginjal, atau perdarahan dalam tubuh.

Pencegahan Leptospirosis

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkit penyakit leptospirosis, di antaranya:

• Hindari air yang sudah terkontaminasi dan pastikan kebersihan air sebelum mengonsumsinya.
• Jauhi binatang yang rentan terinfeksi bakteri, terutama tikus liar yang paling banyak membawa bakteri leptospira.
• Bersikap cermat terhadap lingkungan, terutama saat bepergian.
• Gunakan disinfektan jika perlu.
• Gunakan pakaian yang melindungi tubuh dari kontak langsung dengan hewan pembawa bakteri leptospira, serta bersihkan dan tutup luka dengan penutup tahan air agar tidak terpapar air yang terkontaminasi bakteri.
• Mandi secepatnya setelah berolahraga dalam air.
• Jaga kebersihan dan cuci tangan setelah melakukan kontak dengan hewan atau sebelum makan.
• Vaksinasi hewan piaraan atau ternak supaya terhindar dari leptospirosis.